(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
34



Arin melihat Ryan menaiki anak tangga dengan wajah lesu. Laki-laki itu baru saja pulang dari kantornya tepat pukul sepuluh malam. Arin yang menginginkan sesuatu tak tega jika harus meminta pada adik ipar. Ia juga tahu diri dengan tidak membuat Ryan semakin lelah.


Arin memutuskan menunggu lima belas menit setelah Ryan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Lalu ia keluar dengan langkah yang dibuat sepelan mungkin. Mengendap-endap seperti maling yang takut ketahuan. Begitu sampai di luar, Mang Ujang, Toto, dan Toni, pekerja rumah besar itu yang juga bertugas menjaga saat malam, serta Didik -anak Mang Ujang-, langsung berdiri melihat kedatangan Arin.


"Ngapain Neng keluar malem-malem?" tanya Mang Ujang heran.


Arin memperlihatkan cengirannya. "Mang Ujang mau ya anter Arin beli sate?" pintanya pada Mang Ujang yang kebetulan sebagai sopir di rumah itu.


"Wah Neng, Mang Ujang nggak berani, nanti Mas Ryan marah."


"Dia udah tidur kok, jadi nggak tahu. Nanti kalau pun dia marah tenang aja, kan ada Arin." Arin mengedipkan sebelah matanya, "mau ya?" bujuknya


Mang Ujang tampak berpikir, ia takut Ryan marah lagi karena dua bulan lalu ia pernah dimarahi Ryan karena mengiakan permintaan Arin tanpa sepengetahuannya. Dan malam ini Arin meminta lagi. Ia takut tapi tidak tega melihat wajah Arin yang memelas. "Dianter sama Didik saja, ya? Kalo ada apa-apa kan Didik lebih bisa mengatasi dari Mang Ujang."


"Oke." Arin mengangguk semangat. Mereka pun pergi mencari tukang sate dengan kecepatan yang sangat pelan. Hal itu membuat Arin mencebik kesal. Ryan telah mewanti-wanti Mang Ujang dan Didik agar mengemudikan mobil dengan kecepatan di bawah rata-rata jika sedang membawa Arin.


Hampir dua jam kemudian mereka baru pulang ke rumah dengan wajah Arin yang berbinar karena telah mendapatkan apa yang dia inginkan. Beruntung masih ada pedagang sate yang masih menjual kala malam berada di puncaknya.


Begitu keluar dari mobil, senyum yang tadi terukir di bibir langsung menghilang ketika melihat Ryan yang berdiri sekitar dua meter di depannya. Wajah merahnya karena marah terlihat begitu jelas di bawah sinar lampu yang


sedikit remang. Sorot mata yang menajam membuat Arin bergidik. Untuk menghalau rasa cemasnya, Arin menunjukan cengirannya dan memperlihatkan apa yang dibelinya barusan, dengan gestur yang kaku.


Ryan berjalan mendekat. "Ini peringatan terakhir!" Matanya menatap keempat laki-laki di sana bergantian. "Kalau sampai hal ini terulang kembali, membiarkan Arin keluar rumah saat sudah larut malam seperti ini, kalian saya pecat," ujarnya tegas membuat keempat laki-laki itu menunduk dan mengangguk.


Sementara itu, Arin berbalik menghampiri keempat pria itu. Membuat Ryan berang melihatnya. "Mau kemana kamu?" bentaknya tapi Arin mengabaikan.


"Kamu itu, bagaimana bisa kamu keluar sendirian tengah malam begini, hah? Kenapa kamu tidak meminta saja mereka membelikannya dan kamu menunggu di rumah?" Ryan berang menumpahkan kemarahannya pada Arin. "Bagaimana kalau ada apa-apa? Siapa yang mau tanggung jawab?"


Arin menoleh pada Ryan. Saat ini mereka sudah duduk di ruang tengah. "Kak Iyan mau?" Ia menyodorkan satu tusuk sate ke mulut Ryan lengkap dengan senyum terbaiknya ia persembahkan pada Ryan dan tanpa raut bersalah.


Ryan ternganga tak percaya. Ia mencambak rambutnya lalu membanting tubuhnya pada sandaran sofa. "Kamu memang pandai sekali mengambil hati orang," gumamnya pelan.


Arin menjatuhkan kepalanya di bahu Ryan. Kebiasaannya jika tengah makan makanan dari luar. Sesekali menyuapkan Ryan karena laki-laki itu tak ada niat mengambil meski sudah ditawari. Dan hal ini adalah yang pertama kali. Ryan ditawari makanannya bahkan sampai disuapkan. Sampai sate-sate itu habis, Arin tak kunjung tidur, tidak seperti biasanya yang makanannya belum habis ia sudah tertidur.


"Sudah? Sekarang kamu tidur!" Ryan menarik Arin agar berdiri. Berjalan bersisian menuju kamar Arin.


"Kak Iyan, peluk. Temani tidur!"


Ryan menghela nafas pelan. "Arin, tidak seharusnya kamu minta peluk sama aku. Ini sudah terlalu jauh. Apalagi ini di tempat tidur, temani kamu tidur. Apa kata orang kalau tahu?"


"Iya," katanya cepat lalu berbalik memunggungi Ryan.


Ryan tahu nada itu, setelahnya Arin pasti menangis lalu keesokan harinya ia akan mendapati Arin tengah demam tinggi. Karena ini sudah pernah terjadi. Ryan menolak permintaan Arin. Wanita itu memang tidak memaksa dan langsung pergi, selang beberapa jam, Ryan mendapati Arin tengah demam tinggi.


Ryan menghela nafasnya lagi lalu naik keatas tempat tidur Arin. Memeluk wanita itu seperti yang diinginkan. Menjadikan lengannya sebagai bantalan. Dan karena rasa lelah yang semakin jadi, tanpa sadar Ryan ikut tertidur bersama Arin. Diatas ranjang dan selimut yang sama.


Doakan mereka semoga tak ada iblis yang menggoda dua manusia berbeda jenis kelamin itu.


...