(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
20



Jarum jam sudah menunjuk pukul sepuluh


malam ketika Kenzi masuk kedalam rumah. Sesekali ia menggerakkan leher dan


tangannya yang terasa lelah. Kakinya bergerak menuju dapur untuk mengambil


minum. Tapi ia malah dikejutkan dengan Arin yang tertidur dimeja makan. Kepalanya berada diatas meja dengan berbantalan kedua tangannya.


Kenzi mendekat. Dipandangnya makanan


yang sudah tersaji diatas meja yang masih dalam keadaan utuh. Tapi ada satu piring yang membuat Kenzi terkikik geli yaitu piring yang berada tepat didepan wajah Arin. Dilihat dari sisa-sisa yang tertinggal, Kenzi bisa mengetahui bahwa Arin sudah menghabiskan sepiring kangkung yang ditumis ala Arin.


Tadi Kenzi sudah memberi tahu Arin


bahwa mungkin ia akan pulang saat waktunya makan malam. Paling telat hanya sampai jam delapan malam. Tapi Kenzi tidak mengira pekerjaannya kembali menyita pikirannya dan membuatnya lupa waktu. Saat ia tersadar sudah ada tujuh panggilan tak terjawab dari Arin.


Kenzi merapikan sedikit rambut Arin yang berantakan, lalu diciumnya kening Arin pelan. "Maaf," bisiknya yang juga pelan.


Lalu dengan hati-hati Kenzi mengangkat Arin dan memindahkannya ke dalam kamar. Sebelum meninggalkan Arin, Kenzi kembali mencium kening Arin.


Kenzi kembali lagi keruang makan dan menghabiskan semua makanan yang disajikan Arin untuknya. Bukan hanya kerena lapar tapi karena ia tidak ingin membuat Arin kecewa. Setidaknya dengan menghabiskan makanan itu rasa bersalahnya pada Arin sedikit berkurang.


"Loh kok disini?" Kenzi terkejut melihat Arin duduk dianak tangga paling atas dengan kepala bersender di pagar pembatas. "Kamu ngelindur?" Tanyanya lagi begitu sampai dihadapan Arin.


Arin menggeleng pelan.


"Terus?"


"Nungguin Kak Ken selesai makan," katanya pelan lalu diakhiri dengan dengan senyuman. "Makasih ya sudah mau ngabisin makanannya."


Kenzi hanya balas senyum mendengar ucapan Arin. Lalu tanpa Kenzi menggendong Arin dan dibawanya kedalam kamar.


Kenzi merebahkan Arin diatas tempat tidur. "Kamu tidur lagi!" Katanya sambil membawa Arin kepelukannya.


Kenzi tersenyum. Ia suka setiap Arin menunggunya selesai makan. Sesederhana itu tapi mampu membuatnya tersenyum sepanjang hari.


***


Arin berbaring sambil memainkan ponselnya di samping Kenzi yang duduk sambil membaca buku. Hampir setiap weekend kegiatan mereka adalah seperti ini, kegiatan dan posisi yang sama. Meski terkadang Kenzi meletakan paksa kepala Arin di atas pahanya.


"Kak Ken nggak bosan ya baca buku?" Tanya Arin tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponselnya.


"Buku itu gudang ilmu. Hampir semua ilmu bisa kita dapatkan dari buku." Jawab Kenzi yang juga tidak mengalihkan perhatiannya dari buku yang dibacanya.


"Tahu kali kalau buku itu gudang ilmu. Maksudnya gini, kak Ken nggak ada niat gitu kasih istirahat ke otak dengan sehari saja ngga baca buku?"


"Seperti kamu?"


Arin mengangguk, "iya."


"Kalau kamu itu bukan istirahat


baca buku tapi memang dasarnya malas baca buku. Makanya ipk kamu rendah."


Kini perhatian Arin jadi teralihkan. "Kok jadi bawa-bawa ipk?"


"Memangkan ipk kamu rendah karena


kamu malas belajar, malas baca buku."


"Kok ngeselin sih," gerutu Arin. Tangannya dengan cepat menarik buku yang dibaca Kenzi membuat fokus pandang Kenzi beralih ke Arin. "Stop baca buku! Besok-besok lagi bisa." Ia memelotot sambil menjauhkan buku itu.


