
Hari minggu memang waktu yang pas untuk jalan-jalan. Seperti yang dilakukan Kenzi dan Arin. Sembari menikmati waktu santai mereka jalan-jalan mendatangi sebuah mall. Ditengah keramaian, keduanya tampak tak bisa menutupi kebahagian yang tengah dirasakan. Masing-masing terselip senyum tipis dibibir mereka.
Kenzi menggandeng Arin layaknya anak kecil yang bisa hilang ditengah keramaian. Dan untuk pertama kalinya Arin tidak mempermasalahkan diperlakukan seperti itu, malah ia menyukai sikap Kenzi yang terlihat protektif.
Mereka telah melewati toko-toko boneka dan aksesoris. Kenzi pikir Arin akan tertarik untuk masuk ketoko-toko itu tapi ternyata tidak. Sepanjang melewatinya Arin hanya bergumam lucu tanpa niatan untuk membeli salah satunya.
Ketika melewati toko sepatu, Arin berhenti, melihat sepatu kets pasangan. Perpaduan warna putih dan birunya menarik perhatian Arin karena ia menyukai dua warna itu. Tanpa berpikir panjang, Arin menarik Kenzi kedalam toko dan menghampiri sepatu itu. Arin memperhatikan ukuran sepatu itu.
"Ukuranmu berapa?" Tanya Arin tanpa mengalihkan pada sepatu ditangannya.
"Beli saja itu kalo kamu mau." Jawab Kenzi.
"Emang ini muat ya?" Tanyanya lagi, tapi kali ini matanya membandingkan sepatu di tangannya dan kaki Kenzi.
"Tidak, itu bukan ukuranku tapi beli saja kalo kamu mau."
"Kalo kekecilan ngapain dibeli?" Geram Arin. Kesal melihat Kenzi yang seperti tidak menghargainya. "Aahh.. iya, ini kan ukurannya kak Iyan, pasti dia mau pake." Lanjut Arin berbinar.
Mengabaikan Kenzi yang mendelik padanya, Arin menghampiri pegawai yang tidak jauh dari mereka. Cepat Kenzi mengejar dan merebut dua sepatu itu lalu membisikkan sesuatu pada pegawai wanita itu.
Arin mendesis jengkel, ia penasaran tapi enggan bertanya. Ia merasa kesal dengan Kenzi dan memutuskan untuk keluar lebih dulu. Arin memperhatikan orang yang lalu lalang, salah satunya gerombolan anak SMA yang jalan dengan pasangan masing-masing dan saling rangkul membuatnya geleng-geleng kepala.
Rangkulan tiba-tiba dipundak membuatnya terkejut. Hanya dengan mencium aromanya Arin bisa mengetahui siapa orang itu. Aroma yang beberapa minggu terakhir sudah sangat dihafalnya.
Kenzi menarik Arin menjauh dari sana, dan Kenzi tidak memperdulikan bibir Arin yang manyun.
"Ini," kata Kenzi sambil menyodorkan bag paper pada Arin.
Masih dengan wajah cemberut, diambil dan dilihatnya isi bag paper itu. Lalu dengan senyum malu Arin melingkarkan tangan kirinya kepinggang Kenzi. Membuat tubuh mereka menempel erat. Arin tidak tahu mengapa ia suka saat berdekatan dengan Kenzi seperti ini. Berdekatan dengan Kenzi terkadang membuatnya teringat akan Ryan.
Kenzi mengajak Arin masuk ketoko pakaian. Berbeda dengan gadis kebanyakan, Arin terlihat biasa saja melihat dress-dress cantik didepannya. Dilihat dari penampilannya sekarang saja pasti tidak akan membuat heran akan hal itu. Lebih setengah jam berlalu Arin tak kunjung menampakkan ekspresi tertarik pada baju-baju disana.
"Ngga ada yang kamu suka?" Akhirnya pertanyaan Kenzi keluar juga setelah dari tadi ia tahan.
"Banyak," gumam Arin.
"Terus?"
"Bingung aja mau pilih yang mana." Jawaban Arin membuat Kenzi menghela nafas lelah.
