(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
8



 


 


Kenzi menatap sketsa yang ia buat disebuah kertas. Lalu memperhatikan sekitaran


ruang kerjanya. Puluhan remasan kertas berhamburan. Sudah dua jam ia berkutat


dengan kertas-kertas gambar itu tapi tak ada hasil yang membuatnya merasa puas.


Lagi dan lagi ia menggambar lalu ia buang.


Hal


seperti ini tidak hanya terjadi sekali dua kali tapi berkali-kali, sangat


sering. Ia sering kali tidak merasa puas dengan hasil gambarnya sendiri. Kenzi


adalah seorang arsitek bidang hunian tapi ia juga mahir dalam bidang komersial


dan landscape(pertamanan).


Merasa


lelah, Kenzi berhenti. Ia menyandarkan badannya kesandaran kursi. Matanya ia


tutup, berharap hal itu berusaha merefresh otaknya.


Tiba-tiba


terdengar isak tangis seseorang. Kenzi menolehkan kepalanya. Ia melihat Arin


dirungan berbeda disampingnya, sedang menangis sambil membaca novel. Karena


dindingnya yang terbuat dari kaca maka dari itu ia bisa melihat apapun yang ada


disana, ruang baca, tapi siapa pun yang ada dirungan baca itu tidak akan bisa


melihat Kenzi dan seisi dalam ruang kerjanya.


Kenzi


tertawa pelan sambil berdiri dari kursinya. Ia keluar dan duduk disamping Arin.


Arin sama sekali tak menghiraukannya dan masih menangis tapi masih melanjutkan


bacaannya. Kenzi mendengus lalu merebut paksa novel yang dibaca Arin membuat


gadis itu memberengut.


"Aku


belum selesai." Rengek Arin, berusaha merebut kembali novelnya.


Kenzi


berusaha menghindarkan novel itu dari jangkauan tangan Arin, ia membaca sekilas


dihalaman terakhir yang Arin baca. Ia mendengus lagi. "Kenapa perempuan


sangat suka bacaan seperti ini sih?"


"Ih,


kembalikan!" Arin masih berusaha mengambil kembali novelnya.


Kenzi


mendorong dahi Arin dengan telunjuknya agar kembali duduk ditempatnya semula.


"Sudah malam, bacaannya dilanjutkan besok saja."


Arin


menengkurapkan tubunnya asal diatas karpet yang mereka duduki. "Ngga


mau!" Kata Arin, ia tanpa sadar berucap dengan nada manja.


Kenzi


memukul-mukul pelan betis Arin. "Jangan biasanya tidur larut malam! Tidak


baik."


"Kalo


udah mau tidur ya tidur aja sana, duluan, aku belum ngantuk." Sungut Arin.


"Masih


ada pekerjaan harus aku selesaikan segera. Kamu tidur duluan ya? Tidak baik


begadang terlalu sering."


Arin


bangkit. "Emang pekerjaanmu apa sih?" Jujur sudah lama ia ingin


menanyakan perihal pekerjaan Kenzi tapi ia sering lupa.


"Pekerjaanku


merupakan sesuatu yang rumit. Tidak semua orang bisa mengerjakannya."


Jawab Kenzi berbelit.


Arin


mendengus kesal. "Kalo mau belajar pasti bisa lah. Jawab jujur! Apa


pekerjaanmu?" Ia menatap Kenzi tajam. "Oh, jangan-jangan kamu pembuat


bom ya?" Tuduhnya.


Kenzi


terkekeh seraya mengacak rambut Arin. "Jangan su'udzon! Sudah, pergi tidur


sana." Kenzi beranjak berdiri hendak kembali kedalam ruang kerjanya.


Cepat


Arin menarik salah satu tangan Kenzi. Ia ikut berdiri juga. "Dari pada


suntuk kerja sendirian, aku temani ya didalam sana?" Bujuknya, ia sangat


ingin tahu apa sebenarnya pekerjaan Kenzi. Arin kerap kali berpikir mungkin


Kenzi pegawai kantoran yang posisinya sudah cukup tinggi kisaran manager. Tapi


beberapa kali Arin melihat Kenzi tidak pergi bekerja pada hari dan jamnnya


pekerja kantoran. Atau dia bosnya? Cih, Arin sudah bosan berpikiran seperti itu


tentang Kenzi.


"Eeeh


jangan!" Kata Kenzi panik membuat Arin memicingkan kedua matanya.


"Jangan-jangan


bener ya dugaanku? Iya 'kan?"


"Mana


ada orang buat bom ditempat seperti ini?"


"Ya


kali aja didalam sana buat rancangannya, terus pabriknya ditempat lain."


"Jangan


ngaco kamu!"


