
“Kak?” panggil Arin pelan, khawatir. Ia melirik Ryan yang sibuk sendiri dengan ponselnya. Sialan memang adik iparnya itu.
“Jadi …,” Kenzli beralih menatap Arin yang menggigit bibir dengan cemas. “Bagaimana perasaanmu?”
Arin menggeleng cepat. “Nggak ada perasaan apa-apa kok, sungguh.” Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
"Yakin?"
"Sumpah. Sama kayak Ryan, kayak adik-kakak saja, nggak lebih." Mata Arin mulai berkaca-kaca. "Masa nggak percaya sih? Nih, ya, waktu tahu nikahnya bukan sama Ryan saja aku lega luar biasa loh."
Kenzi tersenyum kecil, tangannya bergerak menepuk pelan kepala Arin. Ia hanya bercanda. Lelah yang ia rasakan tak mampu membuatnya berekspresi lebih. Padahal ia ingin menggoda Arin lebih banyak.
Kenzi menoleh pada Ryan. “Reva?”
Seperti tahu Kenzi berbicara padanya, Ryan mengalihkan tatapannya dari ponsel. “Baik-baik saja, tidak lecet sedikitpun.”
“Bagus.” Kenzi berdiri, mengajak Arin ikut. “Oh iya, Ryan. Papa ingin bertemu calon istrimu.”
Kalimat terakhir Kenzi sebelum menghilang dari dapur membuat Ryan mendengkus. Ejekan kakaknya itu membuat moodnya yang sudah membaik kembali hancur.
Dua hari yang lalu, ayahnya menghubungi, menanyakan kapan kiranya dirinya berkeluarga. Pertanyaan wajar sebenarnya mengingat usianya yang cukup matang untuk berkeluarga. Namun, masalahnya belum ada gadis yang membuatnya tertarik. Ada satu sebenarnya, tapi gadis itu terlalu cuek padanya. Ryan dihubungi hanya jika gadis itu kepo tentang Arin. Jadi Ryan tak berani bertindak lebih.
“Ryan belum mau menikah, Pa,” jawab Ryan pada akhirnya saat ditanyai oleh ayahnya.
“Mau menunggu sampai kapan? Papa tidak mau kalau kamu menikah tanpa orang tua juga seperti Kakakmu.”
Ryan paham maksud ayahnya bukan ia dicurigai akan menikah diam-diam seperti Kenzi, tapi lebih ke rasa takut kalau hidup ayahnya takkan lama lagi. Apalagi, kabar yang selalu didapat dari Zevanna bahwa kondisi kesehatan ayahnya naik turun.
Ryan pusing. Ia juga ingin segera menikah, agar punya teman hidup dan tak kesepian. Ia punya banyak teman, tapi tidak ada yang bisa diajak nongkrong saat malam. Rata-rata teman-temannya sudah berkeluarga. Kalaupun ada yang belum, itu yang punya pacar banyak, jadi susah diajak bertemu.
Mengambil minum, meneguknya hingga tandas. Ryan segera masuk ke dalam kamarnya di lantai satu. Sebenarnya kamar tamu, tapi sudah beralih fungsi jadi kamar Ryan. Pasalnya dia sudah seperti penghuni rumah itu. Hampir setiap hari ada.
Dan kalau kata Kenzi itu, mengganggu. Namun, walau berkata seperti itu, Kenzi tak juga mengusir Ryan. Karena ia tahu, adiknya itu tidak suka sendirian.
Iya, Ryan tidak suka sendiri. Makanya ia juga ingin cepat-cepat menikah. Hanya saja dengan siapa?
Memikirkan deretan gadis-gadis yang dikenalnya, hanya satu yang dapat membuatnya mengubah ekspresi. Hal itu membuat Ryan frustrasi.
Berbeda dengan Ryan yang bermuka masam dan lemas, berusaha tidur tapi tak kunjung matanya tertutup. Di lantai atas, di kamar Reva, Arin tengah senyum-senyum bahagia.
Mengambil jatahnya sendiri dengan semangat. Tak peduli pada Kenzi yang menyerahkan dengan mata setengah tertutup.
💛💛💛
***wah pada minta crazy up 😂
baiklah, besok ya?
mau berapa part?
etapi jangan minta terlalu banyak, nanti kiyer tanganku 😂😂
😚😚***