(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
41



Arin tersenyum ramah dan menyerahkan sejumlah uang pada sopir taxi. Lalu ia turun sambil menenteng hasil belanjaannya di supermarket. Begitu masuk rumah Arin berjalan menuju dapur, kembali mengabaikan rumahnya yang masih tampak tak berpenghuni.


Arin meletakkan belanjaannya di tempat-tempat yang seharusnya, lalu mengambil satu buah apel untuk menganjal perut laparnya. Ia belum ada gairah untuk memasak, yang sekarang ia perlukan segera adalah tidur. Ia sudah sangat mengantuk.


Usai itu Arin menaiki tangga menuju kamarnya untuk betistirahat dengan susah payah, setiap tiga anak tangga ia selalu berhenti untuk mengatur napas. Berkeliling setengah jam di supermarket sudah membuatnya lelah ditambah perjalanan yang lebih panjang karena macet menambah kadar lelahnya.


Arin berjalan dengan mata yang sudah mau tertutup. Selain mudah lelah, sejak ia mengetahui dirinya tengah berbadan dua, Arin juga mudah mengantuk. Menurut nasihat ibunya, wanita hamil tidak boleh terlalu sering tidur di siang hari. Arin lupa alasannya, tapi ia manut saja apa kata orang yang lebih tua.


Mengingat orang tua, terutama ibunya, ia merasa bersalah karena telah berbohong. Dia bilang kalau ia baik-baik saja karena di sampingnya ada Kenzi dan ibu mertua yang menjaganya. Nyatanya sampai tiga minggu lalu hanya ada Ryan didekatnya yang dengan halus Arin paksa agar tetap bersamanya.


Arin membuka pintu kamarnya pelan, sejak musibah yang didapatnya tempo hari Arin memang selalu bergerak perlahan dan tidak terburu-buru seolah takut ada bagian dari tubuhnya yang retak jika digerakkan dengan kasar. Kata dokter yang menanganinya saat itu mengatakan untuk tidak dulu bergerak terlalu aktif karena ditakutkan akan terjadi pendarahan lagi. Maka dari itu Arin begitu menjaga gerakannya dan selalu berhati-hati.


Arin terpaku melihat sosok yang tengah berdiri di depan pintu balkon membelakanginya. Punggung tegapnya membuat jantung Arin bergemuruh. Pelan, dengan langkah gemetar ia mendekati sosok itu. Tetesan-tetasan air mata tak bisa ia bendung dan mengalir bebas di pipinya.


"Sebentar saja!" pinta Arin semakin mengeratkan pelukannya. Ingin rasanya semakin menempel erat pada tubuh Kenzi, tapi apalah daya perutnya yang sudah sangat besar mengahalangi keinginannya.


Arin menghirup berkali-kali bau khas tubuh Kenzi yang begitu ia rindukan. "Sebentar saja, please!" Mohon Arin sekali lagi karena Kenzi masih berusaha melepaskan belitan tangan Arin. Dan setelahnya Kenzi membiarkan Arin memeluknya.


"Aku kangen sama kamu," aku Arin dengan napas terkecat. Hidungnya tak berhenti membaui sang suami. "Kangen banget," Arin semakin terisak membuat Kenzi kembali mencoba melepaskan tangan Arin tapi Arin menahan dan menggelengkan kepalanya pelan. "Jangan pergi lagi. Jangan siksa aku dengan kepergian kamu. Aku nggak bisa. Aku nggak sanggup."


Arin tidak peduli dengan kemeja Kenzi yang basah terkena air mata dan ingusnya. Ia hanya perlu segera melepas rindu pada suaminya. Arin ingin melihat wajah Kenzi dengan segara, tapi ia takut kalau Kenzi akan pergi lagi dari hadapannya. Atau malah menghilang karena yang dilihatnya mungkin hanya halusinasi semata. Jadi, Arin memutuskan untuk seperti itu saja dulu beberapa saat. Membaui dan memeluk tubuh Kenzi yang terasa nyata ia rasakan. Karena beberapa kali ketika ia berhalusinasi melihat Kenzi, sosoknya akan hilang begitu Arin bergerak memeluk. Maka dari itu, Arin tak ingin melepas kesempatan ini begitu cepat.


***


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