(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
Preview S2 - 2



Jadi, bab preview ini hanyalah pratinjau.


Sedikit cuplikan kisah Kenzi dan Arin saat hamil anak ketiga.


Selamat membaca dan terima kasih ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


๐Ÿ’›๐Ÿ’›๐Ÿ’›


โ€ฆ


โ€œArin, jangan mengganggu!โ€ tegur Kenzi untuk kesekian kalinya.


โ€œIya,โ€ mulut boleh berkata iya, tapi tangan tak pernah berhenti bergerak. Tangannya masih asik menggunakan tubuh Kenzi sebagai media tempatnya menggambar dengan spidol berwarna permanen yang baru beberapa hari ia beli. Tak hanya itu, sesekali ia menarik rambut-rambut halus yang ada didada Kenzi.


Dengan posisi Arin yang tiduran di paha memang tidak menghalangi pekerjaan Kenzi yang berkutat dengan laptop. Tapi pergerakan Arin terkadang membuatnya tidak fokus, apalagi sakit yang ditimbulkan dari bulu dadanya yang ditarik sering mengganggu konsentrasinya.


โ€œArin!โ€ bentakan Kenzi tiba-tiba membuat Arin bangkit seketika. โ€œHarus berapa kali aku bilang untuk tidak mengganggu, hah?โ€


Teriakan keras Kenzi di depan wajahnya membuat Arin terkejut sampai spontan menjauhkan tubuh. Kilat marah di mata Kenzi membuat tubuh Arin bergetar samar.


Rasanya Kenzi sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya. Pasalnya rasa sakit yang terasa, meningkat kala Arin benar-benar mencabut bulu dadanya dan parahnya ia mencabut tiga helai sekaligus. Hal itu bukan hanya membuat tubuhnya kesakitan tapi juga hilangnya ide yang ada dikepala. Semua rencana gambar yang ada dikepala lenyap seketika.


Berusaha tak peduli, Kenzi kembali menghadap laptopnya. Mencoba konsentrasi yang mencari sisa-sisa ide yang masih melekat di otak. Harusnya Arin tahu kalau seorang arsitek sedang merancang dan menggambar, mereka tidak bisa diganggu karena bisa berakibat fatal pada ide di kepala.


Setengah jam berlalu hanya ada keheningan diantara mereka. Kenzi hanya fokus pada pekerjaannya dan mengacuhkan Arin yang bergerak gelisah disampingnya.


โ€œMakan sana! Suara perutmu merusak konsentrasiku,โ€ ucap Kenzi ketus setelah mendengar suara perut Arin yang ketiga kalinya.


Melihat Kenzi yang bersuara ketus dan tanpa menoleh ataupun meliriknya sedikitpun, membuat mata Arin memerah. Segera ia bangkit dari duduknya dan turun ke lantai satu. Mencari sesuatu yang bisa ia makan.


Air mata yang sejak tadi tertahan kini meluncur bebas kala teringat kembali akan kekecewaannya pada sikap Kenzi. Pria itu sukses membuatnya merasa kecewa, sedih, marah, kesal, serta rindu di saat bersamaan.


Sesampainya di dapur, ia mengeluarkan semua makanan yang ada di lemari pendingin. Tingkahnya seperti orang yang akan memakan semua makanan yang menutupi meja makan seorang diri. Tapi lima belas menit berlalu tidak ada satu pun makanan yang masuk ke mulutnya. Hanya air putihlah satu-satunya. Ia tidak selera sama sekali.


Kesal tak ada yang bisa masuk ke dalam mulutnya, ia memasukan semua makanan itu di dalam kantung plastik. Memisahkan makanan basah dan kering, serta buah-buahan yang sudah ia kupas dan belum dikupas. Merasa belum puas, ia mengeluarkan semua sayuran mentah dan bahan bahan masakan juga dari kulkas dan memasukannya ke dalam kantung.


Arin tergopoh keluar rumah dengan membawa serta kantung-kantung itu. Dengan santai ia membuang kantung yang berisi makanan ke dalam tong sampah. Sedang kantung buah dan sayurannya ia bawa ke arah taman kompleks. Sesampainya di sana, ia membagikan kantung-kantung itu pada penjual kaki lima yang melintas.


Menjelang magrib Arin baru beranjak pulang. Selama di taman ia banyak membeli aneka jajanan, tapi tak ada satu pun yang ia bisa makan. Meski dipaksa sekalipun makanan-makanan itu akan keluar dari mulut dengan sendirinya bahkan makanan itu belum mencapai kerongkongannya. Arin merasa ada sesuatu di ujung kerongkongannya yang membenci makanan sehingga mendorong makanan makanan itu keluar dari mulutnya. Tidak tahukah bahwa Arin sudah sangat lapar.