"Tunggu di sini!" Perintah Kenzi sebelum pergi.
Tak sampai sepuluh menit Kenzi kembali dengan beberapa dress ditangannya.
"Ini saja." Katanya sambil memberikan dress-dress itu satu persatu pada Arin.
Mata Arin mendelik menatap tujuh potong dress ditangannya. "Kok dress semua?" Protesnya.
Kenzi mengambil alih semua dress itu. "Tidak usah protes." Katanya sambil menggiring Arin kearah kasir.
Begitu hampir sampai, Arin berhenti tiba-tiba didepan sepasang mannequin yang juga memakai pakaian casual sepasang.
"Beli ini ya?" Pinta Arin dengan mata berbinar.
"Kamu alay juga ternyata." Celetuk Kenzi.
Arin mendesis. "Eh, biar pun kita ini pasangan baru ketemu kemarin tapi kalo depan umum pura-pura jadi pasangan romantis donk, ah gimana sih." Bisik Arin dengan suara ditekan.
Ucapan Arin membuat sudut bibir Kenzi berkedut. Arin baru saja menyuruh Kenzi agar bersikap romantis didepan umum tapi saat Kenzi membelikannya dress tadi ia malah protes. Sikap Arin yang mudah berubah-ubah itu membuat sebuah ide terlintas dikepala Kenzi.
Kenzi tersenyum manis walau Arin tak melihatnya. "Anything for you, baby." Kata Kenzi manis dengan mengecup pipi kanan Arin.
Arin sontak memegang pipinya dan menoleh pada Kenzi. Wajahnya bersemu merah. Apalagi di depan mereka ada seorang pegawai yang hendak melayani mereka.
_
Seperti belum puas, begitu keluar dari toko pakaian itu Arin kembali berjalan dengan semangat. Tanpa meminta persetujuan Kenzi, Arin memasuki sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi.
Mata Arin berbinar melihat deretan baju-baju bayi perempuan yang cantik-cantik. Ia mengambil satu baju yang terlihat berbeda dari yang lain.
"Cantik, ya." Katanya pada Kenzi begitu menyadari pria itu sudah berdiri di sampingnya.
"Kamu sudah ingin punya anak?" Tanya Kenzi pelan dan terdengar lirih.
"Iya, dong." Jawab Arin semangat. "Keinginan terbesar seorang wanita itu adalah menjadi seorang ibu."
"Dengan siapa?"
"Apanya?"
"Mau punya anak dengan siapa?"
Arin masih asik dengan baju-baju bayi itu dan tidak menyadari ekspresi Kenzi yang berbeda dan tampak berjaga-jaga.
"Sama kak Iyan," kata Arin pelan tapi cukup bisa didengar Kenzi. Dan ucapan Arin itu membuat hatinya seperti ditusuk tombak besi panas. "Dul.."
"Selesaikan belanjamu, aku tunggu diluar." Sahut Kenzi cepat meninggalkan Arin yang tampak bingung dengan perubahan Kenzi.
Cukup lama Arin berkutat dengan baju dan aksesoris bayi lainnya. Begitu puas melihat-lihat dan membeli beberapa, ia segera keluar dari toko itu. Diedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Kenzi.
Begitu terlihat, Kenzi sedang berada disebuah restoran tak jaub dari sana bersama seorang wanita dewasa seumuran Kenzi. Dengan perasaan tak suka, Arin menghampiri keduanya.
"Hai, ngga ganggu 'kan?" Sapa Arin dan langsung duduk disamping Kenzi. Belanjaannya ia taruh dikursi yang lain.
Berbeda dengan Kenzi yang diam saja seperti mengabaikan kehadiran Arin, wanita dewasa di depan Kenzi balas menyapanya dengan ramah.
"Hai, kamu yang namanya Arin yang--"
Menyadari siapa wanita itu, Arin segera memotong ucapan wanita itu. "Aku mau ketoko buku dulu." Katanya saraya berdiri.
"Tidak usah. Terima kasih. Silahkan dilanjutkan ngobrolnya tadi." Katanya lalu pergi dari sana.
