
Ryan terbangun setelah tepukan-tepukan di pundaknya ia rasakan. Karena tertidur dalam posisi duduk laki-laki itu hanya perlu menolehkan kepalanya. Di sebelahnya ada Bi Muna berdiri dan tersenyum canggung, merasa tidak enak karena mengganggu tidur sang majikan.
"Sudah pagi, kalau Mas Ryan masih mengantuk sebaiknya tidur di tempat tidur. Biar Mbak Arin, Bibi yang jaga."
"Ryan tidak apa-apa kok, Bi. Biar Ryan yang urus Arin. Bibi lanjutkan saja kerjaannya,” kata Ryan tersenyum ramah, lalu menoleh menatap Arin yang masih tertidur. "Ah iya Bi, bubur untuk Arin sudah ada? Sebentar lagi mungkin dia bangun."
Bi Muna hanya mengangguk lalu keluar dari kamar. Selang beberapa menit kemudian ia datang lagi dengan nampan berisi semangkuk bubur ayam yang masih panas dan segelas air minum. Ryan menerima dan menaruhnya di atas nakas karena Arin belum bangun.
"Tadi sebelum Mas Ryan bangun, Mbak Arin ngigau lagi, Bibi usap-usap kepalanya."
"Lagi?" Tanya Ryan sedikit terkejut. "Bibi tahu kalau semalam Arin banyak ngigau?"
Bi Muna mengangguk, "Maaf, Mas. Bibi tidak bermaksud menguping apalagi mengintip. Bibi khawatir, karena tidak ingin mengganggu saya langsung masuk. Mas Ryan sudah setengah tidur jadi tidak sadar pas Bibi masuk. Mas Ryan cuma bangun pas dengar suara Mbak Arin terus ngusap kepalanya. Bibi kasian liat Mas Ryan tidurnya nggak tenang. Jadi kalau Mbak Arin ngigau lagi bibi yang ngusap kepalanya. Bibi juga minta maaf sudah naik di atas tempat tidur,” jelasnya panjang lebar.
Ryan tersenyum ramah lagi, "itu bukan masalah, Bi. Terima kasih sudah jaga Arin."
Tepat setelah Ryan mengakhiri ucapannya Arin terbangun. Beberapa kali wanita itu mengerjakan matanya untuk menyesuaikan cahaya. Pandangan matanya sayu dan tidak sepenuhnya terbuka. Arin tidak mengeluarkan
suara selain rintihan sedikit. Mungkin ia merasa lemas dan ada yang terasa sakit di tubuhnya.
"Minum dulu ya? Habis itu baru makan, terus minum obat."
Arin menyungingkan sedikit senyum mendengar ucapan Ryan yang seperti tengah membujuk anak kecil. Lalu ia mengangguk pelan menanggapi ucapan laki-laki itu.
Memanfaatkan kesempatan itu, Ryan juga segera membersihkan diri dan juga sarapan. Tak lupa ia mengabari sekertarisnya bahwa ia tidak bisa datang ke kantor.
***
Sudah empat hari Arin terbaring lemah di atas ranjang. Dua puluh jam waktunya setiap hari ia gunakan hanya untuk tidur. Ryan juga hanya membangunkan wanita itu saat waktu makan dan minum obat. Empat hari sudah Arin sakit, empat hari itu juga Ryan kurang tidur bahkan nyaris tak tidur. Laki-laki itu fokus menjaga Arin yang masih mengigau hal yang sama setiap waktu. Ryan tidak tega melihat Arin memimpikan hal buruk, ingin rasanya ia membangunkan kakak iparnya itu tapi setiap kali wanita itu terbangun matanya selalu ingin tertutup. Entah mungkin pengaruh obat atau apa, Ryan tidak tahu.
Ponsel Arin yang baru saja ia aktifkan dan masih berada di tangannya bordering, sempat mengejutkannya sesaat karena sedikit melamun. Nama yang terpampang di layar menciptakan kerut dikeningnya. Trisdafana Dewi, nama itu cukup asing di telinganya. Karena penasaran dan berpikir mungkin itu penting, Ryan memutuskan untuk mengangkatnya meski terbilang tidak sopan.
"Yak," belum Ryan menyapa, sebuah bentakan lebih dulu menyambutnya. "Lo ke mana aja sih? Empat hari ngilang nggak ada kabar."
Ryan pernah dengar suara ini, seperti suara. "Risda?" Tebaknya.
"Eh?" Nada terkejutnya jelas sekali. "Lo siapa? Arin-nya mana?"
Ryan menjauh sebelum menjawab pertanyaan Risda. "Gue Ryan. Arin lagi tidur. Dia sakit, sudah tiga hari."
"Lah, sakit kok nggak bilang-bilang sih? Dirumah lo, kan? Kirimin gue alamatnya, nggak pake lama," kata Risda cepat lalu menutup telponnya tanpa menunggu balasan dari Ryan.
Ryan menggeleng pelan lalu mengirimkan alamat rumahnya pada Risda. Tidak perlu disertai dengan pertanyaan "untuk apa?" bukan? Karena sudah pasti gadis itu akan kerumahnya untuk menjenguk sang sahabat.
***