
…
Kenzi mengecup pipi Arin yang terluka. “Maaf, gara-gara aku kamu jadi begini.” Kenzi memegang kepala Arin dan menyatuhakn dahi mereka. “Aku kangen banget sama kamu.”
Arin mengangguk sembari tersenyum. “Aku juga kangen.”
Kenzi menempelkan bibirnya pada bibir Arin. Lalu merasakan kelembutannya. “Aku kangen ini,” gumam Kenzi.
Tak mau diam saja, Arin membalas tak kalah buas. Masing-masing dari mereka menyalurkan kerinduan yang selama ini terpendam.
Tak ada nafsu yang mereka rasakan.
Tepatnya belum, sampai Arin keceplosan mendesah ketika Kenzi melepaskan ciuman mereka.
“Masih siang,” bisik Arin malu. Ia sudah hapal mati, saat Kenzi menggigit kecil bibirnya, itu pertanda bahwa Kenzi menginginkan lebih.
“Memangnya kenapa kalau masih siang?”
Arin mengalihkan wajahnya saat Kenzi hendak menciumnya lagi. “Sudah waktunya zuhur.”
Kenzi terkekeh. “DP dulu kalau begitu.” Lalu kembali mencium Arin yang disambut dengan senang hati oleh istrinya.
Satu jam kemudian setelah mandi dan salat, Kenzi langsung menarik Arin dalam pelukannya di atas tempat tidur.
“Loh nggak jadi?”
Kenzi tertawa mendengar pertanyaan Arin. Tampak tidak percaya. Mungkin karena selama ini Kenzi selalu meneruskan apa yang sudah dimulai. “Tadi aku hanya bercanda. Lagi pula kita baru bertemu lagi.”
Arin mendang Kenzi heran. “Memangnya kalo sudah lama nggak ketemu, biarpun udah suami istri nggak boleh gituan?”
Kenzi terperangah, ia tertawa lalu mengecup dahi Arin. “Bukan begitu, kita baru saja bertemu, masa aku langsung minta jatah. Nanti kesannya aku hanya menemuimu untuk itu.”
“Aku nggak apa-apa kok.” Arin berucap tanpa memandang Kenzi. Matanya melirik ke sana kemari, tampak malu dengan keinginan tersiratnya.
Kenzi tertawa lagi. Istrinya memang menggemaskan. Betapa lamanya ia tidak mendengar suara manja Arin. Ia sangat rindu.
“Jangan-jangan kamu lagi yang ingin,” goda Kenzi membuat wajah Arin makin memerah.
“Baiklah, mari kita tidur.” Kenzi tersenyum dengan mata tertutup. Tangannya makin mengeratkan pelukannya, ia sedikit kesusahan karena Arin yang mulai menggemuk serta perut besarnya.
“Yaaah,” keluh Arin pelan.
Mungkin dia pikir Kenzi tidak mendengar, nyatanya senyum Kenzi semakin lebar karenanya. Kenzi langsung mengerahkan wajah Arin agar berhadapan dengannya. Lalu ******* bibir istrinya. Di sela-sela ciumannya, Kenzi tersenyum melihat Arin yang membalas antusias.
Kenzi pernah membaca di internet bahwa wanita hamil, hawa nafsunya jadi lebih tinggi. Mungkinkah Arin juga begitu.
Arin menahan tangan Kenzi yang mulai melepas pakaiannya. “Tapi perutnya … apa bisa?”
“Aku tahu kok caranya.” Kenzi melanjutkan lagi rencananya melepas pakaian Arin.
“Tahu dari mana?” Bajunya sudah terlepas.
Kenzi mulai mengecupi bahu Arin. “Dari mana-mana saja.”
“Kamu sudah pernah praktik?” tanya Arin panik.
Kenzi tertawa. “Percayalah, kamu pertama dan satu-satunya. Selalu,” jawabnya lalu melanjutkan aksinya.
“Lalu bagaimana caranya?”
“Nanti aja ya tanya-tanyanya, nggak enak kalo sambil ngobrol soalnya.” Kenzi terkekeh. Arin hendak protes lagi tapi langsung dibungkam dengan bibirnya.
Begitu yakin Arin tidak lagi bertanya, Kenzi langsung melepaskan semua pakaian Arin yang tersisa. Lalu melepaskan pakaiannya sendiri sambil mengecupi tubuh Arin. Meninggalkan tanda-tanda kemerahan akibat ciumannya. Menyalurkan rasa rindu dengan sentuhan yang lebih intim.
***
Halo teman-teman, maaf ya lama, ada kendala tadi.
Makasih ya atas semangatnya
Love you all 😙😙