
Sudah dua minggu setelah kepergian Kenzi, dan belum ada kabar apa-apa dari laki-laki itu. Dan kejadian telepon asing itu hanya Arin simpan sendiri. Ia tidak menceritakan pada siapa pun karena nomor asing yang harusnya bisa dihubungi kembali hilang begitu saja. Ia juga tidak mau kalau hal itu malah membuat mertuanya khawatir, pada dirinya ataupun pada suaminya. Ia berniat menceritakan jika kejadian itu terulang lebih dari tiga kali.
"Pagi, Ma," sapa Arin pada Hanna yang sudah berkutat di dapur. "Maaf, tadi urusan dengan kamar mandi berlangsung lebih lama," jelas Arin perihal keterlambatannya turun ke dapur yang disertai kekehan diakhir kalimatnya.
Hanna tersenyum maklum. Ia tahu menantunya itu akhir-akhir ini sedang disibukkan dengan tugas-tugas kuliah. "Sudah berapa malam kamu begadang?" Arin mengangkat kepalanya menatap Hanna. "Wajahmu pucat. Jangan terlalu sering begadang, nanti kamu sakit."
Arin tersenyum dan mengangguk. Tidak ada Kenzi, ada Ibunya yang juga perhatian terhadapnya. Oh dan jangan lupakan ada Ryan juga didekatnya.
Saat sarapan sesuatu tak terduga terjadi. Arin mual saat hendak memasukkan nasi goreng ke dalam mulut. Tanpa meminta izin ataupun meminta maaf, Arin langsung melesat ke kamar mandi yang berada di dapur. Samar-samar suara yang mual Arin di kamar mandi terdengar sampai di ruang makan.
Beberapa menit kemudian Arin muncul dengan wajah lebih pucat dari sebelumnya. "Maaf, sepertinya sedang masuk angin. Sejak subuh tadi mual terus," katanya merasa tak enak hati.
"Sudah, tidak apa. Lanjutkan sarapanmu! Papa sudah selesai." Dika berdiri. Pergi meninggalkan nasi gorengnya yang baru habis sepertiga. Hal itu semakin membuat Arin merasa bersalah.
"Tidak usah merasa bersalah, Papamu memang dari awal tidak enak makan. Dia sedikit gelisah memikirkan putra sulungnya, suamimu," ujar Hanna menenangkan setelah menangkap apa yang dirasakan Arin lewat ekspresi wajahnya. "Kamu tidak ada kuliah hari ini, kan?" Arin mengangguk. "Kalau begitu setelah sarapan, antar Arin periksa ke Om Evan!" perintah Hanna yang ditujukan pada Ryan.
"Kenapa tidak panggil Om Evan ke sini saja, Ma?" bantah Ryan tersirat.
Hanna berdecak. "Kamu ini, seperti tidak tahu saja kalau jadwal Om Evan selalu padat,” matanya melototi Ryan sebelum berlalu menyusul Dika.
"Kamu makan buah pagi-pagi?" protes Ryan tiba-tiba saat Arin sudah menghabiskan separuh buah kiwinya.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah?" balas Arin tanpa menoleh dan lebih fokus pada buah kiwinya. "Oh iya, nanti nggak perlu antar aku ke dokter. Aku nggak papa kok."
"Siapa yang mau antar kamu ke dokter? Mama itu suruh antar kamu ke Om Evan."
Arin berdecak. "Memangnya keluargamu punya berapa kenalan dengan orang bernama Evan selain yang berprofesi sebagai dokter itu." Ia berdiri meninggalkan Ryan diruang makan.
"Oh, sudah tahu." Gumam Ryan sambil berlalu dari sana.
Setelah Ryan pergi, Arin datang lagi bersama seorang wanita parubaya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga dirumah besar itu. Meski dengan kondisi tubuh yang bisa dikatakan kurang sehat, Arin tetap membantu membereskan bekas makan mereka seperti biasa. Setelah beres barulah ia meninggalkan dapur dan ruang makan.
Didalam kamar, wanita yang berwajah pucat dan mengaku masuk angin tadi bukannya istirahat tapi membuka file dokumen yang dibuatnya semalam. Memeriksa ulang dan memastikan susunan serta isinya tidak ada yang salah sebelum ia konsulkan kepada asisten pembimbing dan dicoret-coret. Jika ada yang dicoret bahkan hanya satu huruf saja itu akan sangat menyesakkan dada bagi para praktikan.
Belum ada setengah jam berkutat dengan laptopnya ketika ketukan dan suara Ryan terdengar dari luar kamar. Arin menyahut seraya bangkit untuk membukakan pintu dan bertanya ada apa. Dan pertanyaan ada apanya itu dibalas decakan oleh Ryan dan disertai kalimat yang cukup panjang. Yang hanya Arin ingat adalah laki-laki itu akan diomeli oleh mertuanya jika tahu ia dibiarkan sakit dan tak terurus. Iya, intinya seperti itu. Dan masih dengan keras kepala Arin menolak karena merasa baik-baik saja. Namun hal itu dibalas dengan pelototan tajam oleh Ryan membuat Arin dengan setengah hati bersiap pergi.
...