(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
7



Keadaan rumah yang gelap gulita, membuatnya berjalan dengan hati-hati. Kenzi menarik nafasnya pelan. Sekarang sudah hampir pukul sembilan malam, ia baru saja pulang karena berniat untuk menghindari Arin. Mendapati rumahnya dalam


keadaan gelap gulita seperti ini membuatnya berspekulasi bahwa Arin pasti sudah tidur. Karena beberapa kali Arin pernah tidur cepat.


Kenzi membuka pintu kamarnya, keadaannya pun sama saja, gelap. Bahkan lampu tidurnya saja tidak dinyalakan. Ia mendesis, merasa aneh karena Arin tidak menyalakan lampu barang satu pun. Begitu ia menyalakan lampu, rupanya tidak ada siapapun


disana. Tempat tidurnya pun rapi tak tersentuh.


"Apa dia keluar?" Gumamnya. Diliriknya jam tangan yang bertengger di lengan kirinya. "Sudah jam segini kenapa belum pulang?"


Kenzi segera menghubungi Arin berniat menanyakan keberadaan gadis itu. Beberapa detik kemudian deringan nada ponsel Arin. Benda itu ada diatas meja kecil disamping tempat tidur.


Lagi-lagi Kenzi mendesah pelan. Sebenarnya ia sudah sangat lelah dan tadi ia berniat untuk langsung tidur begitu sampai dirumah. Tapi keadaan rumah yang gelap serta tak tanda-tanda keberadaan Arin membuatnya khawatir. Dan mau tak mau, ia harus


mencari gadis itu dan memastikannya dalam keadaan baik-baik saja agar ia bisa istirahat dengan tenang dan tanpa beban.


Kenzi menyusuri setiap sudut ruangan dilantai dua tapi Arin tidak ada. Ia turun di lantai satu tapi masih tidak ada juga, bahkan ia menyalakan semua lampu


dirumahnya. Antara kesal dan khawatir, Kenzi mondar mandir didepan ruang tengah. Berpikir dimana kira-kira Arin berada.


Tiba-tiba ia berhenti dan menatap tajam kearah tangga lalu ia memukul kepalanya sendiri dan berdesis bodoh. Selang sedetik kemudian ia berlari menaiki anak tangga itu satu persatu dan naik lagi sampai lantai itu. Kenzi tidak berpikir kalau-kalau


Arin berada disana karena Arin tidak pernah berada ruang baca itu sampai sepuluh menit.


Dan benar saja, begitu Kenzi menyalakan lampu, terlihat Arin tertidur diatas karpet berbulu ditengah ruangan. Gadis itu memeluk sebuah buku, yang hanya melihat sedikit dari buku itu Kenzi dapat mengetahuinya.


"Berhenti!" Kenzi terkenjut mendengar bentakan Arin begitu ia bergerak mendekat. "Aku mohon berhenti. Jangan mendekat lagi." Kata Arin lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kenzi memperhatikan Arin yang terlihat ketakutan. Kening dan matanya berkerut dalam. Dan bulir-bulir keringan mempertegas bahwa gadis itu masih tertidur dan sedang bermimpi buruk. Air matanya keluar dengan diiringi isakan-isakan kecil dari bibirnya.


Kenzi mendekat. Diusapnya kepala Arin lembut beberapa kali sambil menarik buku dalam dekapan gadis itu. Kenzi menatap tajam buku itu lalu melemparkannya asal, berharap buku itu menjauh dari mereka.


Kenzi kembali fokus pada Arin. Dihapusnya sisa air mata diwajah gadisnya. Perlahan air mata dan isakan Arin berhenti, raut wajahnya pun berubah tenang. Kenzi membaringkan tubuhnya disamping Arin lalu membawa gadis itu dalam dekapannya. Disempatkannya mengecup kening gadis itu sebelum ikut masuk kedalam dunia


mimpi.


***


Arin membuka matanya perlahan. Matanya terasa berat dan kepalanya terasa pusing. Samar ia melihat Kenzi duduk disampingnya sambil membaca dengan wajah berbingkai kacamata. Arin tersenyum tipis. Ia suka wajah itu. Wajah Kenzi yang berbingkai kacamata dan sedang membaca. Wajah serius dan datarnya terlihat berbeda.


"Lapar?" Tanya Kenzi sambil menutup bukunya. Arin menjawab dengan gumaman tak mengerti. Kenzi menoleh, ia meletakkan tangannya didahi Arin. "Belum ada tanda-tanda panasnya mau turun. Kamu mau pindah kekamar atau disini saja?"