Ia sedikit kecewa karena Kenzi mengabaikannya. Apa karena ada wanita itu makanya ia diabaikan? Wanita itu adalah wanita yang dulu pernah dipergokinya bersama Ryan sedang bermesraan layaknya sepasang kekasih. Yang anehnya ia sudah melihat kebejatan Ryan tapi ia tidak pernah bisa marah kepada Ryan.
Arin bisa melihat Kenzi dan wanita itu dari dalam toko buku karena memamg jaraknya tidak terlalu jauh. Ekspresi Kenzi yang terlihat senang membuat ia kesal.
"Apa lagi hubungan mereka itu?" Desisnya pelan. "Perempuannya yang ular atau laki-lakinya yang buaya?" Kesalnya.
"Bagaimana jika keduanya memang seperti itu?"
Suara bass dibelakangnya membuat Arin menoleh seketika. Ia sedikit terkejut melihat Galih ada dibelakangnya.
"Aku tidak tahu kenapa kamu bisa menikah dengan Kenzi. Padahal terakhir aku lihat kamu masih pacaran dengan Ryan."
"Kak Galih tahu?" Tanya Arin terkejut.
Galih terkekeh pelan. "Aku teman mereka berdua, bagaimana aku tidak tahu." Arin mengangguk mengerti, matanya masih mengawasi Kenzi dan teman wanitanya. "Walaupun Kenzi itu tamanku, tapi aku kasih saran sama kamu untuk tidak terlalu dekat dengan Kenzi. Tidak banyak yang tahu, dibalik sikapnya yang diam dia itu sangat berbahaya."
"Aku curiga Kenzi mengancam Ryan agar melepaskanmu untuknya, karena aku tahu bahwa Ryan sangat mencintaimu." Galih menggelengkan kepalanya pelan, ekspresinya terlihat meyakinkan. "Oh, aku harus duluan. Sampai jumpa lain waktu, Arinta." Pamitnya sembari mengacak rambut atas Arin sebelum pergi.
Arin diam berusaha mencerna ucapan Galih. Antara tidak ingin percaya dan ingin percaya.
Akhirnya tujuannya ketokoh buku ia lupakan.
***
Sepulangnya mereka, tidak ada yang bersuara. Mereka sama-sama diam dengan dengan berbagai pikiran berkecamuk dikepala masing-masing. Meski tidak berucap sekata pun, Arin masih sesekali melirik Kenzi yang seperti enggan melihatnya.
Sampai di rumah pun masih seperti itu. Arin tidak mengerti mengapa sikap Kenzi berubah drastis seperti itu. Apa ada yang salah dengan ucapannya tadi? Tapi sikap Kenzi seperti itu sejak Kenzi bersama wanita itu. Apa Kenzi marah padanya karena sempat mengganggu mereka? Astga, ada hubungan apa mereka sebenarnya?
Menit demi menit berlalu, jam makan malam sudah lewat. Dikamarnya Arin memegangi perutnya yang lapar. Ia belum makan sejak siang tadi. Ditambah dengan berbagai pikiran diotaknya membuat perutnya semakin melilit. Ia lupa stress saat lapar tidak boleh terjadi padanya karena ia memiliki penyakit maag yang mudah kambuh
saat sedang stress.
Arin mengambil sebuah apel dikulkas dan memakannya untuk meredakan rasa panas di perutnya. Sembari menggigit apel itu ia berjalan kekamarnya. Untuk saat ini disingkirkannya apapun tentang Kenzi termasuk keberadaannya yang tak terlihat sejak tadi.
Keesokan harinya saat Arin terbangun waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang. Ia baru bangun karena ia baru bisa tidur pukul lima subuh tadi. Untung saja hari ini ia tak mempunyai jadwal dikampus. Sebenarnya masih ada satu mata kuliah lagi yang belum diujiankan, dan syukurnya jadwal kuliah itu bukan hari ini.
Arin memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum mengisi perutnya dengan makanan. Seusai mandi dan merapikan kamar ia bergegas turun. Ia yakin sekarang ia sendirian dirumah itu. Semalam Kenzi masuk kedalam kamar mereka sudah pukul satu dini hari dan Arin berpura-pura sudah tidur saat itu.
