
Dika melirik Hanna. Wanita itu tidak lagi sungkan menatap Kenzi penuh kebencian. Dengan pelan Dika menutup mata Hanna. Dia tidak mau lagi melihat istrinya menatap anak kandungnya seperti itu.
“Ryan!” teriak Dika. “Ke sini kamu.”
Ryan yang sejak tadi bersembunyi akhirnya mau tidak mau keluar. Ia tidak menyangka papanya tahu ia menguping.
Dika menyuruh Ryan lebih dekat dengannya. Kemudian berbisik, “Bawa Mamamu ke kamar lalu kasih obat tidur diam-diam. Ada di laci nakas, di botol kecil vitamin papa.”
Ryan mengernyit. Heran dengan papanya yang punya obat tidur yang disembunyikan. Namun, tak ayal dia menurut juga. Ada hal penting yang disebunyikan orang tuanya perihal kakaknya. Sebenarnya ia juga ingin tahu kelanjutan obrolan mereka, tapi nampaknya mamanya itu tak bisa dibiarkan ikut di sana. Karena Mamanya sudah nampak ingin mengamuk pada Kenzi. Dan itu baru pertama kalinya Ryan lihat.
Hannya sempat memberontak tak mau dibawa Ryan pergi. Tapi tenaga Ryan jauh lebih besar sehingga Ryan mudah menggendong mamanya.
Sepeninggalnya Ryan dan Hanna, Dika menatap Kenzi lagi. Anaknya itu sejak kembali ke hadapannya langsung duduk bersandar dan menutup mata. Bukan mengantuk, Dika rasa, tapi untuk menghindari tatapan Hanna.
“Kapan kamu melakukan tes ini?”
Sambil masih menutup mata, Kenzi menghela napas. Rasanya lelah. Hari ini begitu panjang dan melelahkan. “Yang satu itu diberikan Mama saat Ken masih kelas satu SMP. Yang satunya lagi Ken pergi sendiri ketika sudah lebih berani, kelas tiga SMP.”
Dika menatap iba anaknya. “Kenapa tidak pernah menceritakan semua yang Mama lakukan sama kamu pada Papa?”
Kenzi mendengkus pelan. “Lalu Papa akan membela Ken? Terus Papa akan terlihat lebih menyayangi Ken dari pada Ryan dan Zeva, meskipun aku pikir saja saja, tapi Mama lihatnya beda. Mama pasti akan menyiksa Ken terus kalau melihat Papa membela Ken terus. Semakin Papa terlihat sayang, semakin parah aku disiksa.”
Kenzi bangkit. Ia membuka mata dan menatap Dika dengan sorot mata yang lelah. Melihat itu, rasanya Dika ingin menangis. Kasihan sekali anaknya yang satu ini. Disiksa oleh ibu kandungnya sendiri.
“Tapi percaya sama Papa, Ken. Mama sama Papa itu orang tua kandung kamu. Mama yang melahirkan kamu.”
“Itu pasti hasil kelicikan Mamaku, Ken.”
“Terus kenapa sikap Mama seperti itu sama Ken? Mama benci sekali sama Ken, Pa. Dan kalau benar Ken anak kandung Mama, kenapa Mama tidak mau mengakui?” Kenzi sungguh bersyukur saat ini mereka dalam posisi duduk. Entah bagaimana jadinya kalau mereka berdiri. Pasti emosinya tidak terbendung.
“Maaf, sebenarnya ini semua adalah salah Papa.”
Dika menunduk, lalu mengalirlah kalimat-kalimat yang menceritakan masa lalunya sebelum Kenzi lahir. Alasan yang membuat Hanna tidak mempercayai Kenzi sebagai putranya.
Dulu ada seorang wanita yang begitu tergila-gila pada Dika, namanya Sukma. Sukma tidak terima kenyataan Dika yang menikahi Hanna sampai sempat mengganggu kehidupan rumah tangga Dika dan Hanna. Lalu tiba-tiba Sukma menghilang dan kembali muncul dengan perut yang membesar. Bersamaan dengan itu Hanna juga tengah mengandung Kenzi. Entah bagaimana, usia kehamilan keduanya bisa sama.
Singkat cerita mereka berdua melahirkan di rumah sakit yang sama dan waktu yang bersamaan. Namun, sayang bayi yang dilahirkan Sukma meninggal beberapa jam setelah lahir. Tak terima, Sukma menculik Kenzi dan meninggalkan bayinya sendiri diranjang Kenzi.
Sukma baru ditemukan setelah berbulan-bulan lamanya. Saat itu Hanna sendiri yang menemukan Sukma yang sedang mengendong Kenzi. Hanna begitu bahagia sehingga langsung menghampiri Sukma tanpa pikir panjang.
Namun Hanna berhenti saat mengingat bahwa Sukma mengalami gangguan jiwa sejak hamil, terlebih ia melihat Kenzi sedang menyusu pada wanita itu. Saking terkejutnya Hanna sampai tak mampu bergerak, dan akhirnya ia jatuh pingsan selang beberapa detik kemudian.
Sejak saat itu Hanna tidak bisa menerima Kenzi sebagai anaknya. Setiap kali ia melihat Kenzi, ingatan tentang Sukma yang gila menyusui Kenzi terus membayang dipikirannya. Dan hal itu membuat rasa bencinya tidak hanya pada Sukma tapi juga pada Kenzi .
Sejak saat itu fakta tentang Kenzi darah dagingnya terlupakan begitu saja. Terlebih seiring pertumbuhan Kenzi, anak itu memiliki satu sifat yang mirip dengan Sukma. Sukma tidak sanggup menyakiti atau melukai orang yang disayangnya.
Dan Kenzi pun demikian. Sehingga semakin yakinlah Hanna bahwa Kenzi bukannya anaknya.