
Di tempat yang berbeda, semua calon mahasiswa tengah duduk berkelompok menunggu para senior datang. Keakraban pun kini mulai terlihat disetiap kelompok saat mereka saling mengobrol dan tertawa.
Begitupun dengan kelompok lima belas, mereka tertawa riang sambil sesekali saling menggoda tanpa merasa kehilangan karena kelompok mereka tidak lengkap.
"Sumpah, ini lama banget mulainya?" Kesal Nita sambil mengibaskan tangannya karena gerah.
"Entahlah, mungkin ada perubahan." Jawab Bisma santai.
"Eh, kalian sadar gak?" Tanya Lily
"Apa?" Tanya semua orang dikelompok lima belas serentak.
"Ih kalian ini udah kaya singa yang siap melahap mangsanya aja." ujar Lily, "tapi sadar gak kalian kalo kelompok kita ini cuma berenam? Kan semua kelompok disini beranggota tujuh orang." Jelas Lily saat ia melihat kelompok lain berjumlah ganjil.
"Oh iya," ucap Dito setelah menghitung anggotanya. "Berarti kita kehilangan satu orang,"
"Dasar bodoh. Jelas saja satu orang, karena kita disini berenam." Kesal Bisma
"Mungkin si gimbal itu sakit karena hukuman kemarin." Timbal Agnes yang sadar bahwa Luzi lah yang tidak ada diantara mereka.
"Apa dia selemah itu? Hukuman kemarin kan hanya membereskan perpustakaan," Angga mulai bersuara
"Mungkin saja. Karena dia perempuan," ucap Nita
"Hei kau juga perempuan." Seru Agnes sambil memukul pelan bahu Nita
"Hehe, tapi aku kan kuat. Buktinya aku ada hari ini." Nita membela dirinya.
"Sttt.. para senior sudah datang." Bisma menyuruh temannya itu untuk berhenti berbicara.
Diruangan tempat alat olahraga, Luzi berjalan mencari sebuah alat yang dapat membantunya untuk membuka pintu. Ia mencari kapak atau perkakas apapun yang dapat menghancurkan pintu itu.
"Ini bisa gak ya?" Luzi mengambil sebuah tongkat bisbol yang terbuat dari besi. Ia lalu mencoba memukul-mukul udara dengan benda itu mencari tahu bisa atau tidak tongkat itu menghancurkan pintu.
"Kurang tajam." Gumam Luzi seraya menyimpan kembali alat itu.
Luzi kembali ketempat semulanya yaitu duduk menghadap pintu. Ia duduk bersila sambil menopang dagunya yang mulai bosan dengan suasana ruangan itu.
Suara aungan yang cukup keras membuat Luzi memegang perutnya. Ia baru tersadar bahwa dirinya cukup lama berada dalam ruangan itu hingga perutnya kembali lapar.
"Sampai kapan aku akan disini?" Luzi bangkit lalu berjalan kearah jendela, "siapapun tolong aku!" Ucapnya sambil mengetuk kaca jendela.
Percuma. Tidak ada seorangpun yang melewati jalan didepan ruangan itu. Bahkan untuk seorang satpam pun tak terlihat. Luzi mengambil sebuah kursi lalu naik ke atasnya untuk membuka lebih lebar lagi tirai jendela itu supaya ia bisa melihat lebih jelas keluar.
"Ini kampus bukan sih? Ko sepinya melebihi pemakaman." Luzi memukul pagar besi didepannya itu.
Luzi mendekatkan wajahnya hingga menempel pada pagar itu karena sudah merasa lelah. Sesekali ia membuang napasnya kasar karena frustasi. Bahkan sudah tak terhitung berapa kali ia menelan Salivanya sendiri karena mulut dan tenggorokan nya mulai mengering.
"Jika aku harus memilih aku lebih memilih terjebak diruang monitor cctv daripada disini." Cetus Luzi hingga ia melihat seorang mahasiswa berjalan melewati ruangan itu.
"Hei. Tolong... Tolong keluarkan aku dari sini!" Teriak Luzi seraya mengetuk kaca jendela dengan ujung telunjuknya.
Seorang mahasiswa itu berhenti sejenak didepan ruangan itu lalu menganggukan kepalanya beberapa kali seperti sedang mengikuti sebuah irama sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan perjalanannya tanpa menggubris permintaan tolong Luzi.
"Ihhss.. dasar. jika aku bertemu denganmu lagi dengan earphone itu akan ku lepas benda itu beserta kupingmu." Geram Luzi
Acara pengenalan mahasiswa baru terus berlanjut dalam berkelompok. Mereka semua hampir mencapai puncak acara tersebut dan besok mereka akhirnya resmi menjadi mahasiswa di universitas GAZ.
"Bukankah kalian bertujuh?" celetuk salah satu senior yang duduk tak jauh dari mereka.
Seketika kegembiraan yang tengah mereka rayakan berhenti. Entah apa yang ingin mereka katakan pada senior itu tentang tidak ikutnya Luzi hari ini.
"Anu.... Sepertinya salah satu teman kami sedang sakit ka, jadi ia tidak bisa hadir," Karang Nita.
"Benarkah? kenapa tidak ada informasi mengenai hal itu?"
Mereka semua terdiam, "Sebenarnya kami hanya menduga hal itu karena kami juga tidak tahu kenapa dia tidak masuk, " Tambah Dito
"Kalian tidak menerima pesan atau apapun?" Tanya senior itu.
Semua orang serentak menggeleng.
"kenapa?" tanya senior itu.
"karena kami tidak saling bertukar nomor, bahkan hal itu juga baru kami lakukan hari ini." Lily memberi penjelasan.
Mendengar penjelasan Lily, akhirnya senior itupun pergi meninggalkan mereka.
"huh, akhirnya dia pergi." Bisma Membuang napasnya kencang.
"Tapi ko bisa ya senior tidak tahu tentang wanita itu?" Heran Dito
"Entahlah, mungkin karena ia tinggal di hutan jadi sulit untuk memberitahu orang." celetuk Agnes hingga membuat teman-teman tertawa.
.
.
.
.
.