Tiba di meja makan ia tak menemukan apa pun diatas sana. Ia beralih membuka kulkas. Ada post it yang tertempel disana.
Kalo lapar tapi tidak bisa masak, cari diluar saja, banyak.
"Duh perhatiannya." Cibir Arin membaca post it dari Kenzi.
Arin mengambil beberapa lembar roti tawar lalu mengolesinya dengan selai dan ia membuat segelas susu coklat. Lalu diletakkannya dinampan. Dia sudah akan pergi dari sana tapi kembali lagi dan membuka kulkas, ia mengambil satu buah apel.
Arin pergi ke ruang baca dilantai tiga. Dilantai itu khusus dijadikan ruang baca sekaligus ruang santai. Oh Arin lupa, disana juga terdapat ruang kerja Kenzi.
Arin menikmati sarapan merangkap makan siangnya sambil membaca novelnya yang ia taruh disalah satu rak yang masih kosong. Novel itu sudah sangat sering dibacanya tapi ia tidak pernah bosan. Lelah membaca, ia mengedarkan pandangannya, siapa tahu ada hal menarik disana.
Matanya berhenti pada pintu kaca yang tak jauh dari sana. Mungkin itu ruang kerja Kenzi. Pintu dan dinding yang membatasi sama-sama terbuat dari kaca hanya saja ia tidak bisa melihat kedalam ruangan itu. Tanpa pikir panjang Arin mendorong pintu itu tapi tidak bisa.
"Dikunci? Pelit banget sih." Gerutunya. Kesal, ia berbaring asal diatas karpet berbulu yang membentang diatas lantai. Ia berguling kesana kemari sambil memeluk bantal. Heran kenapa ia mendadak malas melakukan sesuatu.
Dari berbagai buku yang berjejer dirak sana, ada satu buku yang menarik perhatiannya. Ia berdiri dan mengambil buku itu dan kembali duduk di atas karpet.
"Psikopat?" Ucapnya heran. Ia membuka buku itu lalu membacanya. Sampai diakhir halaman buku, ada tulisan tangan yang menyita perhatiannya.
'Kebahagianmu deritaku, deritamu kebahagianku. Tunggu aku sayang.'
Arin melempar buku itu. Ucapan Galih kemarin kembali terngiang dikepalanya.
'Kenzi berbahaya'
'Kenzi berbahaya'
'Kenzi berbahaya'
'Kenzi berbahaya'
"Apa maksudnya itu? Berbahaya bagaimana? Apa kak Ken seorang psikopat?" Tubuhnya bergidik diakhir kalimatnya.
Buku tadi yang berjudul Psikopat adalah sebuah novel dengan penulis yang Arin tidak tahu karena berupa inisial. Didalam buku itu menceritakan usaha psikopat untuk membunuh seorang gadis dengan sadis karena mengganggu kebahagiannya.
"Kamu membacanya?"
Arin terlonjak mendengar suara dingin itu. Ia menoleh dan mendapati Kenzi memegang buku itu dengan senyum menyeringai menghias wajahnya. Kenzi berjalan perlahan menghampirinya. Dan tiba-tiba saja Arin menjadi ketakutan. Tubuhnya gemetar tak kala melihat Kenzi menarik sebuah pisau diantara buku-buku.
"Aku tidak menyangka kamu akan mengetahuinya secepat ini." Kenzi terus berjalan mendekat. "Sekarang biarkan aku melakukan tujuanku seperti yang tertulis dibuku itu." Katanya lagi dengan senyum yang semakin
mengerikan.
Arin tidak bisa lagi bergerak karena tubuhnya terasa begitu lemas sementara Kenzi semakin dekat dengannya.
Tiga langkah..
Dua langkah..
Satu langkah..
Kenzi sudah berdiri di depannya. Pria itu berjongkok perlahan dengan kepalanya lebih condong kearah Arin. Wajah mereka begitu dekat sampai Kenzi bisa merasakan deru nafas Arin yang memburu.
"Tiddaaakkkk..."