(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
54



Plaaakkk...


Satu tamparan lagi terdengar menggema diruangan dengan luas 3x4 m itu. Seorang pria terlihat berang dan menyiksa wanita yang duduk dihadapannya dengan kedua tangan terikat di belakang kusi. Perut buncit wanita itu tidak membuat pria itu enggan menyiksa wanita di depannya.


Sekalipun disiksa berkali-kali, wanita itu tetap berani menatap tajam pria didepannya. Lebam di beberapa bagian wajahnya tidak membuat ekspresi wanita itu berubah. Entah kekuatan apa yang ia miliki sampai bisa seberani itu.


"Aku tidak menyangka kalau kamu semenjijikan ini, Galih."


Merasa semakin ditantang, pria itu, yang disebut Galih langsung mengarahkan kedua tangannya ke leher wanita itu. "Ini karena kamu memang pantas merasakannya, Arin." balasnya sambil mengeratkan cengkaramnya. Tak peduli jika Arin terbatuk-batuk dan tak bisa bernapas karenanya.


"Ap..a ya..ng kamu la..kukan ..ini hanya .. sia-sia, brengsek."


"Kamu yang brengsek, ****** sialan!" Galih mendorong Arin dengan keras. Akibat dorongan yang keras, kursi yang diduduki Arin menjadi tak seimbang dan akhirnya terjatuh kebelakang.


Arin hanya bisa menahan rintihannya agar tidak terlalu keras. Ia tidak ingin Galih merasa senang karena berhasil membuatnya kesakitan. Walau kenyataannya hal itu tidak bisa ia sembunyikan.


Galih mendengus keras sambil berlalu dari sana. Sama sekali tidak mempedulikan Arin yang terlihat sangat menahan kesakitannya. Ia menyiksa Arin bukan untuk ia kasihani, jadi rasa peduli itu tidak mungkin ada.


Setelah kepergian Galih, Arin hanya menatap perutnya yang tak bisa ia sentuh. Ada sesuatu yang berbeda ia rasakan diperutnya. Sakit, sangat terasa sakit. Tapi Arin hanya bisa berdoa semoga bayinya baik-baik saja dan secepatnya ia bisa lepas dari Galih.


Arin tidak tahu harusnya ia menyesal karena nekad mengambil ponsel Galih dan menelpon Kenzi. Karena aksi beraninya itu malah membuat bayinya merasakan sakit yang lebih. Tapi menyesal pun tak ada guna. Semuanya sudah terjadi.


Galih memang tidak pernah menyentuh perutnya tapi akibat dari dorongannya tadi pada Arin sepertinya berdampak pada kandungan wanita itu. Mungkin karena benturannya yag terlalu keras membuat kesakitan yang amat sangat dirasakan oleh Arin.


Arin tidak mungkin merengek karena ia tahu hal itu akan sia-sia. Siapa yang akan menolongnya disini, dirumah ini. Rumah yang letaknya persis di depan rumahnya dan Kenzi. Akankah ...


Ya, pasti.


Secercah harapan kembali hadir saat mengingat jarak tempat tinggalnya dan tempatnya ia dikurung saat ini. Arin yakin Kenzi pasti mengelakukan sesuatu dan berusaa keras mencarinya. Siapa tahu Kenzi melacak nomor ponselnya tadi menghubunginya.


Mengingat tentang menghubungi Kenzi, Arin langsung menoleh ke tempat di mana ponsel yang ia gunakan tadi kini telah terbagi beberapa bagian dan berserakan dilantai. Mendadak ia kembali merasa kehilangan harapan.


Sejujurnya ia merasa tidak bisa bertahan. Rasa sakit diperutnya semakin menjadi dan membuatnya kelihangan fokus pada rasa sakit yang menimpah kedua tangannya kini masih tertindih kursi dan tubuhnya. Apalagi saat sesuatu terasa mengalir disela pahanya. Sakitnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Yang bisa dilakukan Arin sekarang hanya menutup mata, berdoa kepada sang pencipta, semoga tidak terjadi seseuatu yang serius pada bayinya.


Pintu berderik, langkah demi langkah menghampiri terdengar di telinga Arin. Galih. Siapa lagi. Hanya ada ia dan laki-laki itu di rumah ini.


"Wow, masih kesakitan ternyata." Ejek Galih dengan suara yang terdengar puas.


....