ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Sungguh tidak beruntung



"Ihhss.. dasar. jika aku bertemu denganmu lagi dengan earphone itu akan ku lepas benda itu beserta kupingmu." Geram Luzi sambil mengepalkan tangannya.


Merasa tidak akan ada orang lagi Yang akan melewati jalan itu Luzi pun turun dari atas kursi untuk mencari cara lain supaya ia bisa keluar dari tempat itu.


Luzi pun mengangkat kursi itu untuk ia tempatkan kembali ditempat semula. Namun karena pandangannya terhalang oleh kursi Luzi pun tak sengaja menabrak sebuah lemari hingga sebuah kartus yang disimlan diatas lemari jatuh kesamping tempatnya berdiri.


"Huh, untung saja tidak kena." Luzi berkata sambil membuang napasnya lega.


Waktu sudah hampir sore dan Luzi masih dijebak diruangan itu. "Sumpah diruangan ini dari tadi berisik tapi kenapa tidak ada yang datang?" Luzi semakin frustasi dengan keadaanya saat ini.


"Ayo Zero, pikirkanlah jalan keluarnya!" Luzi membenturkan kepalanya pelan berkali-kali pada lemari yang tadi ia tabrak.


Pluk...


Luzi merasakan sesuatu jatuh keatas kepalanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar Luzi mengangkat tangannya untuk mengambil benda yang jatuh keatas kepalanya itu. Dan betapa terkejutnya wanita itu saat mengetahui bahwa benda itu adalah seekor laba-laba yang cukup besar.


"Ahhhh...." Luzi langsung menghempaskan hewan berkaki delapan itu ke sembarang arah. Ia lalu menghindar secepat mungkin dari tempat laba-laba itu sambil melihat kebelakang karena takut makhluk kecil itu mengejarnya.


Takut yang sangat amat Luzi rasakan membuat dirinya tak fokus melihat jalan hingga ia menginjak sebuah tali tambang dan terjatuh.


bruuggh...


"Aww.." Luzi mencoba bangkit dari jatuhnya dan sialnya lagi dahinya malah tidak sengaja membentur ujung meja tennis. Sungguh sangat tidak beruntung wanita ini.


"Aww.." Luzi meringis memegang ujung dahinya yang sedikit mengeluarkan darah. Kini Luzi hanya terduduk meringkuk dibawah meja tennis sambil memejamkan matanya.


Perlahan cairan bening keluar dari ujung rambut bercampur dengan darah dari kening luzi yang terbentur ujung meja mengenai celana hitam yang dikenakannya. pikirannya membayangkan laba-laba itu tiba-tiba berada didepannya dengan ukuran yang lebih besar.


Luzi seketika membuka matanya. Tangannya yang gemetar dan berkeringat kini beralih untuk memeluk kedua kakinya yang ia tekuk. Denyut jantungnya kini berdetak lebih kencang dari sebelumnya, pakaiannya mulai dibasahi oleh keringat serta tenggorokan dan mulutnya mulai mengering akibat kurangnya pasokan air masuk kedalam tubuhnya. Perlahan tubuh kecilnya itu mulai kehilangan keseimbangan dan akhirnya wanita itu tersungkur tak sadarkan diri.


Ditaman kampus dua orang pria tengah duduk sambil menenteng sebuah cola. Mereka baru saja selesai melakukan tugasnya yaitu mengenalkan para calon mahasiswa kepada pimpinan kampus, dosen, dan juga hal-hal mengenai kampus.


"Ikut yuk," Bima tiba-tiba mengajak Gino untuk pergi.


"Kemana?" Tanya Gino dengan wajah malas.


"Jalan-jalan sekalian pulang."


"Ayo." Gino bangkit dari duduknya untuk ikut pulang bersama temannya itu karena memang tugas mereka sudah selesai dan hari sudah mulai petang.


Kedua pria dengan tubuh yang tinggi mencapai hampir 180 cm itu berjalan beriringan sambil mengobrol.


"Hei, kalian tunggu!" Teriak seorang wanita.


Kedua pria itu kompak berbalik badan, "Ada apa?" Lagi-lagi mereka kompak bertanya.


Wanita yang tengah mengatur napasnya itu kini membenarkan posisi badannya untuk berdiri, " kalian kompak sekali,"ucapnya seraya tertawa, "Bisakah kalian membantuku untuk mengambil bola basket yang baru saja tiba di depan gerbang?"


"Tentu," Jawab Gino tanpa membiarkan Bima memberi alasan.


"Terimakasih, aku akan mengurus yang lainnya." Ucap wanita itu pamit lalu kembali berlari.


Setelah wanita itu pergi Gino pun mulai berjalan menuju gerbang untuk mengambil bola basket itu tanpa diketahui oleh Bima.


"Kenapa kau langsung mengiyakannya Gino?" Rengek Bima namun ia kehilangan temannya itu, "hei, Gino Kau kemana?"


"Aku disini," teriak Gino dari ujung sana seakan mendengar apa yang Bima ucapkan.


"Kebiasaan tuh orang jalan sendiri." Gerutu Bima lalu berjalan mengikuti Gino untuk pergi mengambil bola basket.


Didepan gerbang kedua pria itu melihat dua box yang berisi bola basket dan bola kasti.


"Kau bawa box yang berisi kasti!" Titah Gino pada Bima.


"Oke." Jawab Bima lalu mengangkat box berisi kasti itu.


Seperti biasa Gino selalu jalan duluan dan tidak memperhatikan Bima yang diam mematung sambil memikirkan sesuatu.


"Tunggu dulu Gino!" Teriak Bima


Pria bernama Gino itu pun membalikkan badannya, " apa lagi?"


"Harus kita bawa kemana box-box ini?"


"Tentu saja ruangan tempat menyimpan alat olahraga, itu saja kau tak tahu." Celetuk Gino lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Kini Gino dan Bima telah Sampai didepan pintu ruangan tempat menyimpan alat olahraga. Mereka saling menatap saat mendapati ruangan itu terkunci.


"Tumben dikunci," gumam Gino, "Bim kau ambil kunci ruangannya di pak Hendar gih,"


"Kenapa bukan kau saja?" Bima memajukan wajahnya tak ingin disuruh-suruh oleh temannya itu


"Kau berani memangnya menunggu disini sendiri?" ledek Gino yang tahu bahwa temannya itu sangat-sangat penakut.


"Hehehe, enggak." Jawabnya menggeleng lalu pergi untuk mengambil kunci.


.


.


.


.