
...
Tubuh yang lelah tidak semerta-merta membuat Arin lantas tertidur seperti suaminya. Ia masih setia membuka matanya untuk melihat wajah damai Kenzi. Lengkap dengan seulas senyum yang tidak pernah hilang di wajahnya. Rasanya Arin tidak ingin tidur sepanjang malam. Sedikit takut kalau yang terjadi hari ini hanyalah mimpi.
"Tidur, Arin!" ucapan Kenzi tak dihiraukan Arin. Wanita itu malah memaninkan rambut-rambut kecil di sekitar wajah Kenzi yang belum sempat dicukur.
"Arin sayang, tidur ya, sudah malam," kata Kenzi lagi masih dengan mata tertutup. Ia membalikkan tubuh polos Arin lalu mendekatnya di dadanya, membuat tubuh mereka benar-benar menempel tanpa penghalang apapun.
Ya, mereka baru saja melepas rindu lagi. Melepas rindu ala orang dewasa. Memangnya apa lagi yang akan dilakukan pasangan dewasa untuk melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu kalau bukan saling memuaskan hasrat masing-masing? Apalagi mereka itu adalah pasangan yang sah, sudah halal, jadi bukan hal aneh, kan? Sampai merasa tidak puas jika hanya sekali dua kali mereka lakukan saat siang tadi sehingga mereka melakukannya lagi saat malam.
Arin tak terima begitu saja balik dan disuruh tidur. Dia belum puas menatap dan mengabiskan waktu dengan Kenzi. Dengan jahil Arin menggesek-gesekkan tubuhnya ke tubuh Kenzi.
Kenzi menggerang karena tubuhnya kembali tegang. Ia langsung mendekap kuat dan melilit Arin dengan kakinya agar Arin tak biasa banyak bergerak. Bisa bahaya soalnya. Bukannya dia tak mau, tapi kasian tubuh Arin. Istrinya itu sedang hamil, tidak boleh terlalu lelah.
“Besok lagi ya, sekarang kita tidur dulu,” bujuk Kenzi sekali lagi.
“Kalau besok ternyata ini mimpi bagaimana?”
Kenzi terdiam, ia tidak tahu mau menjawab apa. Benar juga kata Arin, bagaimana kalau ini semua hanya mimpi. Namun cepat Kenzi mengenyahkan pikirannya itu. “Yang kita lakukan sepanjang hari ini adalah nyata. Bukan mimpi, jadi tidurlah.” Ucapannya itu bukan hanay untuk menenangkan Arin, tapi juga untuk dirinya.
***
Keesokan paginya, Kenzi terbangun tanpa Arin di sampingnya. Ia mengusap wajahnya, ia sadar yang kemarin mereka lakukan adalah nyata, bukti kalau mereka telah berbaikan. Ditambah dengan sebuah selimut yang hanya
itu?
Kenzi mendesah pelan. Ia telah melewatkan ibadah lima waktunya yang subuh hari, melihat terangnya sinar matahari yang menyorot dari jendela kamarnya. Kenzi bangkit dari tempat tidur dan bersiap mencari keberadaan sang istri.
Baru dua anak tangga Kenzi meminjakkan kaki hendak turun. Sebuah suara teriakan menggema di rumahnya memanggil-manggil Arin dengan panik. Selang beberapa detik terlihat Ryan melintas di bawah sana ke arah dapur dengan sedikit berlari. Pelan-pelan Kenzi mengikut di belakang Ryan.
"Arin! Arin!" Panggil Ryan lagi. Ia mendekati Arin dan meneliti wanita hamil itu dari atas sampai bawah, begitu terus sampai tiga kali. "Lo nggak papa, kan?" Ryan meletakkan telapak tanggannya di perut Arin. Mengusapnya pelan. "Dia baik-baik saja, kan? Bi Muna bilang lo habis pendarahan waktu itu, gara-gara nggak sengaja kepukul sama gue itu ya?"
Tangan Kenzi mengepal mendengar ucapan Ryan. Pendarahan? Ryan memukul perut Arin?
"Lo—" ucapan Ryan terhenti ketika sebuah dehaman kecil menginterupsi. Ia berbalik dan terkejut mendapati Kenzi berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ryan jadi gugup ditatap datar oleh pria yang hanya memakai bokser di depannya itu dan dengan bercak-bercak kemerahan yang tersebar di tubuhnya.
"Kak, ini—"
"Ikut saya, Ryan!" potong Kenzi cepat lalu berbalik pergi. Sedang Ryan menatap nanar punggung tegap Kenzi yang menjauh. Cukup syok dengan kehadiran Kenzi di sana.
"Ryan!"
Teriakan Kenzi menyadarkan Ryan, laki-laki itu segera berlari menyusul kakaknya.
...