ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Wangi yang sama



Dengan langkah tergesa Gino menuruni tangga menyusul Luzi untuk menanyakan suatu hal yang ingin ia tanyakan pada wanita itu sejak kemarin.


"Tunggu.." teriak Gino.


Luzi yang sudah berjalan setengah tangga lantas berhenti dan menoleh. "Ada apa?" Tanyanya setelah Gino berhasil menyusul dirinya.


"Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu," ucapnya.


"Apa?"


"Apa benar Abel mengancammu sudah dua kali?"


"Eh? Bagaimana dia tahu?" Gumam Luzi dalam hatinya. "Apa dia melihat kejadian itu melalui cctv?"


"Me-memangnya kenapa?" Jawab Luzi terbata.


"Jawablah benar atau tidak!" Tegas Gino. Pria itu ingin memastikan bahwa ucapan Bima saat di parkiran itu benar mengenai Luzi yang sudah dua kali didatangi oleh Abel.


Saat itu, setelah Gino memanggil Luzi Bima tiba-tiba berkata bahwa hal yang terjadi di parkiran antara Luzi dan Abel adalah yang kedua kalinya terjadi. Hal itu membuat Gino terkejut karena ia berpikir bahwa saat itu kali pertamanya Luzi dirundung oleh Abel.


"Kenapa kau sangat ingin tahu?" Tanya Luzi.


"Aku hanya ingin memastikan bahwa yang aku tahu itu benar." Ucap pria itu.


"Semua yang kau tahu itu benar. Sudah aku ada urusan," Luzi kembali melangkahkan kakinya.


"Tunggu!" Gino menarik tangan Luzi hingga kini wanita itu bersandar pada dinding.


"Apa lagi?"


Luzi terkejut saat yang dapati bukan jawaban melainkan pria itu begitu dekat dengan dirinya. "Apa yang dia lakukan?" Gumam Luzi dalam hatinya hingga ia menahan napasnya.


Gino mendekatkan wajahnya pada tubuh Luzi sambil menghirup aroma parfum dari wanita itu. Hanya tersisa sekitar tujuh sentimeter jarak tubuh Gino dan tubuh Luzi.


Plak....


Satu tamparan mendarat di pipi Gino hingga menimbulkan bekas lima jari di wajah pria itu. Dengan cepat Gino memegang pipinya yang menyisakan rasa sakit dan panas setelahnya.


"Jangan berani-beraninya kau kurang ajar!" Tegas Luzi kemudian pergi meninggalkan Gino yang mematung ditangga itu.


"Aw..." Gino memegangi pipinya yang memanas dan mengiringi kepergian Luzi.


Sesaat kemudian pria itu tersenyum. "Aku menemukannya." Gumamnya pelan.



Langit sudah menggelap dan udara kian sejuk karena beberapa kali turun hujan hari itu. Namun itu semua tak menjadi halangan untuk mereka yang biasa berjalan-jalan menikmati suasana malam kota.



Luzi berjalan dengan mantel serta rambut yang tertata rapi dengan gaya bun. Tak lupa ia juga mengenakan masker untuk menyembunyikan wajahnya karena saat akan keluar rumah tiba-tiba kata-kata Gino terngiang dikepalanya.



"*Kita tinggal dikota yang sama, jadi kemungkin bertemu secara tidak sengaja itu sangat mungkin terjadi*..."



Luzi memasuki sebuah toko parfum karena parfumnya sudah hampir habis. Ia memilih-milih parfum yang berbungkus kaca dengan beragam bentuk. Tak lupa ia juga sesekali menyemprotkan beberapa produk parfum berbeda pada lengannya.



"Yang ini juga Wanginya enak...." Ucapnya.



"Permisi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang pegawai di toko itu.



"Iya, saya mencari parfum seperti ini." Luzi mengeluarkan sebuah botol kaca dari dalam mantelnya.



Pegawai itu mengambilnya lalu membuka tutupnya untuk mencium bau parfum itu. "Sebentar, saya akan Carikan." Ucap pegawai itu kemudian.



Luzi menyetujuinya dan kembali melangkahkan kakinya ke tempat lain untuk melihat-lihat parfum lainnya.



"Hei!..." panggil seseorang hingga membuat Luzi menoleh.



"Aara? Sedang apa kau disini?" Tanya Luzi.



"Aku sedang mandi." Cetusnya.



"Oh, mandi parfum ya, tapi baumu seperti orang yang tidak mandi seminggu." Ledek Luzi seraya mendekatkan wajahnya pada Aara pura-pura mencium bau temannya itu.



"Dasar kau. Aku selalu mandi dua kali sehari!" Kesal Aara.



"Aku hanya bercanda." Ucap Luzi.



"Tunggu dulu," Luzi mencoba mengulang apa yang baru saja ia lakukan pada Aara.



"Aara biasakah kau berdiri di situ?" Luzi menunjuk sebuah dinding.



"Hem, " Aara segera berjalan menuju tempat yang ditunjuk oleh Luzi. Sedangkan wanita itu memperagakan apa yang tadi sore Gino lakukan padanya.



"Kenapa kau melakukan itu?" Gumam Luzi pelan.




"Aara jika kau melakukan apa yang aku peragakan tadi itu untuk apa?" Tanya Luzi.



"Yang kau lakukan padaku barusan?" Tanya Aara dan dijawab oleh anggukan oleh Luzi. "Tentu saja untuk mencium bau atau wangi seseorang." Lanjutnya.



"Wangi seseorang....." Gumam Luzi dan kembali memikirkan alasannya jika benar Gino hanya ingin mencium wanginya.



"Luzi, kau mengganti parfummu?" Tanya Aara tiba-tiba.



Luzi menatap temannya itu, "Tidak, memangnya kenapa?"