Kenzi memutar bola matanya melihat tingkah Arin. "Kalau begitu, stop main hape! Besok-besok lagi bisa," balas Kenzi tak mau kalah dengan merebut ponsel Arin membuat Arin memberengut. Arin ingin mengambil kembali ponselnya tapi karena ia dalam posisi baring dan Kenzi duduk, otomatis tangannya tidak bisa menggapai tangan Kenzi yang


panjang.


"Singkirkan tanganmu!" Kenzi


menepis tangan Arin pelan. Ia menyalakan kembali layar ponsel Arin yang sudah


mati. "Bagaimana polanya?" Tanyanya karena ponsel Arin sudah


terkunci.


"Huruf R," jawab Arin malas.


Kenzi memicingkan matanya menatap Arin


curiga. "R?" Ulangnya. "Ryan?" Tuduhnya.


matanya. "Revan, duh."


Kenzi menatap Arin kurang percaya.


"Aku nggak bohong ya." Kata Arin lagi saat menyadari Kenzi yang masih


terlihat tidak percaya. Ia mengangkat kepalanya dan diletakkan diatas paha


Kenzi. "Cuma pola juga dipermasalahin sih."


Kenzi mencoba membuka ponsel Arin.


Pola pertama yang ia buat, salah, karena ia membuat pola R dalam huruf kecil.


Lalu ia membuat dengan huruf kapital dan berhasil. Ternyata yang terakhir


dibuka oleh Arin adalah aplikasi instagram dan menampilkan sebuah akun yang


isinya lebih banyak foto seorang laki-laki.


"Siapa ini?" tanya Kenzi


galak, plus dengan tatapan tajamnya.


"Manusia," jawab Arin cuek


sambil balik menatap Kenzi. Jawabannya malah membuat tatapan Kenzi semakin


tajam. "Cowok," lanjutnya lagi semakin asal.


"Arin!"


Arin menghela nafas pelan sambil


membuang muka. "Teman,"


"Teman? Kenapa stalking-stalking?" Suara Kenzi sedikit meninggi membuat Arin merasa sedang dituduh selingkuh.


"Teman lama, dan kita pernah dekat sih." Kata Arin pelan, matanya menerawang ke masa-masa SMA-nya.


Mendengar kata 'pernah dekat' Kenzi


langsung mencari topik lain untuk mengalihkan pembicaraan. Karena ia tahu betul bagaimana masa-masa Arin di SMA. Ia tahu siapa-siapa saja yang dekat dengan Arin selama memakai seragam putih abu-abu itu.


Hanya ada satu laki-laki yang pernah mendekati Arin saat SMA. Saat mengetahui itu, Kenzi langsung bertindak diam-diam agar laki-laki itu tidak mendekati Arin. Sisanya tidak sampai mendekat, karena Kenzi punya banyak mata-mata untuk menjauhkan Arin dari laki-laki lain.


Sampai Kenzi harus keluar negeri beberapa tahun karena urusan pekerjaan. Jadinya ia meminta tolong pada Ryan untuk menjaga Arin untuknya. Keputusan yang sampai sekarang tidak bisa ia anggap benar atau salah.


"Ini foto siapa?" tanya Kenzi mulai mengalihkan pembicaraan. Lalu berlanjut pertanyaan-pertanyaan tak penting lainnya.


"Ini foto dimana?"


"Ini kapan?"


"Ini sama siapa?"


"Kenapa kamu follow dia?"


Masih banyak lagi pertanyaan tidak


penting yang Kenzi ajukan dan dijawab malas-malasan oleh Arin. Malasnya karena


Kenzi terlalu banyak bertanya meski itu hanya sepele.


Puas melihat-lihat Kenzi mengembalikan


ponsel itu pada empunya tapi ia tidak mendapat respon. Kenzi menundukkan


wajahnya dan mendapati Arin sudah tertidur. Padahal mungkin baru sekitar lima


menit mereka diam tapi Arin sudah tertidur.


Kenzi memindahkan kepala Arin dengan


hati-hati agar Arin tidak terbangun. Lalu ia ikut berbaring disamping Arin dan membawa wanita itu kedalam pelukannya. Sebelum ikut menyelam ke alam mimpi, Kenzi mencium kening Arin, kedua matanya, turun ke hidung lalu terakhir di bibir.