"Makanya,


aku ikut kedalem, temani kamu kerja jadi ngga suntuk sendirian." Rayu Arin


lagi sambil mengoyang-goyangkan lengan Kenzi.


"Tidak.


Sekali tidak ya tidak. Ruangan ini terlarang untuk kamu." Kenzi masih pada


pendiriannya yang tidak mengijinkan Arin masuk kedalam ruang kerjanya.


Arin


jadi semakin penasaran apa isi ruangan itu sampai otaknya kembali berpikir yang


macam-macam. "Kenapa? Didalam banyak poster bokep ya?" Tuduhnya lagi.


Kenzi


menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan segala pikiran buruk


Arin. "Tidak ada hal aneh didalam sana." Katanya sambil menggaruk


hidungnya yang tiba-tiba terasa gatal. "Kalo kamu memang mau liat


pekerjaanku, duduk saja disana!" Kenzi menunjuk karpet ditengah ruangan.


"Duduk manis disana dan tunggu aku mengambil pekerjaanku. Jangan ikut


masuk!"


Akhirnya


ekspresi Arin sedikit berubah. Sementara Arin berbalik menuju karpet, Kenzi


cepat masuk kedalam ruang kerjanya. Tidak lupa dikunci terlebih dahulu agar


Arin tidak masuk saat ia tengah membereskan pekerjaannya yang akan ia bawa


keluar.


Begitu


ia keluar, tidak ada Arin disana. Mungkin kekamar mandi, pikir Kenzi. Kenzi


meletakkan gulungan-gulungan kertas dan lainnya yang ia bawa diatas karpet. Ia


mengambil meja kecil yang tingginya sampai lututnya didekat rak buku. Lalu


menggelar salah satu gulungan kertas itu diatas meja itu.


"Oooh


tukang gambar bangunan toh." Celetuk Arin tiba-tiba sudah ada


disampingnya. Ia datang membaca nampan berisi secangkir teh manis hangat


untuknya dan secangkir kopi hitam panas untuk Kenzi, tak lupa dengan cemilannya


sekalian. "Bilang kek dari tadi. Jadi tukang gambar saja belagu pake disembunyiin."


Gerutunya.


Kenzi


terkekeh pelan. Ia menerima sodoran cangkir kopi dari Arin. "Terima


kasih." Gumamnya sebelum menyeruput kopi hitam itu. "Kamu tambah


pintar ya. Manis kopinya sudah pas, tidak kurang manis atau kemanisan seperti


"Iya


dong." Jawab Arin. Matanya fokus mengamati hasil gambar Kenzi. Ia tidak


menyadari Kenzi yang mencicipi teh manisnya. "Akh.." pekiknya


tiba-tiba. Ia melotot tajam pada Kenzi yang baru saja memukul tangan besarnya


pada dahi Arin.


Kenzi


balas melotot. "Sudah dibilang kalo makan atau minum jangan terlalu manis.


Tehmu ini kemanisan tahu." Sekali lagi Kenzi memukul dahi Arin.


Arin


memberengut, "Ih biarin aja kali, sekali-kali." Jawabnnya membuat


Kenzi kembali melotot dan hendak memukul dahinya lagi. Cepat ia menutup dahinya


dengan telapak tangannya. Akhirnya, hidungnyalah yang menjadi sasaran cubitan


Kenzi.


"Jangan


begitu! Kamu itu sudah manis, jangan kamu tambah lagi dengan minum dan makan


yang terlalu manis." Kata Kenzi dengan suara lembut.


"Duh..


duuhh yang ngegombal." Cibir Arin. Tapi walaupun begitu wajahnya tampak


merona.


"Kamu


ini." Kenzi memperbaiki posisi duduknya menghadap meja. "Sudah, ngga


jadi kerja kalo kamu ganggu terus."


"Dih,"


Setelah


Kenzi fokus pada pekerjaannya, Arin pun ikut terdiam. Mata Arin juga fokus pada


gambar dihadapannya. Tapi sesekali matanya memperhatikan Kenzi yang serius.


Sesekali juga ia menanyakan sesuatu yang tidak dimengertinya dari gambar itu.


Sembari


mengamati Kenzi menggambar, Arin memakan brownis yang dibawanya. Ia juga


menyuapkan brownis itu ke mulut Kenzi, Kenzi tidak menolak suapan Arin


sementara fokusnya masih pada pekerjaannya. Arin terkikik geli melihat ada


coklat yang menempel didekat bibir Kenzi. Dengan pelan dan hati-hati, masih


menjaga gerakannya agar tidak mengganggu konsentrasi Kenzi, Arin membersihkan


sekitar bibir Kenzi dengan tisu.


