
Keesokan paginya, Kenzi turun dari kamarnya dengan keadaan wangi dan rapi. Wajahnya juga sudah kembali mulus tanpa rambut-rambut kecil yang suka bikin Arin kegelian saat ia cium.
Kenzi bergegas ke ruang makan. Ia sudah sangat lapar karena semalam hanya minum segelas air putih tanpa pengganjal yang lain. Ia pikir di meja makan itu sudah ada Papa, Mamanya dan Ryan. Ternyata hanya ada Ryan yang sedang menyantap nasi goreng dengan raut tak minat.
Tumben, padahal nasi goreng ada makanan kesukaannya.
Kenzi duduk di sebelah Ryan. “Mama Papa, mana?”
“Ada di rumah sakit,” jawab Ryan pelan.
“Sepagi ini? Wah, nggak sabaran pengin ketemu cucunya lagi ya.” Kenzi terkekeh pelan. Tangannya bergerak menyendok nasi goreng ke piringnya.
“Bukan,” cicit Ryan pelan. “Mama masuk UGD setelah tak beberapa lama Papa masuk kamar.”
“Semalam masih baik-baik saja, kan, waktu kamu bawa ke kamar?”
Ryan mengangguk lesu.
“Terus kenapa?”
Ryan meletakkan sendoknya lalu memijit pangkal hidungnya pelan. Dengan mata berkaca-kaca, Ryan mulai bercerita. “Semalam, Papa menyuruhku memberi Mama obat tidur yang ada di laci nakas. Setelah minum obat itu, bukannya tidur, Mama malah mengeluh sakit kepala dan nyeri di dada. Tak lama Papa datang, terus kita bawa ke rumah sakit.”
“Kenapa nggak kasih tahu aku?” Kenzi memukul meja. Tidak terima dirinya tidak dikasih tahu padahal mereka berada di bawah atap yang sama. Rasanya dia seperti tidak dianggap anak, yang tidak wajib diberitahu.
“Kak Ken sudah tidur dan keliatan capek banget. Jadi, Papa melarang.”
“Iya. Kata dokter, Mama ada konsumsi obat sebelumnya lalu ditambah obat tidur sehingga mengalami efek interaksi obat, terlebih Mama punya riwayat masalah kejiwaan.”
Kenzi tercengang. Walaupun selama ini Hanna selalu jahat padanya, tapi biar bagaimanapun Hanna tetaplah wanita yang melahirkannya. Itulah fakta yang selamat dipertegas oleh Dika. Dan sepanjang hidupnya pun, Kenzi tidak pernah sekalipun membenci Hanna. Ia hanya iri tidak mendapat kasih sayang seperti yang Ryan dan Zeva peroleh.
“Jadi, bagaimana kondisi Mama sekarang? Kenapa kamu pulang?”
“Tadinya Mama sempat kritis, tapi sekarang sudah lebih baik. Saat aku pulang tadi masih belum sadar.” Ryan menarik dan embuskan napasnya yang tersendat. “Aku pulang untuk mengambil makanan dan juga memberi tahu Kakak.”
Kenzi berdecak. “Kan bisa lewat telepon. Ck, ayo kita pergi sekarang.” Kenzi berdiri tapi tangannya ditahan Ryan.
“Ini yang Papa sudah duga. Kak Ken makan dulu baru kita ke sana. Kakak belum makan dari kemarin.”
Kenzi mendengkus, dan kembali duduk. Ia menghabiskan nasi gorengnya dengan cepat. Lalu menarik Ryan agar segara ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Mamanya masih belum sadar. Dan papanya menunggui dengan lesu ditemani ayah Arin. Kenzi menyalami kedua orang tuanya itu sebelum menghampiri Hanna di ranjang.
Ditatapnya lekat-lekat wajah Hanna yang pucat. Kalau diperhatikan, sebenarnya wajah Hanna dan Kenzi memiliki kemiripan, dan Kenzi sadar akan itu. Tapi perlakuan serta hasil tes DNA itu membuatnya harus menepis pikiran bahwa Hanna adalah ibu kandungnya.
Kenzi mengelus pipi Hanna yang dingin. Wajah yang tidak pernah ia sentuh selama ini. Kenzi mendekatkan wajahnya ke pipi Hanna.
“Mama jangan kenapa-kenapa lagi ya. Lebih baik Ken menerima tatapan benci Mama daripada harus melihat Mama sakit seperti ini. Karena ini lebih menyakitkan buat Ken. Kenzi sayang mama,” bisiknya pelan di telinga Hanna, lalu mencium pipi Hanna untuk pertama kalinya.