
Di depan rak, Luzi dan Aara berdiri dengan mata yang berkeliling melihat-lihat setiap botol-botol kaca yang memiliki bentuk yang unik.
Luzi mengambil salah satu parfum lalu menciumnya, "Bagaimana menurutmu Aara?"
Aara menggeleng, "Baunya seperti capung terbang."
Alis Luzi berkedut, "memangnya capung terbang ada baunya?" Heran Luzi.
Aara cengengesan, "Tentu saja tidak ada, Pokoknya baunya jelek."
Luzi menyimpan kembali botol itu dan beralih mengambil botol yang lainnya dan mencoba menyemprotkan pada tangannya kemudian menyuruh temannya itu untuk berpendapat.
Begitulah seterusnya hingga beberapa kali Aara menolak perintah Luzi untuk mencium parfumnya karena kepalanya sudah kewalahan dengan bau-bau yang dihasilkan oleh parfum-parfum itu.
"Permisi, ini parfum yang nona minta." Ucap seorang karyawan toko yang memberikan sebuah botol kaca.
Luzi menerima parfum itu. Ia lalu membukanya kemudian mencium aroma yang dihasilkan cairan itu untuk menyamakan dengan aroma yang biasa ia kenakan.
"Terimakasih, ini sudah sesuai." Ucap Luzi.
"Apa perlu saya bawa ke kasir sekarang?" Tanya karyawan itu.
"Nanti saja. Saya masih ingin memilih parfum." Tolak Luzi halus.
Karyawan wanita itu pun meninggalkan Luzi dan Aara yang masih bingung untuk menentukan parfum yang akan mereka pilih.
"Cepatlah. Aku sudah ingin pergi!" Gerutu Aara.
"Sebentar, aku belum menemukan yang cocok."
Luzi mengambil satu lagi botol kaca lalu menciumnya. Sungguh wangi aroma yang dihasilkan botol parfum itu hingga luzi sangat menyukai wanginya dan berjalan menuju kasir untuk membayar kedua parfum yang ia bawa.
"Kenapa kau membeli parfum dua?" Tanya Aara yang ikut berdiri disamping Luzi untuk menunggu barang mereka dibungkus.
"Memangnya tidak boleh?" Tanya Luzi lalu mengambil paperbag kecil yang diberikan oleh kasir padanya.
"CK, kau ini. Aku bertanya malah balik bertanya, " kesal Aara yang berjalan beriringan bersama Luzi menjauh dari tempat kasir.
"Ini untuk misi." Bisik Luzi hingga mulut Aara membulat. " Kau sendiri sedang apa disini?" Lanjut Luzi.
"Aku mencari parfum untuk ibuku, dia tadi menyuruhku untuk membelinya sebelum pulang." Tutur Aara.
"Oh." Luzi menggukkan kepalanya.
"Kenapa kau menggunakan masker? Kau sakit?" Tanya Aara.
"Tidak."
"Lalu itu?" Aara menunjuk masker yang terpasang di dagu Luzi.
"Ini?" Luzi memegang masker yang dimaksud temannya, "ini hanya pajangan." Jawabnya tersenyum sambil mengangkat alisnya.
"Eh? Benarkah?" Aara sedikit tak kercaya akan ucapan temannya itu.
"Hem."
Luzi lalu meninggalkan temannya yang mematung sambil berpikir itu.
Berdiri seorang diri di teras rumah seraya melipat kedua tangannya di depan perut, Gino berjalan ke kiri dan kanan bergantian seraya memikirkan hal-hal yang agak mengganggu baginya.
"Aku pasti tidak salah. Wangi mereka begitu sama," Gumam Gino dalam Hatinya.
Namun tak lama setelah berpikir begitu, tiba-tiba dirinya juga menyangkal hal itu. Pasalnya Luzi dan wanita yang ia temui didepan rumah Luzi waktu itu memiliki penampilan yang berbeda.
"Tapi kenapa penampilan mereka berbeda?"
Memikirkan hal itu membuat Gino pusing sendiri dan segera mendaratkan tubuhnya untuk duduk dikursi yang terdapat diteras ruanhnya itu.
Tiba-tiba sekelebat ingatan yang sudah lama ia lupakan kembali terbayang di pikirannya.
"*Dia mengeluarkan darah sangat banyak. Cepat bawa dia ke rumah sakit!" Teriak seseorang yang tidak diketahui jenis kelaminnya. Namun dari suaranya, sepertinya dia adalah seorang wanita*.
*Seorang pria yang baru saja mengalami kecelakaan hebat terbaring dengan luka yang cukup parah di beberapa bagian tubuhnya*.
*Beruntung kepalanya tidak mengalami luka, hanya pelipisnya saja yang luka karena terkena pecahan kaca mobil yang pecah*.
