
"Ck,
dia terlalu polos. Sangat mudah dibohongi." Celetuk Zevana begitu Arin
berlalu. Kenzi dan Ryan menatapnya bingung. "Aku yakin dia sudah percaya
dengan kata-kataku." Lanjutnya untuk memperjelas ucapannya.
"Itu
kelebihannya." Sahut Kenzi datar.
Zevana
mendengus. "Aku juga heran kenapa dia bisa percaya sama kalian
berdua."
"Memangnya
apa yang mau tidak dipercaya?" Sahut Ryan.
"Kak
Ken ngga ceritain apa-apa tentang keluarga kita 'kan?" Kenzi hanya
menjawab gumaman pertanyaan itu. "Ck, kalo aja dia tau siapa aku pasti dia
ngga akan lari tadi."
"Memangnya
bagaimana posisi kalian waktu kepergok Arin?"
"Kak
Ken cuma pake boxer dan ada diatasku."
Jawaban
Zevana membuat Ryan tersedak air liurnya sendiri. "Eh, kalian udah dewasa
ya. Stop main tindih-tindihan kayak anak kecil." Kata Ryan sedikit
kesal. Kesal karena kebiasaan bermain mereka saat kecil dulu masih mereka bawa
sampai setua ini.
"Salahnya
dia, datang-datang malah ngerayu orang tidur." Bela Kenzi.
"Pakaiannya juga..." Kenzi melirik pakaian yang dipakai Zevana. Dress
tanpa lengan dan tali dressnya yang tipis membuatnya mendengus.
Zevana
mencibir. "Siapa suruh nikah ngga bilang-bilang?" Katanya tak mau
kalah.
"Mama
papa tau kok,"
"Terus
kenapa aku ngga dikasih tauu?" Geram Zevana. "Kalian ada yang
disembunyiiin 'kan?"
"Ngga,"
kompak Kenzi dan Ryan.
"Ryan
ada yang disembunyiin 'kan?" Suara Zevana berubah lembut.
"Ngga."
Kata Ryan sambil membuang muka.
"Well,
lo ngga bisa bohong sama gue, Yan." Zevana menatap adik kembarnya dengan
pandangan meremehkan, lalu matanya beralih melihat Kakaknya yang biasa saja.
Berbeda dengan Ryan yang bisa ia tahu jika berbohong karena mereka kembar, tapi
kalau dengan Kenzi, ia tidak akan tahu apa kakaknya itu menyembunyikan sesuatu
atau tidak. Terlebih lagi Kenzi termasuk orang yang pendiam dan susah ditebak.
"Apa yang lo sembunyiin dari kak Ken?"
Bukan
hanya Ryan yang terkejut dengan pertanyaan Zevana tapi juga Kenzi. Kenzi
menatap Ryan penuh selidik.
"Ngga
ada," jawab Ryan pelan.
"Ada."
"Ngga.
Gue bilang ngga ya ngga." Jawab Ryan sesikit keras sambil menatap
saudaranya bergantian.
"Lo
ngga bisa bohong sama gue, Ryan. Jelas-jelas dijidat lo ada tulisan kalo lo
lagi bohong."
"GUE
BUKAN ARIN YA,"
"Kenapa
namaku disebut-sebut?"
Tiba-tiba
saja Arin muncul dengan sepiring puding. Ia duduk disebelah Kenzi yang lebih
dekat, sambil memangku sepiring puding itu untuk ia makan sendiri. Arin tak
menyadari tatapan heran dari ketiganya.
"Kenapa?
Kak Ken mau?" Tanya Arin polos pada Kenzi. Kenzi sontak merubah
ekspresinya kembali menjadi datar. Hal itu membuat Arin mencibir. Lalu matanya
beralih pada Ryan. Tanpa aba-aba, ia langsung pindah duduk disamping Ryan
diseberang Kenzi. "Kak Iyan mau?" Tawarnya.
"Rin,
buat aku mana?" Tanya Zevana.
"Dih
ambil sendiri kali." Jawab Arin tanpa menatap Zevana. "Gue bukan babu
ya. Lagian kalo kamu adeknya Kak Ken, ngga seharusnya nyuruh aku seenaknya
kayak nyuruh anak kecil."
