(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
63



“Kak,” Arin menghampiri Kenzi yang duduk di kursi depan ruang rawat Hanna. Ia ikut menangis melihat mata sang suami yang sembab dan terus mengeluarkan air mata.


“Mama, Mama,” racau Kenzi dalam pelukan Arin.


Arin membalas dengan erat, mengelus-elus punggung Kenzi, berusaha menenangkan. Ia baru saja diberitahu bahwa kondisi Hanna makin memburuk. Dokter baru menemukan kandungan racun dalam darah Hanna yang ternyata sudah menumpuk sejak lama, sedikit-sedikit dan terus bertambah. Dan diduga sebelum Hanna berdebat dengan Kenzi, wanita itu sudah lebih dulu meminum racun yang selama ini sengaja ia konsumsi. Lalu racun itu langsung bereaksi ketika bertemu dengan obat tidur.  Kandungan pada obat tidur mempercepat reaksi dari racun itu.


Arin baru juga diberitahu oleh ibunya tentang hubungan Kenzi dan Mamanya yang sebenarnya jauh dikatakan baik, tentang bagaimana ibu dan anak itu begitu pandai bersandiwara di depan orang-orang. Dan dengar-dengar Kenzi yang selama ini menyakini bukan anak kandung Hanna, baru saja mengetahui alasan sebenarnya Hanna bersikap tak baik.


Sesekali Arin menepuk-nepuk punggung Kenzi. “Mama akan baik-baik saja kok,” katanya menenangkan. Kenzi memang tidak menangis tersedu-sedu. Laki-laki itu merasa sesak, menyesali hubungan buruknya selama ini dengan Hanna.


Kenzi bangkit dari pelukan Arin. Ia menghapus cepat air matanya yang tersisa. Malu juga sudah tua ketahuan menangis.


Arin tersenyum melihat tingkah Kenzi. “Ternyata tenaga sama cengengnya berbanding lurus ya,” goda Arin pelan.


“Laki-laki itu manusia, jadi bisa nangis juga,” bela Kenzi.


“Hmm … masa? Kalau gitu apa kamu pernah nangisin aku?” Arin menyenggol pelan lengan Kenzi.


Kenzi melirik Arin. Wanita itu mengerucutkan bibir sok imut sambil mengedipkan sebelah matanya. “Jelas pernah lah.”


“Wah, berapa kali? Kapan, kapan?”


“Tak terhitung. Tidak ingat.” Kenzi membuang muka ke arah pintu ruang ICU di mana ada Hanna di dalamnya. Dokter itu belum keluar juga untuk memberi tahu keadaan Hanna. Mendadak Kenzi menjadi sedih lagi.


“Banyak-banyak doa aja semoga Mama nggak kenapa-kenapa.” Arin menyadarkan kepalanya di lengan Kenzi.


“Tadi aku cium pipi Mama untuk pertama kalinya. Meski sedih mama sakit dan tidak sadar, tapi aku senang akhirnya bisa kayak orang lain yang bisa ungkapkan rasa sayangnnya pada Mamanya lewat kecupan sayang. Ternyata sehalus itu pipi Mama.”


Arin diam saja mendengar Kenzi bercerita. Sebagai tanda ia mendengarkan, Arin menggenggam lembut tangan Kenzi. Mengelus dan menepuknya sesekali.


“Setelah aku cium, nggak lama Mama nangis. Aku pikir segitu bencinya Mama sama aku sampai sedih karena aku cium diam-diam. Tapi, habis itu Mama senyum, manis banget. Seolah Mama menyesal dan senang di bawah alam sadarnya.”


“Nanti kalau Mama sudah sadar dan sudah pulang ke rumah, kita tinggal lagi dulu di rumah Mama ya?” tawar Kenzi. “Rasanya aku ingin sama Mama terus. Banyak yang ingin aku lakuin untuk Mama.” Kenzi kembali bersemangat. Lalu menceritakan rencana-rencana yang akan dilakukan untuk sang mama. Dari yang terdengar konyol sampai yang mengharuhkan, Kenzi menceritakan semuanya.


Saking asiknya bercerita, ia sampai tidak sadar Dokter yang menangani Hanna keluar.


Arin lah yang menyadari Dokter itu telah keluar dan baru saja mendekati Papa Kenzi.


“Saya minta maaf, beliau, nyonya Hanna tidak bisa tertolong. Almarhum menghembuskan napas terakhir di pukul 14.53.”


Dari semua orang yang mendengar penjelasan Dokter, Kenzi lah yang paling terpukul. Wajahnya merah menahan emosi.


Kenzi terduduk seketika. Ia menyesali semua yang terjadi. Apalagi terakhir kali ia berbicara dengan Hanna itu dengan nada tinggi.


Dan kini tidak ada lagi kesempatannya untuk bersama sang mama. Hilang sudah harapannya yang telah ia susun.


Hanna pergi begitu tiba-tiba dan tidak meninggalkan pesan apapun. ~~~~


***