
Kenzi menatap sketsa yang ia buat disebuah kertas. Lalu memperhatikan sekitaran
ruang kerjanya. Puluhan remasan kertas berhamburan. Sudah dua jam ia berkutat
dengan kertas-kertas gambar itu tapi tak ada hasil yang membuatnya merasa puas.
Lagi dan lagi ia menggambar lalu ia buang.
Hal
seperti ini tidak hanya terjadi sekali dua kali tapi berkali-kali, sangat
sering. Ia sering kali tidak merasa puas dengan hasil gambarnya sendiri. Kenzi
adalah seorang arsitek bidang hunian tapi ia juga mahir dalam bidang komersial
dan landscape(pertamanan).
Merasa
lelah, Kenzi berhenti. Ia menyandarkan badannya kesandaran kursi. Matanya ia
tutup, berharap hal itu berusaha merefresh otaknya.
Tiba-tiba
terdengar isak tangis seseorang. Kenzi menolehkan kepalanya. Ia melihat Arin
dirungan berbeda disampingnya, sedang menangis sambil membaca novel. Karena
dindingnya yang terbuat dari kaca maka dari itu ia bisa melihat apapun yang ada
disana, ruang baca, tapi siapa pun yang ada dirungan baca itu tidak akan bisa
melihat Kenzi dan seisi dalam ruang kerjanya.
Kenzi
tertawa pelan sambil berdiri dari kursinya. Ia keluar dan duduk disamping Arin.
Arin sama sekali tak menghiraukannya dan masih menangis tapi masih melanjutkan
bacaannya. Kenzi mendengus lalu merebut paksa novel yang dibaca Arin membuat
gadis itu memberengut.
"Aku
belum selesai." Rengek Arin, berusaha merebut kembali novelnya.
Kenzi
berusaha menghindarkan novel itu dari jangkauan tangan Arin, ia membaca sekilas
dihalaman terakhir yang Arin baca. Ia mendengus lagi. "Kenapa perempuan
sangat suka bacaan seperti ini sih?"
"Ih,
kembalikan!" Arin masih berusaha mengambil kembali novelnya.
Kenzi
mendorong dahi Arin dengan telunjuknya agar kembali duduk ditempatnya semula.
"Sudah malam, bacaannya dilanjutkan besok saja."
Arin
menengkurapkan tubunnya asal diatas karpet yang mereka duduki. "Ngga
mau!" Kata Arin, ia tanpa sadar berucap dengan nada manja.
Kenzi
memukul-mukul pelan betis Arin. "Jangan biasanya tidur larut malam! Tidak
baik."
"Kalo
udah mau tidur ya tidur aja sana, duluan, aku belum ngantuk." Sungut Arin.
"Masih
ada pekerjaan harus aku selesaikan segera. Kamu tidur duluan ya? Tidak baik
begadang terlalu sering."
Arin
bangkit. "Emang pekerjaanmu apa sih?" Jujur sudah lama ia ingin
menanyakan perihal pekerjaan Kenzi tapi ia sering lupa.
"Pekerjaanku
merupakan sesuatu yang rumit. Tidak semua orang bisa mengerjakannya."
Jawab Kenzi berbelit.
Arin
mendengus kesal. "Kalo mau belajar pasti bisa lah. Jawab jujur! Apa
pekerjaanmu?" Ia menatap Kenzi tajam. "Oh, jangan-jangan kamu pembuat
bom ya?" Tuduhnya.
Kenzi
terkekeh seraya mengacak rambut Arin. "Jangan su'udzon! Sudah, pergi tidur
sana." Kenzi beranjak berdiri hendak kembali kedalam ruang kerjanya.
Cepat
Arin menarik salah satu tangan Kenzi. Ia ikut berdiri juga. "Dari pada
suntuk kerja sendirian, aku temani ya didalam sana?" Bujuknya, ia sangat
ingin tahu apa sebenarnya pekerjaan Kenzi. Arin kerap kali berpikir mungkin
Kenzi pegawai kantoran yang posisinya sudah cukup tinggi kisaran manager. Tapi
beberapa kali Arin melihat Kenzi tidak pergi bekerja pada hari dan jamnnya
pekerja kantoran. Atau dia bosnya? Cih, Arin sudah bosan berpikiran seperti itu
tentang Kenzi.
"Eeeh
jangan!" Kata Kenzi panik membuat Arin memicingkan kedua matanya.
"Jangan-jangan
bener ya dugaanku? Iya 'kan?"
"Mana
ada orang buat bom ditempat seperti ini?"
"Ya
kali aja didalam sana buat rancangannya, terus pabriknya ditempat lain."
"Jangan
ngaco kamu!"