Jawaban
Arin membuat Zevana terperangah, ia terlihat gemas pada Arin sampai menggerakan
mulutnya seakan ingin menggigit Arin yang asik saja dengan pudingnya. Ryan yang
melihat kekesalan Zevana hanya bisa menahan tawa. Sedang Kenzi masih setia
dengan wajah datarnya.
Akhirnya
karena ingin juga memakan puding yang sama seperti Arin, Zevana memilih ambik
sendiri. Baru ia akan beranjak ketika suara celotehan bayi berumur satu tahun
terdengar. Semua orang termasuk Arin menoleh keasal suara.
Zevana
langsung berdiri dan mengambil bayi itu. Tapi bukannya mendapat sambutan, bayi
itu malah memukul wajahnya.
"Dena
jahat nih, ngga sayang lagi sama mama."
Dari
ucapan Zevana, dapat Arin simpulkan bahwa bayi imut itu adalah anak Zevana dan
pria yang membawa bayi itu adalah suaminya. Mata Arin berbinar melihat Dena
yang imut dan cantik. Ingin rasanya ia mencubit dan mencium pipi gembul Dena.
"Masuk
rumah orang ngga permisi." Omel Kenzi pada Devan—suami Zevana.
"Kalo
tahu password-nya buat apa pencet bell?" Kata Devan sambil
terkekeh. Lalu matanya menangkap sosok Arin yang masih terpesona pada Dena yang
sekarang berada dipangkuan Zevana. "Yang cantik ini istri lo, mas?"
Tanya Devan. Dan saat itu juga kakinya diijak oleh istrinya dan membuatnya
mengaduh kesakitan.
Kenzi
hanya menjawab dengan gumaman malas. Rasanya Arin ingin menabok muka Kenzi yang
selalu berubah ekspresi saat membahasnya.
Devan
menyodorkan tangannya pada Arin. "Namanya siapa?"
"Arinta
s—"
"Revan
Atharis." Potong Kenzi dengan mata yang masih tak mau menatap Arin.
Untuk
sementara, Arin tak ingin dulu memikirkan sikap aneh Kenzi. Sekarang matanya
fokus menatap Zevana kecil.
"Hallo
cantik namanya siapa?" Tanya Arin pelan sambil mengelus-elus tangan Dena.
Cepat
Zevana menepis tangan Arin kasar, membuat Arin meringis pelan. "Ngga usah
pegang-pegang. Kamu ngga mau kasih aku pudingmu."
Arin
terkejut sampai mulutnya terbuka. Dilihatnya puding dipangkuannya yang masih
ada tiga potong. Ia menyimpannya diatas meja dan mendorongnya kearah Zevana.
"Ini.." katanya pelan.
Zevana
menoleh melihat tangan Arin yang menyodorkan puding itu. Matanya berubah
berbinar senang dan menatap Arin sepenuhnya. "Ini," Zevana
memindahkan Dena dipangkuan Arin. "Namanya Denariana Yusuf. Baru sepuluh
bulan." Katanya. Lalu ia mencomot puding pemberian Arin.
Kenzi
dan Ryan langsung menatap Devan yang hanya dibalas berupa cengiran oleh Devan.
Sedang Arin menatap heran perubahan yang terjadi pada Zevana. Lalu matanya
melirik Ryan meminta penjelasan.
"Dia
sedang hamil kayaknya." Bisik Ryan.
Arin
tertawa pelan. "Kamu masih kecil udah mau punya adek aja." Ucap Arin
pada Dena pelan. Ia tidak lagi memperdulikan sekitarnya dan bercanda dengan
Dena yang cepat akrab dengannya. Sesekali Ryan juga ikut bercanda bersama.
Tak
sedikit pun pemandangan itu luput dari mata Kenzi. Mereka bertiga tampak
seperti keluarga kecil yang bahagia. Walau tatapan matanya biasa tapi dalam
hatinya ia terluka. Terluka karena Arin bukannya bercanda dengannya melainkan
dengan Ryan. Adiknya sendiri. Tak ingin membuatnya merasa benci pada Ryan,
akhirnya ia pergi dari sana tanpa menjawab pertanyaan Devan yang menanyakannya
kepergiannya.
Ryan
yang menyadari kepergian Kenzi jadi tak enak hati. Ia pun menjaga jarak dengan
Arin dan tak lagi bercanda bersama. Sementara Arin bersikap biasa saja, tak
menyadari perubahan suasana hati dua diantara tiga laki-laki disana karena
dirinya.