"Aku mencium wangi parfum yang sama seperti salah satu karyawanku." Jawabnya.



"Oh, aku hanya mencoba salah satu parfum disini." Ucap Luzi.



"*Astaga*." Mata Luzi melebar karena tak percaya jika dirinya terlambat menyadari bahwa Gino tengah mencoba mencium aroma parfumnya untuk disamakan dengan dirinya saat akan berangkat ke kantor polisi.



Ya, saat itu ia mengenakan parfum cukup banyak karena ia tidak mandi dan akan pergi ke kantor. Tidak, lebih tepatnya karena ia akan bertemu dengan David.



"Kau kenapa?" Tanya Aara yang heran dengan sikap temannya itu.



"Aara kau tidak sibukkan?" Tanya Luzi.



"Tidak."



"Baiklah, bantu aku mencari parfum baru." Luzi menarik tangan temannya itu untuk ikut dengannya mendekat pada rak yang yang tersusun beberapa jenis parfum.



Seorang pria dengan setelan gaya rambut cepak serta pakaian jenis single breasted berwarna hitam menampilkan kesan casual. Dengan aura yang sengaja ia pancarkan pria itu keluar dari dalam mobil kemudian masuk ke sebuah restoran.


Setelah seorang pelayan memberitahu tempat yang sudah dipesan oleh rekannya, pria itu lantas masuk ke sebuah ruangan yang memang sengaja disewa.


"Selamat datang, Tuan Ren." Sapa pria paruh baya yang merupakan Colleague-nya.


Rendi tersenyum sedikit lalu duduk di sebrang pria yang sudah menunggunya itu. Ia menatap pria itu sesaat sebelum akhinya memulai pembicaraan.


"Ternyata kau memang masih muda." Kata pria tua itu. Entah pujian atau ejekan yang dilontarkan oleh pria itu.


"Terimakasih. Lebih baik kita langsung ke intinya karena aku harus segera pergi." Ucap Rendi dengan nada suara dingin seperti halnya sang bos saat berbicara dengan dirinya.


Pria tua itu tersenyum, "Begini, Ginjal yang kau berikan padaku saat itu tidak cocok untuk putriku... Jadi aku harap kau memiliki ginjal lain untuk membantu putriku bertahan hidup." Tutur pria itu tanpa basa-basi seperti yang disuruh oleh Rendi.


"Itu mudah. Tapi kau harus memberikan pembayaran dua kali lipat dari harga ginjal yang sebelumnya aku berikan padamu." Tawar Rendi.


Pria tua itu terdiam untuk menimbang-nimbang tawaran yang diberikan oleh Rendi, "Baik, aku akan mengirimkannya setelah ginjal itu benar-benar sudah cocok dengan putriku."


"Kau takut aku tipu?"


Pria tua itu menggeleng cepat, "tidak. Hanya saja aku takut jika ginjal itu tidak cocok seperti sebelumnya..." Ucap pria tua itu yang kini menundukkan wajahnya.


"Kau tenang saja, Aku akan pastikan ginjal kali ini akan cocok dengan milik putrimu." Tutur Rendi.


"Aku percaya padamu, tapi ku mohon tolong segera temukan ginjal itu!" Pinta pria tua itu yang kini mengatupkan kedua tangannya.


"Hem." jawab Rendi disertai anggukan kecil. "Itu akan lebih cepat jika uang bertindak." Ucap Rendi tersenyum licik.


"A-aku akan segera mengirimkannya ke rekeningmu." Ucap pria tua itu.


"Baiklah, aku akan menghubungimu jika itu sudah ada." Rendi bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan pria tua itu sendirian.


Diluar ruangan yang sebelumnya ia tempati, Rendi menghembuskan napasnya karena akhirnya ia telah menyelesaikan tugasnya untuk menggantikan sang Bos menemui colleague mereka.


Ia membuka kumis tipis yang menempel pada atas bibirnya dan segera masuk ke ruangan disebrang tempat dirinya bertemu dengan pria tua tadi.


"Bagaiama?" Tanya seorang pria bertopi hitam yang tengah duduk dengan segelas wine ditangannya.


Sebelum Rendi tiba di restoran itu, sang bos ternyata sudah berada di sana dan baru memberitahu Rendi saat pria itu sedang dalam perjalanan menuju restoran itu.


"Dia meminta ginjal baru karena ginjal Lila tidak cocok dengan milik putrinya." Jelas Rendi.


"Lalu?"


"Aku menyuruhnya membayar dua kali lipat dari sebelumnya." Tutur Rendi seraya ikut mendaratkan tubuhnya didepan sang bos.


Sang bos menyeringai, "ternyata kau pintar berdagang."


"Aku belajar darimu," Ucap pria itu.


Pria bertopi itu tertawa, "Sejak kapan kau meniruku?" Tanyanya lalu meneguk habis minuman ditangannya.


"Sejak kau menyuruhku untuk menggantikanmu."


Pria yang berusia lebih muda dari Rendi kini menatap pria dihadapannya itu dari atas hingga bawah.


"Kau bahkan memakai pakaian mahal untuk bertemu dengan pak tua itu." Ledek pria itu.


"Aku hanya ingin menunjukan sisi dirimu kepada orang-orang yang ku temui." Rendi menggaruk belakang kepalanya karena takut salah menjawab.


"Minumlah, kau sudah bekerja keras." Sang bos menyodorkan gelas yang berisi minuman rasa anggur itu dan menyuruhnya untuk minum.


"Terimakasih," ucap Rendi dan meneguk habis air dalam gelas itu.


"Untuk ginjal baru, aku sudah menemukan pemiliknya. Nanti aku akan menyuruhnya untuk menemuimu," papar pria yang sama sekali tidak melepaskan topi dari kepalanya itu.