(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
44



...


Arin terperangah melihat Kenzi yang keluar dari kamar mandi dengan wajah basah sampai dengan rambutnya. Bahkan tangannya sampai siku juga basah.


Kak Ken berwudu? Tanya batinnya tak percaya. Sedetik kemudian secercah senyum hadir di bibirnya. Arin tahu itu cara Kenzi menenangkan dan menyegarkan kepalanya yang panas.


Lalu tiba-tiba terdengar suara benda yang di tendang pelan dari arah kaki Kenzi. Kenzi menunduk dan mengangkat sebuah kotak hitam. Kenzi lantas menjauhkan kepala saat hidungnya mencium bau busuk dari kotak itu. Kenzi membawa kotak itu ke atas meja guna melihat isinya.


Kenzi tak sadar kalau Arin yang memperhatikan dengan tubuh gemetar dan dengan jantung bergemuruh cepat. Ia mengerutuki kelalaiannya membuang kotak itu. Kotak sebelum-sebelumnya selalu ia buang pagi harinya tanpa melihat isinya. Dan kotak yang semalam ia lupa membuangnya, ia hanya  memindahkan kotak itu ke lantai.


Arin melihat Kenzi sedikit menjauh setelah membuka kotak itu. Arin tidak bisa melihat karena Kenzi membelakanginya saat ini, kalaupun juga bisa melihat, Arin pasti akan segera memalingkan wajah karena tidak sanggup melihat isi kotak.


"Kamu menunggu Kenzi atau menungguku Arin jal*ng?"


Arin membeku ditempatnya. Kenzi membaca surat dalam kotak itu, tidak keras tapi bisa di dengar oleh Arin. Arin bisa melihat tubuh tinggi Kenzi juga menegang saat membaca tulisan itu.


"Sudah kukatakan kalau Kenzi-ku tidak akan datang, tapi sepertinya kamu menungguku. Menungguku dengan sabar yang akan datang kembali untuk melenyapkanmu, bukan? Baiklah ini terakhir kalinya aku hanya menyapa, berikutnya kamu harus siap. Lalu setelah itu membusuklah seperti bakai tikus ini sampai habis dilahap ulat-ulat kecil tanpa diketahui."


Kenzi berdiri tepat dihadapan Arin yang masih duduk di tepi tempat tidur sejak tadi. Kenzi mengangkat wajah Arin agar menghadapnya. "Siapa yang melakukan ini?"


Arin berusaha menunduk seraya menggeleng. Aksi usaha menunduknya ia lakukan karena takut melihat tatapan mata Kenzi yang masih tajam. "Yang aku tahu dia laki-laki. Itu pun baru kemarin aku tahu saat dia bicara. Selama ini dia tidak pernah berucap dengan jelas kecuali kemarin."


"Selama ini?" Mata Kenzi menyipit, ia ikut duduk di samping Arin dan saat itu dimanfaatkan Arin untuk menunduk lagi. "Tatap aku, Arin!" Dengan keengganan yang kentara dan sedikit paksaan dari Kenzi, Arin mengangkat kepalanya lagi. "Sejak kapan orang itu meneror kamu?"


"Se..seminggu setelah kamu pergi," cicit Arin pelan. Mungkin ia memang harus menceritakan semua yang ia alami selama Kenzi tidak ada.


"Kotak pertama yang aku dapat isinya cuma surat peringatan, dia juga bilang kalau kamu pergi bukan karena urusan pekerjaan tapi karena kamu muak sama aku. Kamu mau meninggalkan aku, makanya nggak kasih kabar sama sekali."


Arin bercerita dengan tersendat-sendat. Air matanya kembali turun, perasaan takut Kenzi benar meninggalkannya hadir lagi. "Kak Ken nggak pernah ada niat buat tinggalin aku, kan? Iya, kan?"


Kenzi menganguk saja, tidak tahu harus berucap apa. Ia membawa Arin kepelukannya dan membiarkan wanita itu menangis di dadanya. Rasa sesal semakin menyesakkan dadanya karena telah bersikap seperti tadi pada Arin. Siapa yang tahu kalau selama ini wanita dalam pelukannya itu sudah cukup tertekan. Kenzi hendak berucap saat Arin melanjutkan penjelasannya.


...