
*Jadi, bab preview ini hanyalah pratinjau.
Sedikit cuplikan kisah Kenzi dan Arin saat hamil anak ketiga.
Selamat membaca dan terima kasih ππ
πππ*
Ribuan kerlap kerlip cahaya bintang di langit seakan mengkhianati suasana hati Arin yang suram.
Sejak siang tadi tampaknya tidak ada keinginan Kenzi untuk menyudahi pekerjaannya. Sepertinya saat ini pria berusia tiga puluh delapan tahun itu sedang asik menikmati makanannya yang ia pesan online khusus untuknya sendiri. Layaknya seorang pria single, pria itu sama sekali tidak memikirkan istrinya yang sedang hamil muda. Dengan santai memesan makanan untuknya sendiri dan dinikmati seorang diri pula, tanpa peduli dengan keadaan sang istri yang kelaparan seharian.
Air mata Arin kembali mengalir saat melihat Kenzi menerima pesanan dengan senyum bahagia dan tampak tergesa saat membawa makanan itu kelantai atas tempatnya bekerja. Saking senang dan tergesanya, istri didepan mata dilewati begitu saja.
Arin tahu Kenzi bukannya masih marah padanya, tapi pria itu benar-benar telah melupakannya. Biasanya semarah-marahnya, Kenzi tetap memperhatikan Arin. Walau tanpa ucapan, Kenzi selalu memastikan Arin sudah makan, meminum susu hamilnya, dan hal-hal semacamnya. Diam-diam tetap mengawasi Arin meski dalam keadaan marah. Bukan seperti sekarang yang mengabaikan Arin sepenuhnya.
Mungkinkah Kenzi sudah tidak mencintainya lagi? Akankah ia dicerai saat sedang hamil? Dan ditinggalkan dengan yang lain?
Pertanyaan seperti itu dan sejenisnya sudah memenuhi kepala Arin sejak tadi. Rasanya Arin menangis sekencang-kencangnya, memaki-maki Kenzi dengan keras di depan wajahnya. Tetapi pria itu tidak ada di sini. Haruskah Arin menghampiri Kenzi di ruang kerjanya?
Derit pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Arin dari indahnya langit malam. Matanya mengikuti pergerakan Kenzi yang langsung merebahkan tubuh di tempat tidur. Benar-benar tanpa melirik Arin sedikit pun.
Kesal, Arin juga menghampiri tempat tidur. Melompat tepat disamping Kenzi. Kekesalan pun semakin menjadi saat tidak mendapat respon apapun dari Kenzi. Pria itu tetap bergeming seakan-akan tidak merasakan apapun.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Arin memilih bangkit dari tempat tidur. Sebelum menjauh ia menyempatnya memukul wajah Kenzi menggunakan bantal dengan sisa-sisa tenaganya. Dan sebelum benar-benar keluar kamar, Arin menoleh sekali untuk memastikan respon apa yang ia dapat. Tapi harapan hanyalah harapan. Suara mendengkur Kenzi-lah yang ia dengar.
Bersamaan dengan langkahnya keluar kamar, air mata Arin kembali mengalir dan dengan kasar ia menghapusnya. Kesal, mengapa harus sedih hanya karena diabaikan oleh Kenzi. Manusia bumi yang tidak tahu diri sudah membuat batinnya tersiksa.
***
Kenzi membuka matanya terkejut. Niatnya hanya pura-pura tidur tapi malah tertidur sungguhan. Dilihatnya sisi lain tempat tidur yang masih kosong. Arin belum kembali. Sudah berapa lama ia tertidur.
βAstaga!β pekiknya terkejut melihat jam digital dinakas menunjukan pukul sebelas malam lebih tujuh belas menit. Itu artinya ia tertidur nyaris tiga jam.
Lalu ke mana Arin sekarang?
Kenzi bergerak turun dari ranjang dan mencari sang istri yang sudah ia abaikan seharian. Sebenarnya ada rasa tak tega juga karena mengabaikan Arin seperti itu. Tapi hal itu terpaksa ia lakukan karena merasa kesal dengan Arin. Ia ingin Arin tahu kalau ia juga bisa marah pada wanita itu. Ia ingin Arin merasakan apa yang ia rasakan meski dengan cara yang berbeda. Kenzi kesal terus-terusan digunakan sebagai kanvas, sedang Arin kesal karena diabaikan.
Kenzi berlarian ke sana kemari sambil membawa gelas berisi susu yang ia temukan di meja dapur. Ia yakin susu yang masih utuh dan sudah dingin itu milik Arin yang belum sempat diminum.
Di mana adanya wanita itu? Kenzi bahkan seudah menyusuri setiap sudut rumahnya tapi tak juga menemukan Arin. Tidak mungkin Arin keluar seorang diri malam-malam seperti ini kan? Kenzi berusaha berpikir positif kalau Arin pasti ada disalah satu sudut rumahnya. Barang kali dia saja yang tidak teliti memeriksa.
Mengelilingi rumah beserta halamannya tiga kali cukup menguras tenaga. Arin tidak ia temukan di mana pun. Bahkan gudang yang jarang tersentuh pun ia periksa.
Ini tidak benar. Arin meninggalkan rumah malam-malam hanya seorang diri. Ini semua salahnya yang mengabaikan Arin terlalu. Sekarang ia harus mencari kemana?