Arin mengedarkan pandangannya. Ia masih berada diruang baca. "Disini saja. Lemes kalo mau jalan." Jawab Arin pelan.


Kenzi tersenyum kecil. "Ngga jalan kok, digendong. Aku ngga pindahin kamu karena takut ganggu tidurmu. Dari semalam kamu ngigo terus." Kenzi berdiri. "Tunggu sebentar ya?"


Arin menatap punggung Kenzi yang menjauh. Suara Kenzi begiti lembut sama seperti saat ia terjatuh tempo hari. Kekhawatiran juga terlihat dari mimik wajah dan suaranya. Tidak terlihat adanya tanda-tanda bahwa Kenzi telah berbuat jahat padanya. Ia meraba lehernya dimana kemarin Kenzi menyayatnya pelan di sana, tapi tidak ada apa-apa. Jadi kejadian kemarin murni hanya mimpi. Tapi buku itu milik Kenzi, apa suatu hari nanti akan...


"Makan ya?" Suara Kenzi menghentikan pikiran buruk Arin. Kenzi datang membawa nampan berisi semangkuk bubur, segelas air, dan obat. Kenzi membantu Arin bangkit, ia menyusun beberapa bantal agar Arin dapat bersandar.


Mata Arin tak lepas dari setiap pergerakan yang Kenzi lakukan. "Kak Ken, orang jahat?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja.


Kenzi menatap Arin sekilas. Ia menyendokkan bubur itu untuk disuapkan pada Arin. Mata Arin menatapnya ragu tapi ia balas dengan tatapan menyakinkan.


"Aku kira pikiranmu tentang aku orang jahat sudah hilang, Sai." Ucap Kenzi setelah Arin mau menerima suapannya. "Kenapa kamu berpikir begitu?"


Arin menggeleng sambil mengalihkan tatapannya, menolak kontak mata dengan Kenzi. "Novelnya?" Tanya Arin begitu mengingat tentang novel yang kemarin ia baca, sekaligus mengalihkan topik perbiacaraan.


Kenzi menghela nafas pelan, sadar Arin mengalihkan pembicaraan yang malah merujuk pada novel yang sebenarnya memang ingin ia bahas. "Kamu baca?" Tanya Kenzi masih dengan menyuapi Arin bubur.


Arin mengangguk, "Tapi belum selesai," jawabnya dengan mimik sedih.


"Jangan dilanjutkan!"


"Kenapa? Aku penasaran. Itu novel paling mengetikan yang pernah aku baca." Arin bergidik diakhir ucapannya.


"Mengerikan?" Arin menganguk. "Maka dari itu jangan dilanjutkan."


"Tapi seruu.." rengek Arin.


Kenzi menghembuskan nafasnya kasar. Ia meletakan mangkuk bubur diatas nampan. "Kamu mimpi buruk 'kan semalam?" Kenzi menatap Arin tepat diretina


matanya.


"Jadi jangan dilanjutkan ya?" Bujuk Kenzi sekali lagi.


"Ya tapi kenapa?"


"Siapa orang yang ada dimimpimu? Jawab dulu," lanjutnya saat Arin hendak protes dengan pertanyaannya.


"Kak Ken," Arin mengalihakan tatapannya lagi. "Hanya kak Ken yang ada dimimpiku."


"Melakukan apa?"


Arin kembali menatap Kenzi, ia terlihat ragu untuk mengatakan tapi diyakinkan oleh Kenzi dengan anggukan. "Kak Ken mau bunuh aku, dia nyiksa dulu." Jawabnya pelan.


Terdengar helaan Kenzi. "Sama seperti yang ada dinovelkan?" Arin mengangguk. "Aku juga mimpi buruk setelah baca novel itu dan hampir dua minggu mimpi itu datang." Kenzi mengelap bubur yang belepotan disekitar bibir Arin. "Kejadiannya semua hampir sama dengan yang dinovel. Kalo kamu yang mau dibunuh, aku jadi pembunuhnya."


"Kenapa kak Ken tertarik beli novelnya?"


"Itu bukan punyaku, tapi punya Galih. Novel itu satu-satunya didunia, karena Galih menulis itu hanya untuk dia sendiri."


"Kak Galih psikopat? Apa karena itu kak Ken menjauhi dia dan terkesan memusuhi?"


