(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
Ulang Tahun Reva



Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Beberapa hari lagi usia Reva mencapai satu tahun. Anak manis itu kini sudah bisa berjalan meski masih sering terjatuh.


Sudah bisa makan sendiri meski masih berantakan. Seperti saat ini, Reva sedang asik melahap makanannya sendiri sambil menonton pertunjukan Tari Serimpi dari Yogyakarta di youtube.


Sementara itu kedua orang tuanya duduk di sofa. Arin di ujung kanan, Kenzi di ujung kiri. Seperti menegaskan bahwa mereka sedang tak sejalan. Pendapatnya.


“Apa liat-liat?” tegur Arin pelan saat memergoki Kenzi melirik padanya.


Kenzi mendengkus, lalu turun duduk di bawah bersama anaknya. Gara-gara berdebat dengan Arin, Reva jadi tidak begitu diperhatikan.


“Ah, biasa bahaya kalau begini terus.”


Kening Arin berkerut mendengar gumaman Kenzi. Apanya yang bahaya? Arin ikut duduk di lantai beralaskan karpet berbulu yang kini sudah terdapat butiran nasi berserakan di sekitar Reva. “Kenapa?”


Sambil mengelap wajah Reva yang cemong, Kenzi menjawab, “Sadar tidak, kalau setiap kali kita berdebat, perhatian kita ke Reva jadi kurang?”


Arin diam. Mencoba mengingat-ingat kejadian-kejadian beberapa waktu lalu. Dan kalau diingat-ingat, memang benar seperti itu.


Reva tertawa tiba-tiba, mengalihkan perhatian Arin.


Rupanya, Reva tertawa karena ayahnya. Kenzi mengambil nasi yang menempel di wajah Reva sambil mengajaknya bermain.


“Mandi lagi ayo, sama Papa.” Kenzi menggendong Reva dan berdiri. Matanya mengisyaratkan agar Arin membereskan dan segera menyusul.


Arin memutar bola matanya malas. Entah kenapa akhir-akhir ini Kenzi hobi sekali mengajak Reva mandi. Apalagi kalau hari libur. Lebih banyak waktunya dihabiskan bermain di air, mau itu di bathup atau di kolam renang.


***


“Jadi, fix ya ulang tahun Reva nanti dirayakan?”


Arin menghela napas mendengar bahasan itu lagi. Bahasan yang sudah sejak pagi mereka debatkan. Salah satu bahasan yang sempat membuat mereka kurang fokus menjaga Reva.


Setelah menyelimuti Reva yang tertidur sehabis mandi, ia menghampiri Kenzi yang duduk di sofa. Masih dengan handuk melilit tubuh, belum memakai baju, entah apa yang ditunggu.


“Kak, dengar!” Arin membingkai wajah Kenzi dengan kedua tangannya. “Kita buat acara ulang tahun Reva tuh nggak guna, Kak. Dia nggak bakal ingat juga nanti sekalipun ada foto atau videonya.”


“Tapi aku pengin orang-orang tahu kalau Reva itu anak aku,” tegas Kenzi sekali lagi. Alasan itu sejak awal selalu ia gunakan. Arin tahu, suaminya itu masih kerap sakit hati saat orang-orang mengira Reva bukan anaknya.


“Kak, apa pentingnya pengakuan orang lain? Yang penting Reva paling lengket sama kamu. Atau jangan-jangan kamu masih ragu?”


Kenzi menggeleng cepat. Takut Arin salah paham dan sedih. Tapi sebenarnya ada yang telah dia lakukan dan mungkin akan membuat Arin kecewa jika mengetahuinya. Diam-diam Kenzi telah melakukan tes DNA pada Reva, untuk memastikan mereka ayah dan anak kandung atau bukan. Dan hasil tes menyatakan Reva anak kandungnya.


Setelah hasil tesnya keluar, Kenzi tidak habis-habis menyesal dan mengerutuki diri karena masih saja meragukan Arin.


Karena Kenzi terus diam dan tak berucap apa-apa, Arin berdiri, menghela napas lalu bergerak mengambil pakaian untuk suaminya.


“Kak, kalau masih belum yakin Reva itu anakmu, lakukan tes DNA saja, nggak papa.” Arin tersenyum sembari memberikan pakaian Kenzi.


