
...
"Cantiknya Papa sehatkan?" Kenzi mencium perut Arin untuk yang kesekian kalinya, sambil sesekali mengelus perut Arin yang tiba-tiba menonjol karena pergerakan janin di dalamnya, "sudah berapa bulan sih?" tanyanya pada Arin tanpa mengangkat kepalanya.
"Kalo nggak salah tujuh," jawab Arin sambil mengerakkan pelan tubuhnya mengikuti irama musik milik salah satu boyband Korea. Arin seolah tidak terganggu dengan perut besarnya dan Kenzi yang menempel padanya. Walaupun hanya kepala, bahu, dan kedua kakinya yang goyang tapi Arin terlihat sangat menikmati. "Eh hari ini tanggal dua ya? Hari ini jadwal periksa," lanjut Arin.
Kenzi mengangkat kepalanya dan menatap Arin. Memosisikan dirinya duduk di samping wanita itu. "Biasanya jam berapa?"
"Sore,"
"Kalau siang ini nggak bisa ya?"
Arin tampak berpikir sebelum menjawab. "Bisa kali,"
"Ya udah, siap-siap sana." Perintah Kenzi yang lansung dipatuhi Arin dengan semangat. Semangat kerena akhirnya Kenzi akan mengantarnya memeriksa calon buah hati. Sebenarnya dari empat hari yang lalu, sejak hari dimana Kenzi kembali padanya, Arin sudah berencana untuk meminta pria itu mengantarnya periksa tapi rasa takut Kenzi menolak selalu terbesit dalam hati.
Tiga jam kemudian setelah dilewatkan dengan siap-siap, perjalanan dan mengantri, akhirnya mereka sampai juga dihadapan dokter Eka, dokter kandungan tempat Arin biasa periksa. Wajah Kenzi terlihat serius saat melihat rangkaian pemeriksaan yang dilakukan. Dan sesekali Kenzi melontarkan pertanyaan selama pemeriksaan itu berjalan.
Setelah berkonsultasi tentang hal lainnya seputar perkembangan janin dan calon ibu, serta diberikan resep vitamin yang harus dikonsumsi, akhirnya mereka mengundurkan diri dan pamit pulang.
Dengan senyum mengembang Arin berjalan dengan melingkarkan tangannya di lengan Kenzi. Dan Kenzi juga dengan senang hati memelankan langkahnya, mensejajarkan dengan langkah kecil nan pelan Arin. Mereka berjalan
"Aku tidak akan membiarkan kamu merebut Kenziku lebih lama." Desisnya dengan suara mengerikan. Baru saja kakinya hendak melangkah saat sebuah sapaan lembut mengalun ditelinganya.
"Hallo, Dokter!"
Dia menoleh dan mendapati seorang gadis tengah tersenyum cerah padanya. Dia meringis jijik melihat gadis itu yang beberapa hari ini terus mengikutinya dengan berbagai alasan yang terkadang tidak masuk akal. Lalu mendengus melihat tidak adanya perubahan pada ekspresi gadis itu walau telah ditatapnya dengan ekspresi jijik. Tidak mau berurusan lebih lama, dia segera melangkahkan kaki menjauh. Dia tidak mau gadis itu mengganggu hari-harinya. Sudah cukup ia bersikap baik pada wanita-wanita yang selama ini mendekatinya. Sudah cukup ia bersandiwara.
***
"Mau langsung pulang?"
"Mas mau kerja?" Tanya Arin balik.
Kenzi tersenyum sambil mengemudikan mobilnya. Mas, bisiknya dalam hati. Ini sudah kesekian kalinya Arin menyebutnya dengan sebutan Mas dan tidak lagi memanggilnya kakak. Awalnya Kenzi sangsi kalau Arin akan memanggilnya terus seperti itu karena beberapa kali sebelum ia kepergiannya waktu itu Arin kerap kali mengganti-ganti panggilan untuk Kenzi.
Namun saat Kenzi tanya pada Arin, Arin menjawab tanpa ragu kalau ia sudah bertekad akan memanggil Kenzi dengan sebutan 'mas', Arin juga bilang kalau dia tidak akan lagi memanggil Ryan dengan sebutan 'kak' karena memang sudah seharusnya seperti itu, Ryan adik iparnya tidak mungkin ia panggil kakak bukan. Toh Ryan juga sudah tidak lagi beraku-kamu pada Arin.
....