Kenzi tertawa pelan. Ditatapnya Arin yang begitu menunggu jawabannya. "Galih bukan psikopat. Dia hanya... hanya... dia suka sama aku."


Kali ini Arin yang terkekeh. "Seriusan kali kak."


"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?" Arin menggeleng.


Kenzi kemudian menceritakan awal kedekatannya dengan Galih. Galih adalah anak dari dokter Evan yang mana keluarganya turun temurun menjadi dokter pribadi di keluarga Atharis, keluarga besar Kenzi. Jadi mereka sudah dekat sejak kecil meski Galih seumuran dengan Ryan. Bagi Kenzi, Galih sudah seperti adik sendiri. Semua berjalan baik sampai Galih mengetahui bahwa Kenzi menyukai seorang gadis. Galih marah besar saat itu. Ia tidak rela bila Kenzi menyimpan rasa untuk gadis


mana pun. Yang Galih inginkan Kenzi hanya menyukainya. Dan saat itu pula Galih mengatakan bahwa ia menyukai Kenzi sejak kecil dan berniat mencari gadis itu dan dibunuhnya dengan sadis.


"Kalo gitu kak Galih psikopat dong."


"Entah ya. Tapi dilihat dari kepribadiannya dia bukan psikopat."


"Memangnya kak Ken tau apa aja yang pernah dia lakukan? 'Kan kerjaan psikopat halus banget, ngga ada jejak. Terus psikopat itu kelihatan sempurna banget."


"Kami semua tahu apa saja yang dilakukan Galih. Dia baik sama orang, jiwa penolongnya tinggi, makanya dia jadi dokter. Soal dia kelihatan sempurna atau tidak, itu tergantung dari penilaian setiap orang. Dia juga banyak melakukan kesalahan."


"Jadi sampai sekarang kak Galih masih suka sama kakak?"


"Iya. Info terakhir yang aku dapat dia masih menyimpan banyak foto-fotoku di kamarnya."


Arin tampak terkejut dengan jawaban Kenzi. "Siapa yang kasih tau kak Ken?"


"Keluarganya. Pelan-pelan mereka berusaha membuat Galih tidak lagi menyukaiku tapi sampai


detik ini belum terlihat adanya perubahan. Malah katanya dia sedang menimbang-nimbang untuk menyingkirkan kamu."


Tiba-tiba Arin memeluk Kenzi erat. "Dihh.. kok serem sih. Apa jangan-jangan caranya sama seperti.." Ia bergidik dan tidak melanjutkan ucapannya. Sebenarnya sekarang ia tengah dilema antara percaya pada ucapan Kenzi atau pada ucapan


Galih tempo hari.


"Aku yakin Galih tidak akan berbuat senekat itu." Kenzi melepaskan pelukan Arin. Dirabanya dahi Arin yang masih panas. "Panas badanmu belum turun, Sai. Sekarang istirahat lagi ya?" Kenzi membantu Arin berbaring. "Aku kebawah dulu."


Arin menangkap tangan Kenzi yang menarikkan selimut untuknya. Ditatapnya Kenzi dengan tatapan menggoda. "Say atau Sai?" Kenzi menaikkan sebelah


alisnya. "Say-yang atau Sai-la?" Lanjut Arin masih dengan tatapan menggoda dan alis yang dinaik-turunkan.


Sudut bibir Kenzi tertarik sedikit. "Saila sayang." Ucapnya dengan mengecup kening Arin lembut. "Istirahat ya." Lalu ia pergi meninggalkan Arin yang masih terdiam termangu dengan perkataan dan perlakuan Kenzi.


Arin menarik selimutnya tinggi-tinggi sampai menutupi wajahnya. Ditutupnya matanya saat dirasakan pipinya yang memanas. Ia tersenyum malu sambil memanggang kening bekas Kenzi menciumnya.


Sementara itu, Kenzi didapur tersenyum-senyum sendiri mengingat ucapan dan tindakannya


tadi. Jantungnya berdetak tak karuan. Meski ia kerap kali menciun kening Arin tapi itu tidak pernah dilakukannya saat Arin tersadar. Jadi yang tadi adalah yang pertama baginya. Gandengan tangan dan rangkulan Arin padanya beberapa kali


ini selama mereka menikah ternyata tidak dapat membantu bagaimana laju kecepatan


jantungnya berdetak saat berdekatan dengan Arin.


Kenzi berharap dua kata yang diucapkannya pada tadi dapat mewakili perasaannya dan Arin dapat melihat ketulusan dari matanya saat mengatakan itu.