
Selama perkuliahan berlangsung Arin lebih banyak melamun. Ia sama sekali mengabaikan dosen paling killer di jurusannya itu yang sedang menjelaskan. Risda yang melihat temannya melamun hanya bisa memutar bola mata, lelah menegur dan terus diabaikan.
"Maklumin ya, sedang galau," kata Risda sedikit menjelaskan kepada beberapa teman yang bertanya pada Arin ketika perkuliahan usai tapi diabaikan oleh Arin.
Arin masuk ke kantin dan mengambil minuman dingin. Tidak lama Risda datang menghampirinya. Mereka duduk di pojok kantin yang tidak begitu ramai. Keduanya sama-sama diam menikamati minuman dan sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Halo, Kak Iyan? Jemput ya! Oh iya. Nanti kabarin ya. Oke."
"Manja banget lo," protes Risda begitu Arin menurunkan ponsel dari telinga.
"Biasa aja ih," elak Arin. "Lo iri ya? Lo naksir sama dia?" Tuduhnya.
"Emangnya nggak boleh?"
Arin melotot. "Nggak boleh. Kak Iyan punya gue."
"Kemaruk lo."
"Biarin!"
***
Waktu berlalu dan malam kembali datang.
Malam Arin kembali dingin tanpa kehadiran sang suami. Dan lagi belum ada kabar dari Kenzi. Arin kesal bukan main, tapi rasa cemasnya lebih mendominasi.
Coba katakan istri mana yang tidak cemas ketika suaminya tidak memberi kabar? Jika ada yang tidak cemas itu tandanya si istri mati rasa.
Arin tidak tahu apakah ia mencintai Kenzi atau tidak, tapi yang pasti sekarang ia sangat khawatir dan rindu. Sangat rindu meski baru berpisah beberapa hari.
Sudah tengah malam, orang rumah juga sudah tidur semua, jadi banyak lampu yang dimatikan. Arin berjalan ke dapur dengan pencahayaan remang. Tidak ada rasa takut akan sesuatu yang berbau mistis. Karena menurutnya kalau tak menganggu maka tak akan diganggu.
Begitu sampai di dapur ia tidak menemukan sesuatu yang bisa langsung dimakan. Stok buah atau roti sudah habis. Di kulkas hanya ada sayuran yang mesti dioleh dulu baru bisa dimakan. Padahal Arin sedang ingin makan sesuatu tanpa harus mengolahnya.
Akhirnya tangannya bergerak untuk membuat segelas teh hangat. Usai membuat teh, ia juga mengambil segelas besar air putih. Lalu masing-masing tangannya memegang kedua gelas itu dan berjalan kekamar.
Sampai di kamar ia mendapati layar ponselnya menyala dan ada tujuh panggilan tak terjawab. Nomor asing. Baru ia akan balik memanggil ketika panggilan dari nomor itu muncul. Dengan cepat ia mengeklik ikon ganggang ponsel
berwarna hijau.
"Halo,"
"Halo,"
"Siapa?"
Kenzi di seberang sana malah tertawa pelan. Ah, sudah berapa hari ia tak mendengar suara itu?
"Jika tidak ada yang penting akan saya matikan,” kata Arin lagi pura-pura terganggu.
Tiba-tiba suara tawa Kenzi menghilang tergantikan oleh bunyi melengking yang tinggi sampai membuat Arin menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Silakan!"
Arin terkesiap lagi. Suaranya berbeda, ini bukan suara Kenzi. "Kak Ken?" Harap-harap cemas Arin berharap yang menelepon tetaplah Kenzi yang berniat mengerjainya dan bukan salah sambung atau orang yang sekedar iseng.
"Saya yang akan matikan."
Tut.
Berbeda. Iya, itu bukan suara Kenzi. Tapi saat mengatakan halo diawal ia sangat yakin kalau itu suara Kenzi. Bahkan suara tawanya benar-benar mirip suara tawa Kenzi. Namun kemudian suara itu berubah, bukan lagi suara Kenzi. Suara itu terdengar marah dan tak suka menyambut sapaan Arin.
Padahal baru saja Arin akan menumpahkan rasa kesal dan senangnya, tapi yang menelfonnya bukanlah Kenzi melainkan orang yang sedang iseng.
Arin berniat melihat kembali nomor asing tersebut tapi nomor itu tidak ada di daftar riwayat panggilannya. Panggilan tak terjawab maupun panggilan tersambung dari nomor asing itu tidak ada di tempatnya. Hilang? Terhapus? Tidak mungkin. Atau ia tadi hanya menghayal? Itu lebih-lebih tidak mungkin. Ia yakin itu.
“Hantu?”
Arin tertawa mengejek. Merasa konyol dengan pemikirannya. Tapi, semisal benar itu ulang jin yang mengganggu, berarti jin itu sedang menertawakannya sekarang. Dan mungkin masih ada dalam kamarnya.
“Setan sialan!” umpat Arin lalu melanjutkan tidurnya. Melupakan teh yang ia buat tadi.
.....
makasih buat like vote dan komennya 😭😭 sungguh aku terharu 😘😘