Setelah
Zevana sekeluarga dan Ryan pulang, Arin merasa kesepian langsung menghampurinya.
Sejak kepergian mereka juga Kenzi jadi kembali menghindarinya. Sekarang
laki-laki itu mungkin tengah berada diruang kerjanya.
Dua
jam berlalu, waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam tapi belum ada
tanda-tanda Kenzi akan turun dari lantai tiga. Beberapa kali Arin mondar-mandir
didepan tangga lantai tiga, matanya menatap kepuncak tangga itu. Ia sudah
sangat lapar dan tidakkah Kenzi juga merasa lapar?
Arin
bisa saja makan sendiri tapi karena akhir-akhir ini ia sudah tidak pernah makan
sendiri ia jadi merasa tidak enak kalau makan sendirian. Dan ia baru tahu kalau
sekarang adalah malam tahun baru. Malam dimana biasanya mereka yang punya
pasangan menghabiskan malam berdua atau bersama keluarga dan teman-teman.
"Tapi
liat gue, gue udah ngga jomblo tapi malam tahun baru ya masih aja
sendiri." Gerutunya pada diri sendiri. "Gue pikir tahun akan berbeda
ternyata tetap aja sama. Jomblo ngga jomblo ya sama aja, sendiri juga."
Selama
ini Arin selalu menghabiskan malam tahun baru hanya dikamarnya. Karena tidak
ada satu orang pun yang mengajaknya keluar atau sekedar mengobrol melalui chat.
Teman-temannya pasti sibuk dengan pasangan dan keluarga masing-masing, dan
keluarganya sendiri juga selalu sibuk sendiri tanpa ada niatan untuk
mengajaknya.
"Hhh.."
Rasanya Arin ingin menangis sekarang. Ditatapnya makanan yang ada didepannya.
Dengan terpaksa ia makan dengan malas.
Tak
lama ponselnya berdering. Melihat id caller-nya Arin langsung cepat
mengangkat panggilan itu dan menyalakan pengeras suaranya agar ia tetap bisa
makan.
"Assalamualaukum
Warahmatullahi Wabarakatu. Hallo Ibu, kangen Arin yaa?" Ucapnya dengan
semangat.
Terdengar
kekehan ibunya diseberang sana dan menjawan salamnya. "Kalian baik-baik
aja 'kan?"
"Iya,
Bu. Arin baik-baik aja."
"Kenzi
mana?"
"Diruang
kerjanya. Kenapa?"
"Bukan
apa-apa. Kamu sendiri dimana?"
"Dapur
ini."
"Masak?"
"Sudah."
"Sudah
makan?"
"Sudah."
Jawab Arin dengan mata mengikuti pergerakan Kenzi yang baru masuk diruang
makan.
"Gimana?
Cucu ibu udah jadi belum?"
Pertanyaan
itu bukan hanya membuat Arin tersedak tapi juga membuat Kenzi yang sedang minum
jadi tersedak sampai terbatuk-batuk.
"Kok
ibu ngomongin cucu sih?" Mata Arin masih menatap Kenzi yang juga masih
mengacuhkannya.
"Loh
kenapa? Salah? 'Kan kamu udah nikah juga jadi ngga salah dong Ibu nanyain cucu."
"'Kan
Ibu udah dapat dua dari kak Faris. Kalo Ibu mau lagi minta aja lagi sama kak
Faris atau minta sama Kak Cikal sana."
"Cikal
belum nikah Arin." Geram Ibu Arin.
Arin
tertawa pelan mendengar Ibunya mulai kesal. "Iya deh, iya. Doain aja siapa
tahu ini udah jadi." Dengan susah payah Arin menahan tawanya agar tidak
keluar. Ia geli sendiri berucap seperti itu. Dan untung saja Kenzi sudah pergi
dari sana. 'Mau jadi gimana, dibobol aja belum wkwkw' batin Arin.
"Ya
sudah."
"Iya."
"Itu
kalau suamimu pulang kerja dipijitin, di..." Dan mengalirlah
nasehat-nasehat ibunya tentang kodrat istri dan lain sebagainya.