Seketika hati Kenzi berdenyut sakit. Dia telah sukses membuat istrinya kembali kecewa. Raut wajah Kenzi sudah masam, merasa bersalah. Tapi Arin masih setia dengan senyum tulusnya.


“Dan … oke, kita rayakan ulang tahu Reva.” Arin mengecup pelipis Kenzi yang masih diam, lalu keluar dari kamar.


Seusai kepergian Arin, Kenzi meremas pakaiannya. Giginya bergemeletuk. Ia kesal pada diri sendiri.


Setelah memakai baju, menata hati dan pikiran. Kenzi menyusul Arin ke dapur, karena ia yakin istrinya itu sedang menyiapkan makan malam.


Kenzi tersentak, hatinya seperti tercubit. Mata istrinya merah dan sedikit bengkak, tanda habis menangis. Arin pasti sakit hati.


Iya. Ibu mana di dunia ini yang tidak sakit hati mengetahui anaknya diragukan oleh ayahnya? Karena secara tidak langsung mengatakan si ibu adalah wanita murahan.


Mau tidak mau Kenzi semakin merasa bersalah. Tapi ia tidak tahu harus bagaiamana. Akhirnya sampai berganti, Kenzi belum berucap apa-apa.


***


Pagi-pagi sekali, Arin sudah rapi. Sarapan pun sudah jadi. Bahkan, Reva pun yang biasanya masih tidur, kini sudah bangun dan mandi.


Sedikit heran, Kenzi turun menghampiri istri dan anaknya di ruang makan.


“Arin!”


Arin yang sedang menyiapkan dan membimbing Reva makan di kursi khusus bayi, menoleh. Didapatinya Kenzi sudah berada di dekatnya dengan setelan kerja.


Tangan Arin beralih ke kerah baju dan dasi suaminya yang masih berantakan. “Ayo cepat sarapan, setelah itu kita pergi,” ucap Arin sambil tersenyum setelah dasi Kenzi terpasang dengan benar. Ia menarik Kenzi agar segera duduk.


“Ah, iya, kamu harus kerja ya?” Arin berhenti mengambilkan sarapan untuk Kenzi, ia diam sejenak, tampak berpikir. “Atau begini saja, kamu beri air liur atau rambutmu biar aku saja yang pergi.” Arin mengumukakan idenya dengan semangat, seakan-akan acara diam-diaman mereka beberapa jam lalu tidak pernah ada.


“Arin!” Kenzi menangkap tangan Arin, memaksa agar istrinya itu menatap matanya.


“Oh iya, kalau seperti itu kamu pasti masih akan ragu karena aku bisa saja mengganti air liurmu dengan punya Ryan.” Arin tersenyum meski terlihat kali ini sangat dipaksakan.


“Cukup Arin, cukup!”


“Iya, kita pergi lain kali, saat kamu tidak sibuk.”


“Tidak usah.”


“Kalau tidak tes, nanti kamu terus—”


“Sudah!”


Arin terperanjak mendengar bentakan Kenzi, bahkan Reva sampai ikut terkejut dan menangis. Buru-buru Arin mengambil Reva dan menenangkannya.


“Aku sudah tes.”


Gerakan Arin terhenti. Pandangan mata mereka bertemu.


“Sudah, ya?” Arin menelan liurnya susah payah. Bibirnya beberapa kali gagal bergerak membentuk senyuman. Ia ingin tersenyum, tapi sulit. Dan matanya yang sudah berkaca sejak tadi semakin menggenang. “Oh, oke.” Arin segera berbalik bersamaan dengan air matanya yang menentes.


Memang Arin mengusulkan tes DNA, tapi ia tidak menyangka kalau Kenzi akan melakukannya diam-diam. Ia pikir selama ini Kenzi hanya kesal saja dengan orang-orang yang suka mengira Reva bukan anaknya. Namun ternyata, suaminya itu masih sangat ragu. Ragu yang ditutup-tutupi agar tampak menerima.


Kenyataan itu malah semakin membuat Arin sakit hati. Padahal ia pikir hidup mereka akan baik-baik saja setelah peristiwa yang telah lalu.


“Kamu masih nggak bisa percaya sama aku, Kak. Kalau seperti ini terus, tidak akan baik untuk kita ke depannya. Lebih baik … kita pisah saja.”


***


terima kasih buat temen temen yang like dan vote, seneng banget rasanya. Jadi buat aku tambah semangat 😘😘