(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage
Ryan



Pukul enam pagi, matahari muncul dengan malu-malu. Embun yang berjatuhan mulai berkurang. Udara dingin perlahan mulai menghangat. Kicauan burung mulai ramai memenuhi indra pendengaran Ryan.


Sudah dua putaran ia berlari mengelilingi kompleks perumahan Kenzi. Kegiatan rutin yang dilakukannya setidaknya seminggu sekali. Dan minggu kemarin dia absen dari lari paginya, jadi hari ini ia menganti dua kali lipat.


Dengan tubuh penuh keringat, Ryan merenggangkan otot-ototnya di depan rumah kakaknya. Mengatur pernapasan, lalu kedua kakinya melompat pelan bersamaan. Setelah dirasa cukup barulah Ryan memasuki rumah.


Berjalan dengan mata setengah tertutup, Ryan menabrak sofa di ruang tengah hingga ia terjatuh di atasnya. Dengan alasan lelah ia tak mau bangkit, tak peduli pada sofa kakaknya yang bisa kotor akibat keringatnya.


“Ryan, sarapan!” teriak Arin dari ruang makan.


Kalau tidak mengingat perutnya yang sejak tadi berteriak minta makan, Ryan takkan mau memenuhi panggilan Arin. Ia sedang dalam mode mager alias malas gerak. Lari keliling kompleks dua putaran bukan sesuatu yang tidak menguras tenaga.


Berdiri sempoyongan, Ryan mendatangi keluarga kecil kakaknya. Ia merampas air putih milik Kenzi yang hendak diminum. Kenzi memukul pelan perut Ryan yang dibalas kekehan oleh adiknya.


“Tidak mau cuci tangan dan cuci muka dulu?” tegur Kenzi begitu melihat adiknya langsung duduk dan mengambil makanan.


Ryan hanya menggeleng. Ia asik memakan pancake menggunakan tangan tanpa sendok.


“Padahal tangannya kotor sekali.”


Gerakan mulut Ryan yang mengunyah terhenti. Suara itu sukses mengalihkan perhatiannya. Ryan menoleh ke kiri. Sosok di depannya membuatnya terkejut hingga ia tersedak. Beberapa potongan pancake yang telah hancur oleh giginya menyembur keluar. Buru-buru ia minum dan menutup mulut, lalu lari ke kamar mandi yang ada di dapur.


Di dalam kamar mandi, Ryan menatap wajahnya yang memerah. Merah karena malu dan akibat tersedak. Sejak kapan gadis yang dipikirnya sejak semalam ada di sini?


Ryan membasuh wajahnya, tak lupa pakai facial foam. Rambutnya juga ditata agar tidak terlalu berantakan. Ia membaui tuubuhnya. Bau keringat, mau mandi tapi tak mungkin ia mandi di sini. Alhasil, ia keluar dengan penampilan tak berubah banyak.


Ryan tersenyum kikuk saat semua pasang mata menatap ke arahnya. Termasuk gadis itu, yang tertawa pelan.


Meski hanya diam, Arin memperhatikan dengan seksama tingkah Ryan. Adiknya iparnya itu salah tingkah.


“Ngapain lo pagi-pagi sudah di sini?” Ryan buka suara, mencoba bersikap santai seperti biasa.


Gadis itu melirik Ryan. “Kepo.”


Ryan menipiskan bibir. Ia tak tahu harus berucap apalagi. Akhirnya ia hanya menghabiskan bagiannya dalam diam. Hanya Arin dan gadis itu yang banyak bersuara.


Setelah sarapan, Ryan bergegas mandi dan pergi ke kantor. Telat hampir satu jam. Keterlambatannya membuat Ryan harus menanggung risiko pulang lebih lambat dua jam. Karena Bos adalah contoh utama, maka ia harus mematuhi peraturan yang ia buat sendiri.


Saat pulang, Ryan kembali dikejutkan lagi. Gadis itu belum pulang dan baru saja ikut makan malam bersama Arin dan Kenzi.


“Sudah makan, Yan?”


Ryan menggeleng menjawab pertanyaan Arin.


“Masih ada di meja, makan cepat, habis itu antar Risda, ya?”


Ryan menoleh pada Risda, gadis yang selalu sukses menarik perhatiannya. Risda juga menatapnya, menampakkan senyum manis khasnya, menanti Ryan mengiakan ucapan Arin.


Berusaha keras tak membalas senyum, Ryan mengiakan. Lalu buru-buru melanjutkan langkah ke ruang makan.


💛💛💛