Setengah
jam kemudian baru pembicaraan mereka berakhir. Arin bergegas membereskan bekas
makannya. Setelah itu ia tak langsung pergi kekamar atau kemana pun. Ia memilih
untuk duduk diruang makan. Ia memikirkan ucapan-ucapan ibunya selama ini
tentang bagimana seharusnya seorang istri yang baik. Dan selama pernikahnnya ia
belum sekalipun melakukan apa yang dikatakan oleh Ibunya.
Merasa
sudah tau apa yang harus dilakukannya kini, ia beranjak pergi dari sana. Ia
sudah bertekat bahwa setidaknya mulai besok ia akan memasak untuk Kenzi.
Begitu
ia sampai di anak tangga terakhir, Kenzi juga baru turun. Mereka sama-sama
berjalan menuju kamar mereka. Karena Kenzi yang didepan jadilah ia yang lebih
dulu masuk. Saat Arin hendak menyusul tiba-tiba pintu kamar tertutup tepat
didepan hidungnya.
Saat
itu pula Arin terkejut bukan main. Ditendangnya pintu dengan keras sambil mengusap
hidungnya yang sedikit lagi terkena tumbukan pintu. "Arrrgggh dasar
makhluk ngga jelas. Dasar Alien. Dasar bunglon. Senangnya berubah-berubah ngga
jelas kayak bunglon. Dikit-dikit baik, dikit-dikit marah, pasang muka datar.
Dasar Robot. Robot bunglon." Runtuk Arin tidak jelas. Ia kesal sekali
jadinya. Tapi pelan-pelan ia menenangkan batinnya yang kesal baru masuk kedalam
kamar.
Begitu
ia masuk, tak ada Kenzi disana. Tapi terdengar suara shower dari dalam kamar
mandi. Satu jam kemudian, Kenzi tak kunjung keluar.
"Ngga
mau liat muka gue ya?" Gumamnya pelan. Raut wajahnya mendadak sedih. Ia
berdiri dan mengambil selembar kertas dan menuliskan sesuatu disana. Lalu ia
menaruh kertas itu atas bantal Kenzi. Dan ia membaringkan tubuhnya
disebelahnya. Ia berusaha cepat tidur agar Kenzi segera keluar dari dalam sana.
Tak
lama kemudian Kenzi keluar dengan rambut basah. Ia melihat Arin yang terlihat
sudah tertidur nyenyak. Tapi ia tahu kalau Arin tengah pura-pura. Kenzi memakai
bajunya cepat lalu ikut membaringkan tubuhnya disamping Arin. Saat hendak
berbaring ia melihat sebuah kertas yang ditempel dengan selotip diatas
bantalnya.
Kak
Ken marah kenapa sih?
Maaf deh, jangan marah lagi ya!
Good night! ^♡^
Kenzi
tersenyum melihat tulisan Arin. Ia melipat kertas itu dan menaruhnya diatas
meja. Ia membaringkan tubuhnya lebih dekat dengan Arin.
"Night
too, Say." Bisik Kenzi ditelinga Arin dengan senyum kecil menghias
bibir.
Arin
segera membalikkan tubuhnya. Karena Kenzi yang belum menjauh, akhirnya wajah
mereka sangat dekat sekarang. Pelan tapi pasti Kenzi semakin mendekatkan
wajahnya membuat Arin bisa merasakan nafas Kenzi diwajahnya.
Kenzi
menatap bibir Arin lalu beralih lagi kemata Arin. Tak menunggu lama ia langsung
mencium bibir Arin. Sungguh, sudah lama sekali ia ingin merasakan bibir itu.
Awalnya tubuh Arin menegang namun perlahan mulai rileks dan bahkan mulai
membalas ciuman Kenzi. Kenzi melepaskan ciuman mereka saat dirasa mereka
membutuhkan oksigen.
Arin
membuang wajahnya tak kala mata Kenzi menatapnya dengan intens. Dan hal itu
membuat wajahnya yang memerah semakin memerah karena tatapan Kenzi.
"Ciuman
pertama? Sama, aku juga."
Ucapan
Kenzi sontak membuat Arin menatap Kenzi. Ia tak percaya jika itu juga ciuman
pertama bagi Kenzi. Saat ia hendak berucap, Kenzi malah menciumnya lagi.
"Ayo
buat pesanan Ibu!"
Arin
menyerngitkan dahinya tak mengerti. Saat ia hendak bertanya lagi-lagi Kenzi
menciumnya. Dan kali terasa ada yang berbeda.
.
.
.