"Makanya,
aku ikut kedalem, temani kamu kerja jadi ngga suntuk sendirian." Rayu Arin
lagi sambil mengoyang-goyangkan lengan Kenzi.
"Tidak.
Sekali tidak ya tidak. Ruangan ini terlarang untuk kamu." Kenzi masih pada
pendiriannya yang tidak mengijinkan Arin masuk kedalam ruang kerjanya.
Arin
jadi semakin penasaran apa isi ruangan itu sampai otaknya kembali berpikir yang
macam-macam. "Kenapa? Didalam banyak poster bokep ya?" Tuduhnya lagi.
Kenzi
menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan segala pikiran buruk
Arin. "Tidak ada hal aneh didalam sana." Katanya sambil menggaruk
hidungnya yang tiba-tiba terasa gatal. "Kalo kamu memang mau liat
pekerjaanku, duduk saja disana!" Kenzi menunjuk karpet ditengah ruangan.
"Duduk manis disana dan tunggu aku mengambil pekerjaanku. Jangan ikut
masuk!"
Akhirnya
ekspresi Arin sedikit berubah. Sementara Arin berbalik menuju karpet, Kenzi
cepat masuk kedalam ruang kerjanya. Tidak lupa dikunci terlebih dahulu agar
Arin tidak masuk saat ia tengah membereskan pekerjaannya yang akan ia bawa
keluar.
Begitu
ia keluar, tidak ada Arin disana. Mungkin kekamar mandi, pikir Kenzi. Kenzi
meletakkan gulungan-gulungan kertas dan lainnya yang ia bawa diatas karpet. Ia
mengambil meja kecil yang tingginya sampai lututnya didekat rak buku. Lalu
menggelar salah satu gulungan kertas itu diatas meja itu.
"Oooh
tukang gambar bangunan toh." Celetuk Arin tiba-tiba sudah ada
disampingnya. Ia datang membaca nampan berisi secangkir teh manis hangat
untuknya dan secangkir kopi hitam panas untuk Kenzi, tak lupa dengan cemilannya
sekalian. "Bilang kek dari tadi. Jadi tukang gambar saja belagu pake disembunyiin."
Gerutunya.
Kenzi
terkekeh pelan. Ia menerima sodoran cangkir kopi dari Arin. "Terima
kasih." Gumamnya sebelum menyeruput kopi hitam itu. "Kamu tambah
pintar ya. Manis kopinya sudah pas, tidak kurang manis atau kemanisan seperti
"Iya
dong." Jawab Arin. Matanya fokus mengamati hasil gambar Kenzi. Ia tidak
menyadari Kenzi yang mencicipi teh manisnya. "Akh.." pekiknya
tiba-tiba. Ia melotot tajam pada Kenzi yang baru saja memukul tangan besarnya
pada dahi Arin.
Kenzi
balas melotot. "Sudah dibilang kalo makan atau minum jangan terlalu manis.
Tehmu ini kemanisan tahu." Sekali lagi Kenzi memukul dahi Arin.
Arin
memberengut, "Ih biarin aja kali, sekali-kali." Jawabnnya membuat
Kenzi kembali melotot dan hendak memukul dahinya lagi. Cepat ia menutup dahinya
dengan telapak tangannya. Akhirnya, hidungnyalah yang menjadi sasaran cubitan
Kenzi.
"Jangan
begitu! Kamu itu sudah manis, jangan kamu tambah lagi dengan minum dan makan
yang terlalu manis." Kata Kenzi dengan suara lembut.
"Duh..
duuhh yang ngegombal." Cibir Arin. Tapi walaupun begitu wajahnya tampak
merona.
"Kamu
ini." Kenzi memperbaiki posisi duduknya menghadap meja. "Sudah, ngga
jadi kerja kalo kamu ganggu terus."
"Dih,"
Setelah
Kenzi fokus pada pekerjaannya, Arin pun ikut terdiam. Mata Arin juga fokus pada
gambar dihadapannya. Tapi sesekali matanya memperhatikan Kenzi yang serius.
Sesekali juga ia menanyakan sesuatu yang tidak dimengertinya dari gambar itu.
Sembari
mengamati Kenzi menggambar, Arin memakan brownis yang dibawanya. Ia juga
menyuapkan brownis itu ke mulut Kenzi, Kenzi tidak menolak suapan Arin
sementara fokusnya masih pada pekerjaannya. Arin terkikik geli melihat ada
coklat yang menempel didekat bibir Kenzi. Dengan pelan dan hati-hati, masih
menjaga gerakannya agar tidak mengganggu konsentrasi Kenzi, Arin membersihkan
sekitar bibir Kenzi dengan tisu.