*Samar-samar pria itu melihat seorang wanita duduk menemaninya dalam mobil ambulans. Ia bahkan dapat mencium aroma parfum wanita itu meski tidak terlalu kuat*.
"*Bertahanlah! Kau akan segera mendapat pertolongan." Ucap wanita itu*.
*Entah siapa dan seragam apa yang dikenakan oleh wanita itu. Pria itu hanya dapat melihat rambut panjang hitam dan juga jaket kulit hitam yang dikenakan oleh wanita itu*.
"Kenapa aku mengingat kembali kejadian itu?" Gino memegang pelipisnya.
"Gin..." Panggil Mama Rena sambil menyentuh bahu anaknya itu.
Gino mengerjap karena terkejut akan kedatangan orang itu, "Mama..." Ucapnya.
"Kau kenapa?"
Tak menjawab, Gino langsung memeluk tubuh mamanya itu. "Apa aku akan selamanya merasa bersalah?" Tanya Gino tiba-tiba.
"Kenapa kau bertanya begitu? Memangnya ada apa?"
"Ingatan itu tiba-tiba kembali." Ucap Gino lirih.
Rena mengelus puncak kepala anaknya, "cobalah tarik napasmu dalam-dalam dan perlahan katakan pada dirimu sendiri bahwa itu sudah terjadi dan tidak dapat diubah." Papar Rena mencoba menenangkan putranya.
"Ada apa ini?" Tanya seorang pria yang tengah berdiri sambil memegang cangkir.
Gino seketika langsung melepas pelukannya dan menatap pria yang baru saja bicara itu.
"Ayah...." Tegur Rena pada suaminya yang tiba-tiba datang dan mengacaukan suasana.
"Aku kan hanya bertanya kenapa kalian berpelukan seperti tadi," Ayah Gino menghampiri anak dan istrinya itu.
"Memangnya tidak boleh? Diakan anakku." Tegas Rena dan kembali memeluk putranya.
"Aku juga harus ikut, Dia juga anakku." Ayah Gino merentangkan tangannya bersiap memeluk kedua orang itu.
Namun Gino tiba-tiba melepaskan diri dari pelukan mamanya sebelum ayahnya sempat menyentuh dirinya dan sang mama.
"Aku mau mengerjakan tugas. Kalian lanjutkan saja di kamar!" Ucap Gino lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Hei!" Teriak Rena yang kesal karena Gino meninggalkan mereka disaat sang Ayah datang.
"Sepertinya upayaku sebagai seorang ayah telah salah." Tutur pria yang berstatus sebagai suami Rena itu.
Rena mendekat pada suaminya, "Kau sudah menjadi ayah yang baik untuknya." Ucap Rena mencoba meyakinkan sang suami bahwa yang dia lakukan saat itu tepat.
"Kau lanjutkan saja dengan parter wanitamu itu, Aku masih ada urusan." Ucap Pria bertopi lalu meninggalkan Rendi yang sudah mabuk berat itu seorang diri.
"Terimakasih, traktirannya." Ucap Rendi dengan senyuman bahagia dibibirnya.
Sang bos tersenyum smirk, "Dasar bodoh. Kau kan kesini sendiri, bisa-bisanya mabuk berat seperti itu." Ucapnya kemudian keluar dari ruangan itu.
Berjalan layaknya pemuda umumnya, sang bos berjalan dengan santai menuju tempat parkir untuk mengambil kendaraan yang sama saat dirinya datang ke tempat itu.
Sebuah motor sport berwarna merah kini sudah ia duduki dan siap untuk mengenakan helm sebelum melajukan kendaraannya.
Melihat ke kiri dan kanan sebelum akhirnya ia melajukannya dengan kecepatan sedang untuk keluar dari area parkir menuju jalan raya.
Di sebuah ruangan yang sama di restoran itu, seorang pria merogoh sakunya untuk mengambil
benda pipih berwarna hitam yang kemudian ia dekatkan pada daun telinganya.
"Aku tidak bisa pulang sendiri, jemput aku!" Ucap Rendi.
"Kenapa harus dijemput? Kau mabuk?" Tanya seorang wanita yang dimintai tolong oleh Rendi.
"Hem."
Ponsel Rendi terjatuh sebelum ia mengakhiri panggilan itu. Penampilannya yang semula rapi, kini berubah menjadi berantakan dengan jas yang ia lepas dan baju kemeja putih yang ia gulung sampai sikunya.
Wanita yang tadi Rendi telepon berdecak kesal saat ia berteriak-teriak namun tak ada jawaban dari pria itu melalui ponselnya.
"CK, selalu saja merepotkan." Kesalnya dan bergegas mengambil tas kemudian pergi untuk menjemput Rendi.