(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
16



Arin menuang setengah adonan puding di


atas cake yang masih berada dalam cetakan. Lalu ia menata beberapa potong


biskuit coklat diatasnya. Setelah itu ia menuang kembali sisa adonan puding


tadi diatasnya. Sembari menunggu puding setengah beku, Arin membuat adonan yang


lain. Setelah jadi ia menuangkannya diatas puding yang sebelumnya.


Zevana berdiri disamping Arin dengan


mata yang selalu serius menatap gerak-gerik Arin. Bahkan saat Arin menggosok


pipinya yang terasa gatal, Zevana tak juga melewatkan hal itu.


"Sudah jadi 'kan, boleh dimakan?" Tanya Zevana polos. Sudah sejak tadi ia terus menelan air


liurnya.


Arin terkekeh. "Tunggu beku dulu ya, mbak?"


Zevana mengangguk tak iklas. Matanya


lagi-lagi mengikuti pergerakan Arin yang membawa masuk puding buatannya ke dalam kulkas. Zevana mendesah kecewa dalam hati.


"Tunggu satu-dua jam lagi udah bisa dimakan kok." Kata Arin tak tega melihat Zevana yang terlihat tak


sabar.


"Tunggu apa?" Suara Hanna mengejutkan mereka.


Arin hendak menjawab saat Zevana


mebdahuluinya.


"Tunggu puding buatan Arin. Enak banget deh, Ma." Kata Zevana semangat.


Hanna mendengus. "Belum jadi sudah bilang enak." Katanya sambil berjalan mendekati kulkas.


"Zeva udah pernah rasa kok," Zevana memberengut tak suka dengan ucapan sang ibu. "Ya 'kan, Rin?"


Lanjutnya meminta persetujuan Arin.


Arin hanya mengangguk pelan. Matanya


fokus melihat gestur tubuh Hanna yang membelakanginya. Arin tidak mengerti


mengapa ibu mertuanya masih bersikap dingin terhadapnya.


"Ini yang kamu buat?"


Arin tak menjawab, bukan karena ia sengaja agar Zevana yang menjawab. Tapi ia tak mendengar pertanyaan yang Hanna lontarkan. Bahkan panggilan Zevana saja ia tak dengar.


"Melamun saja terus." Kata Hanna dingin sebelum meninggalkan dapur. Dan Arin masih belum sadar dari lamunannya.


Disisi lain, Kenzi memperhatikan dari jarak yang tak terlalu jauh. Ia tak tega melihat Arin yang diperlakukan seperti itu oleh ibunya, terlebih Arin adalah pribadi yang mudah meneteskan air mata


hanya karena bentakan kecil. Dan selama mereka tinggal bersama Kenzi belum sekali pun melihat Arin melamun.


***


Tak terasa sudah dua minggu Arin tinggal dirumah mertuanya. Dan sampai saat ini Hanna belum merubah sikap dinginnya pada Arin. Sedang Dika sudah bersikap welcome pada Arin sejak


hari pertama bertemu Arin.


Mereka tinggal disana karena permintaan Hanna. Dan pernah sekali Kenzi mengajak Arin untuk pergi kerumah mereka sendiri karena tak melihat wajah kecewa Arin dipagi hari saat mendengar ucapan bernada dingin dan ketus Hanna. Tapi Hanna menentang kemauan Kenzi dengan keras dan menuduh Arin yang mempengaruhi Kenzi agar pergi dari rumah itu.


Saat itu Arin kembali menangis mendengar ucapan pedis Hanna. Ia yang mulanya menerima ajakan Kenzi jadi menolak dengan keras. Dan sejak saat itu ia bertekat membuat Hanna menerimanya


dengan tangan terbuka dan tidak lagi berucap dingin padanya. Dan ia ingin itu bisa ia lakukan dalam waktu kurang dari satu bulan.


Malam ini seperti biasa Arin menyiapkan makan malam dibantu dengan Bi Muna serta Zevana yang kini selalu ingin berdekatan dengan Arin dibanyak kesempatan. Tepat jam tujuh malam, semua


hidangan sudah rapi diatas meja makan.


