(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
Preview S2 - 1



Jadi, bab ini dan 3 bab selanjutnya adalah hanyalah pratinjau. Sedikit cuplikan kisah Kenzi dan Arin saat hamil anak ketiga.


💛💛💛


***


"Arinnn!!"


Arin terkikik mendengar teriakan menggelegar Kenzi dari dalam rumah beriringan dengan langkah kakinya yang pasti. Sontak Arin berlari menjauhi rumah. Menapaki jalan masih dengan tawa menghiasi wajahnya.


"Arinnn!"


Arin yakin kalau Kenzi sudah beberapa langkah di belakangnya. Merasa tidak boleh tertangkap dengan mudah, Arin semakin berusaha mempercepat larinya.


"Arin! Jangan lari!"


Bodoh namanya kalau ia berhenti lalu tertangkap begitu saja. Pikir Arin masih tidak peduli dengan teriakan Kenzi.


"Arin! Aku bilang, jangan lari!"


"Kamu kejar ya aku lari!" sahut Arin akhirnya. Kepalanya dengan cepat menoleh ke belakang guna melihat penampakan suaminya sedang berekspresi seperti apa. Melihat wajah sangar Kenzi yang semakin dekat membuat Arin berpikir bahwa sebentar lagi ia akan tertangkap. Untuk itu ia berlari ke pos satpam komplek untuk meminta perlindungan.


"Loh loh, ada apa ini?" tanya pak Agus yang kebingungan melihat Arin bersembunyi di belakangnya.


"Tolong saya pak, dia marah-marah sambil ngejar saya, kan saya takut, Pak."


"Gimana nggak marah kalau setiap hari saya diganggu dan dikerjain terus." Kenzi menyahut lebih dulu sebelum pak Agus mengeluarkan suara.


"Diganggu sama istri sendiri saja kok marah sih, Mas Ken." Pak Agus tertawa di ujung kalimatnya.


"Di?" tanya pak Agus berniat menggoda. Sepertinya melihat raut wajah Kenzi yang memerah, ia bisa menebak kelanjutannya.


"Ah, lagi pula yang membuat saya lebih marah itu, dia yang suka lari-lari padahal lagi hamil." Kenzi mengalihkan tatapannya ke arah Arin yang tiba-tiba meringis sambil memegang perutnya. Sontak Kenzi mendekat dengan mimik khawatir. "Kamu kenapa? Apanya yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang?"


Kenzi yang menunduk hendak membopong Arin langsung berdiri tegak kembali ketika mendengar kekehan dari istrinya.


"Becanda kok," kata Arin terdengar manis tapi menjengkelkan. Rasanya Arin tidak pernah puas mengerjai Kenzi. Dan berhubung Reva, putri sulungnya yang berusia sembilan tahun, dan Sarla, putri keduanya yang berusia enam tahun, sedang diajak berlibur oleh ayah dan ibu Arin, jadi Arin tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langkah ini. Mengisengi Kenzi tanpa takut anak-anaknya melihat tingkah tidak terpujinya.


Tanpa basa-basi lagi Kenzi pergi begitu saja. Membawa serta emosinya yang hendak meluap kepermukaan. Ia begitu marah karena Arin seperti memainkan perasaannya.


"Kak, kak Ken!" Suara Arin terdengar jauh di belakangnya. "Ye dia marah beneran," setelah itu terdengar hentakan kaki yang mendekat cepat.


Arin lari lagi?


Kenzi melotot seiring dengan langkahnya yang mendadak berhenti. Menatap tajam Arin yang sudah berada di sampingnya, yang dibalas dengan kekehan.


"Ayo pulang!" Ajak Arin seraya membalikan tubuh Kenzi. Dan dengan percaya dirinya, ia meloncat ke tubuh Kenzi tanpa takut akan terjatuh.


Lantas Kenzi memekik karena terkejut. Ia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan istrinya. Bagaimana jika Kenzi tidak sigap menangkap Arin lalu terjatuh? Tentu yang terancam bukan hanya Arin tapi juga bayi mereka di dalam perut Arin. Rasanya Kenzi ingin berteriak di depan wajah Arin. Biar wanita itu tahu bagaimana khawatirnya Kenzi terhadap keselamatannya.


***


Halo teman-teman, apa kabar?


Maaf ya, diepisode terakhir kemarin lupa diberitahu.


😘😘😘😘