Menit


demi menit berlalu, sekarang sudah pukul 11.43 p.m.. Mata Arin sudah tidak


tertarik lagi pada gambar buatan Kenzi. Sekarang ia tengah memperhatikan paras


tampan Kenzi yang sedang fokus dan berhias kacamata. Arin tersenyum kecil, ia


sudah pernah bilang bukan kalau ia suka ekspresi Kenzi yang tengah serius. Dan


sekarang ia tengah menikmati pemandangan itu.


Selang


beberapa menit kemudian ia mulai mengantuk. Kepalanya ia tundukkan, meski


pandangannya sudah berbayang tapi ia masih bisa melihat kaki Kenzi dan telapak


kakinya berhadapan. Tiba-tiba rasa kantuknya hilang karena sadar akan perbedaan


ukuran telapak kaki mereka. Selama ini ia sudah yakin kalau kaki Kenzi sangat


besar karena melihat ukuran sepatu Kenzi yang juga besar. Tapi baru sekali ini


ia memperhatikan perbandingan ukuran kaki mereka. Hal itu membuat Arin tertawa.


"Kenapa?"


Tanya Kenzi yang heran dengan tawa Arin yang tiba-tiba padahal tadi ia sudah


melihat gadis itu mulai mengantuk.


"Lihat!"


Arin merapatkan telapak kaki mereka lalu ia tertawa lagi. Melihat tawa Arin


yang begitu ceria, Kenzi juga ikut tertawa.


"Kakiku


jadi keliatan kecil banget kalo dideketin dengan kakimu, kak." Katanya


masih dengan kikikan pelan. "Entah kakiku yang kekecilan atau kakimu yang


terlalu besar, kak."


"Ukuran


kaki itu seimbang dengan besar dan tinggi badan. Kakimu kecil karena badanmu


kecil, kalo badanmu kecil terus kakimu besar 'kan lucu." Kenzi memberi


sedikit penjelsana.


Arin


menampilkan cengirannya. Lalu matanya menangkap tangan Kenzi yang memegang


pensil. Diambilnya tangan itu lalu disatukan dengan tangannya. Lalu ia tertawa


lagi karena ukuran tangan mereka yang ukurannya juga jauh berbeda.


"Aku


baru sadar loh, hahahha.." Arin terus tertawa membuat Kenzi menyerngitkan


keningnya heran. Ia belum pernah melihat Arin yang tertawa seperti ini apalagi


hanya karena hal yang menurutnya sama sekali tidak lucu.


Tiba-tiba


kepala Arin jatuh kelengan Kenzi. Perlahan tawanya meredah sebelum benar-benar


hilang. Lalu yang terdengar hanyalah deru nafas Arin yang teratur.


"Hah?


Tidur?" Kenzi tertawa pelan. Ia menggelengkan kepalanya. Ia tidak


menyangka Arin akan tertidur setelah tertawa lepas.


***


Arin


baru selesai pakai baju saat ponsel Kenzi yang berada diatas nakas berdering.


Ia ingin turun dan memberikan ponsel itu pada sang pemilik tapi melihat id


caller-nya, ia mengurungkan niatnya dan duduk manis ditepi ranjang.


"Kak


Iyaaaaannn..." pekiknya girang saat mendengar suara Ryan yang berucap


hallo disebrang sana.


"Eh,


Arin?" Tanya Ryan terdengar heran.


"Iya


ini aku, Arin." Jawab berubah ketus.


Terdengar


suara Ryan yang tertawa pelan. "Kenapa?"


""Kenapa?""


Arin mengulang ucapan Ryan. "Sombong banget sih sekarang. Kak Iyan juga


kemana aja selama ini? Arin kangen tahu." Rajuknya dengan nada manja.


Ryan


terkekeh lagi. "Kak Iyan juga kangen Arin ini."


"Kalo


kangen temuin dong... eehh," tiba-tiba sesorang merebut ponsel itu dengan


kasar. Arin menoleh pada Kenzi yang menatapnya tajam.


"Kak,


pinjam dulu dong! Itu kak Iya--"


"Jangan


lancang Arin!" Bentak Kenzi marah lalu keluar sambil membanting pintu.


Arin


tergugu ditempatnya. Ia sangat syok dengan bentakan Kenzi. Beberapa detik Arin


seperti orang linglung. Ia tak menyangka Kenzi akan semarah itu padanya. Selama


hampir satu bulan tinggal bersama Kenzi, ini kali pertama Kenzi membentaknya


begitu keras.


Jantung


Arin berpacu begitu cepat. Ada yang terasa sakit dibagian dadanya sampai


membuat air matanya menetes perlahan.


"Kenapa


kak Ken sangat marah?" Tanya Arin entah pada siapa sambil memegang


dadanya.