Arin bersiap memanggil kedua mertuanya


saat Hanna dan Dika muncul tak jauh didepannya. Selalu seperti ini. Pikirnya. Arin pun beralih untuk memanggil Kenzi sedang Devan dan Ryan, Zevana yang panggil.


"Masak apa?" Tanya Kenzi merangkul Arin dan menuruni anak tangga.


"Suka bakso?"


"Bakso?" Ulang Kenzi dan Arin mengangguk. "Kamu buat bakso?" Lagi-lagi Arin mengangguk. "Kamu mau buat aku gemuk ya?"


"Pertanyaannya salah." Protes Arin. "Harusnya gini 'kamu sedang program gemuk?'"


Kenzi tertawa pelan. Tidak salah kalau Arin berucap seperti itu tapi ia juga tak salah bukan. Pasalnya empat hari terakhir olahan daging tidak pernah absen dari menu makan mereka. Meski tidak banyak tapi tetap saja ada.


Pertanyaan itu membuat Arin menoleh


cepat pada Hanna. Tatapan tajam Hanna tepat mengenai retina matanya.


"Apa maksudmu dengan memasak


olahan daging setiap hari?" Suara Hanna tak berubah. Masih dingin dan tajam. "Kamu ingin membuat saya cepat mati? Agar-"


"CUKUP, MA." Bentak Kenzi keras bersamaan dengan Ryan. Hanya bedanya Ryan tak sampai membentak.


Suasana jadi semakin tegang. Dan Dika


yang harusnya bisa menenangkan keadaan tak bisa berbuat apa-apa saat kakinya


diinjak dengan keras oleh Hanna.


"Jangan ikut campur kamu, Ryan." Desis Hanna.


Jika Arin sudah berurai air mata, Zevana malah sedang lahap memakan makanannya dan dilayani oleh Devan yang melirik takut-takut.


Kenzi menarik Arin untuk pergi dari


sana. Tapi Arin bertahan, ia hendak berucap ketika Hanna mendahuluinya.


"Berhenti bersikap baik didepan


saya dan keluarga saya. Saya tahu kamu han-"


"Cukup, Ma. CUKUP. Ken bilang


cukup." Kenzi menghela nafas kesal. "Ken ngga mau lagi denger Mama


bicara buruk dan kasar sama Arin."


Hanna mendengus. "Lihat! Kamu


memang membawa pengaruh buruk terhadap Kenzi."


Arin semakin terhisak mendengar ucapan


Hanna. Rasanya ia tak sanggup lagi mendengar ucapan pedas Hanna. Ia ingin


membela diri tapi pasti ia akan semakin terisak jika dipaksa untuk berbicara.


Hanna membalikkan badannya hendak


pergi dari ruang makan. Tapi suara Arin menginterupsinya.


"Tunggu! Tunggu, Ma!"


Melihat Hanna yang tidak jadi melangkah, Arin merasa semakin ragu untuk


melanjutkan ucapannya. Tapi ia tak tahan lagi. Ia menarik nafasnya pelan lalu


melanjutkan. "Apa.. apa yang bisa Arin lakukan agar Mama berhenti


berpikiran buruk terhadap Arin?" Arin menghembuskan nafasnya diakhir


kalimatnya.


Tanpa ragu Hanna menjawab.


"Tinggalkan Kenzi!" Ia berbalik untuk menatap Arin. "Ceraikan


dia, kalau dia tidak mau ceraikan kamu."


Semua mata menatap Hanna dengan


pandangan terkejut dan tidak percaya, kecuali Zevana yang masih asik makan dan


tidak terganggu dengan keadaan sekitarnya.


"Kenapa diam?" Pancing


Hanna. "Ayo jawab!"


Arin menelan ludahnya keluh. Ia


bingung harus menjawab apa. Ditatapnya Kenzi yang juga tengah menatapnya.


"Iya," suaranya tercekat ditenggorokan. Dan bisa ia lihat gurat kecewa diwajah Kenzi. "Arin akan lakukan kemauan Mama. Biar kak Ken bisa kembali seperti kak Ken sebelum Arin datang." Lanjutnya dengan menunduk.


"Arin!"


***


Aku terharu banget buat orang orang yang ngasih like dan vote, nggak nyangka aku tuh 😭