Menit
demi menit berlalu, sekarang sudah pukul 11.43 p.m.. Mata Arin sudah tidak
tertarik lagi pada gambar buatan Kenzi. Sekarang ia tengah memperhatikan paras
tampan Kenzi yang sedang fokus dan berhias kacamata. Arin tersenyum kecil, ia
sudah pernah bilang bukan kalau ia suka ekspresi Kenzi yang tengah serius. Dan
sekarang ia tengah menikmati pemandangan itu.
Selang
beberapa menit kemudian ia mulai mengantuk. Kepalanya ia tundukkan, meski
pandangannya sudah berbayang tapi ia masih bisa melihat kaki Kenzi dan telapak
kakinya berhadapan. Tiba-tiba rasa kantuknya hilang karena sadar akan perbedaan
ukuran telapak kaki mereka. Selama ini ia sudah yakin kalau kaki Kenzi sangat
besar karena melihat ukuran sepatu Kenzi yang juga besar. Tapi baru sekali ini
ia memperhatikan perbandingan ukuran kaki mereka. Hal itu membuat Arin tertawa.
"Kenapa?"
Tanya Kenzi yang heran dengan tawa Arin yang tiba-tiba padahal tadi ia sudah
melihat gadis itu mulai mengantuk.
"Lihat!"
Arin merapatkan telapak kaki mereka lalu ia tertawa lagi. Melihat tawa Arin
yang begitu ceria, Kenzi juga ikut tertawa.
"Kakiku
jadi keliatan kecil banget kalo dideketin dengan kakimu, kak." Katanya
masih dengan kikikan pelan. "Entah kakiku yang kekecilan atau kakimu yang
terlalu besar, kak."
"Ukuran
kaki itu seimbang dengan besar dan tinggi badan. Kakimu kecil karena badanmu
kecil, kalo badanmu kecil terus kakimu besar 'kan lucu." Kenzi memberi
sedikit penjelsana.
Arin
menampilkan cengirannya. Lalu matanya menangkap tangan Kenzi yang memegang
pensil. Diambilnya tangan itu lalu disatukan dengan tangannya. Lalu ia tertawa
lagi karena ukuran tangan mereka yang ukurannya juga jauh berbeda.
"Aku
baru sadar loh, hahahha.." Arin terus tertawa membuat Kenzi menyerngitkan
keningnya heran. Ia belum pernah melihat Arin yang tertawa seperti ini apalagi
hanya karena hal yang menurutnya sama sekali tidak lucu.
Tiba-tiba
kepala Arin jatuh kelengan Kenzi. Perlahan tawanya meredah sebelum benar-benar
hilang. Lalu yang terdengar hanyalah deru nafas Arin yang teratur.
"Hah?
Tidur?" Kenzi tertawa pelan. Ia menggelengkan kepalanya. Ia tidak
menyangka Arin akan tertidur setelah tertawa lepas.
***
Arin
baru selesai pakai baju saat ponsel Kenzi yang berada diatas nakas berdering.
Ia ingin turun dan memberikan ponsel itu pada sang pemilik tapi melihat id
caller-nya, ia mengurungkan niatnya dan duduk manis ditepi ranjang.
"Kak
Iyaaaaannn..." pekiknya girang saat mendengar suara Ryan yang berucap
hallo disebrang sana.
"Eh,
Arin?" Tanya Ryan terdengar heran.
"Iya
ini aku, Arin." Jawab berubah ketus.
Terdengar
suara Ryan yang tertawa pelan. "Kenapa?"
""Kenapa?""
Arin mengulang ucapan Ryan. "Sombong banget sih sekarang. Kak Iyan juga
kemana aja selama ini? Arin kangen tahu." Rajuknya dengan nada manja.
Ryan
terkekeh lagi. "Kak Iyan juga kangen Arin ini."
"Kalo
kangen temuin dong... eehh," tiba-tiba sesorang merebut ponsel itu dengan
kasar. Arin menoleh pada Kenzi yang menatapnya tajam.
"Kak,
pinjam dulu dong! Itu kak Iya--"
"Jangan
lancang Arin!" Bentak Kenzi marah lalu keluar sambil membanting pintu.
Arin
tergugu ditempatnya. Ia sangat syok dengan bentakan Kenzi. Beberapa detik Arin
seperti orang linglung. Ia tak menyangka Kenzi akan semarah itu padanya. Selama
hampir satu bulan tinggal bersama Kenzi, ini kali pertama Kenzi membentaknya
begitu keras.
Jantung
Arin berpacu begitu cepat. Ada yang terasa sakit dibagian dadanya sampai
membuat air matanya menetes perlahan.
"Kenapa
kak Ken sangat marah?" Tanya Arin entah pada siapa sambil memegang
dadanya.