(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
Kabar



Seperti dugaan, Risda belum ada yang melamar. Mengetahui itu, Arin senang sekali. Kalau Risda jadi adik iparnya, mereka akan lebih sering bertemu. Pasalnya sejak melahirnya, mereka sudah jarang bertemu.


Sepulangnya dari rumah Risda, Arin langsung mengubungi mertuanya. Memberitahu bahwa Risda adalah gadis yang baik. Kandidat calon menantu yang tidak akan mengecewakan. Terlebih lagi Arin mengatakan kalau Ryan suka. Padahal Arin belum pernah menyinggung soal Risda pada Ryan.


Arin tersenyum lebar pada Kenzi yang sedang bermain dengan Reva. Ia baru saja menutup sambung telepon dengan ayah mertuanya. “Papa tanya kenapa bukan Ryan yang ngomong.” Arin ikut duduk bersama suami dan anaknya di atas karpet. Tawa kerasnya membuat Reva menatap dengan heran lalu ikut tertawa.


“Tapi tetap mau pulang, kalau bukan besok ya lusa. Tergantung tiketnya.”


Kenzi mengangguk-angguk saja. Malas menanggapi istrinya yang kalau sudah antusias jadi banyak bicara. “Ayo sayang, waktunya tidur.” Kenzi mengangkat paksa Reva yang masih ingin bermain. Membawa anaknya ke kamar mandi dan bersiap untuk tidur.


Mau tidak mau Arin mengikut. Wajahnya sedikit ditekuk karena merasa diabaikan.


Usai Kenzi dan Reva dari kamar mandi, gentian Arin yang masuk. Selang beberapa menit kemudian, ia keluar lagi. “Kak!” panggilnya panik.


Kenzi yang sedang menidurkan Reva menoleh malas. “Kenapa?”


“Aku telat.”


“Memangnya kamu mau ke mana malam-malam begini?”


Arin berdecak, ia mendekati ranjang. “Menstruasiku telat datang. Sudah dua minggu.”


“Terus?”


“Ya kalau aku hamil bagaimana?”


Kenzi mengernyit. Ia bangkit duduk setelah yakin Reva sudah tidur. “Kok bagaimana? Ya bagus dong, usaha kita nggak sia-sia.”


Arin mengerucutkan bibir, cemberut. “Masalahnya Reva kayaknya belum mau punya adik.”


Kenzi menepuk-nepuk kepala Arin pelan. “Nanti aku yang bicara. Toh kamu belum tentu hamil juga, kan? Besok tes.” Kenzi tersenyum lalu mengecup dahi Arin dengan sayang. Mengisyaratkan Arin agar menyusul Reva ke dalam mimpi.


Namun, mau bagaimana lagi, Kenzi sudah sangat ingin punya anak lagi. Dan ia mengharapkan anak laki-laki. Kalau benar Arin hamil, semoga anak itu laki-laki.


Sebelum ikut menutup mata, sekali lagi Kenzi mencium kening Arin dan Reva. Disematkannya doa agar dua bidadari tak bersayap di depannya itu sehat-sehat selalu.


Baru akan tertidur, tiba-tiba ponsel Kenzi bergetar. Begitu mengetahui sederet nomor tanpa nama memanggil, buru-buru Kenzi mengangkat dan berjalan menuju balkon, menjauh dari Arin agar tak mengganggu serta tak mendengar obrolannya.


“Galih pergi lagi.”


Sungguh, itu bukan kalimat sapaan yang enak didengar oleh telinganya. Namun, jelas tak perlu basa-basi untuk masalah yang satu itu.


“Sejak kapan dia pergi?”


“Siang tadi,” jawab seseorang di seberang sana.


Kenzi menghela napas. Tempat yang jauh dari kota membuat mereka kesulitan menghubungi. “Kalian tidak tahu di mana dia?”


“Maaf, Pak. Seperti biasa, dia selalu bisa lepas dari pantauan kami.”


“Kirim detailnya ke email saya. Dan tolong jangan sampai kecolongan lagi sampai dia mendekati istri dan anak saya.”


“Siap, Pak.”


Kenzi menutup teleponnya. Menghela napas ia bersandar dip agar balkon. Menatap langit-langit yang remang-remang. Galih menghilang lagi dari pantauan. Sudah kesekian kali sejak Galih di tempatkan di pelosok yang jauh dari kota dan jaringan internet untuk mengabdi sebagai dokter. Dan tentu tujuannya juga sebagai hukuman untuk Galih.


Namun seperti yang Kenzi pikirkan. Hukuman Galih yang seperti itu terlalu ringan untuk disebut sebagai hukuman. Terlebih berkali-kali Galih menghilang dari desa. Walau beberapa hari kemudian Galih kembali lagi, tapi tetap saja hal itu membuat Kenzi gelisah.


Semoga Galih tidak berniat macam-macam lagi pada keluarga kecilnya.