ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Tiga lawan satu, siapa yang menang?



"Bawa dia!" Perintah Abel. Ia kini berjalan menuju sebuah ruangan tanpa pintu yang tak jauh dari tempat parkir itu.


Rima dan Lia serentak menghempaskan Luzi kedalam ruangan itu hingga Luzi jatuh terduduk.


"Aww..." Ringis Luzi. Ia kini menatap wanita tiga sekawan itu, "kenapa kalian mengganggu ku terus?" Tanyanya.


"Karena kau yang memulainya duluan. Kau mendahuluiku jalan bersama Gino! Padahal aku sudah menyuruhmu supaya jangan dekat-dekat padanya. Tapi kau..." Geram Abel yang kini berjongkok dan menatap tajam kearah Luzi. Ingin sekali rasanya wanita itu menjambak rambut Luzi yang tebal dan kusut itu.


Luzi menatap balik Abel, "kau cemburu? Sepertinya kau wanita yang telah diabaikan cukup lama olehnya." Sindir Luzi disertai bibir yang menambah sensasi menyindirnya.


Mendengar jawaban Luzi membuat Abel mendidih dan langsung menjambak rambut kusut kesayangannya Luzi, "apa kau bilang?" Bentak Abel.


"Aww .." Luzi meringis kesakitan.


"Beraninya dia menyentuh rambutku!" Gumamnya dalam hati. Beberapa saat kemudian Luzi melakukan gerakan cepat dan kini tangannya juga mencengkram dagu Abel hingga Lia da Rima mundur karena dua wanita itu bergerak kearah luar dari ruangan itu.


"Jangan sentuh rambutku dengan tangan jelekmu itu!" Sergah Luzi seraya menghempaskan Abel ke lantai.


Abel semakin tak terima dengan perlakuan Luzi. Ia mengepalkan tangannya dan segera bangkit karena takut jika kejadian itu dilihat oleh mahasiswa lain. Beruntung ditempat itu hanya ada dirinya, Luzi dan kedua temannya. Tanpa Abel ketahui bahwa sepasang mata bertopi tengah menyaksikan kejadian itu.


"Ternyata sekarang kau memiliki lawan, Abel." Gumam pemilik mata bertopi itu.


"Beraninya kau mendorongku!" Teriak Abel.


"Kau juga berani menyentuh rambutku!" Teriak Luzi tak mau kalah dari Abel.


"Rambutmu itu kusut jelek, sedangkan aku berharga!" Ucap Abel dan dibenarkan oleh kedua temannya.


"Aku Zero! Orang yang lebih berharga darimu!" Luzi berkacak pinggang dan membuat ketiga orang itu terkejut saat dia menyebutkan nama itu. Namun itu hanya hayalan Luzi saja, karena meskipun ia berkata begitu mereka tidak akan mengakuinya, karena sosok Zero tidak pernah diketahui gendernya.


"Berharga pun tak berguna jika kau selalu diabaikan!" Cetus Luzi lalu pergi meninggalkan Abel yang mematung.


Tak terima dirinya kalah dari Luzi, Abel lantas berlari dan mendorong Luzi sampai membentur dinding.


"Abel...." Teriak Rima dan Lia karena terkejut dengan tindakan Abel.


"Pegang tangannya!" perintah Abel.


Dipintu parkiran, dua orang pria baru saja tiba di tempat itu dan sudah disuguhi suasana ricuh hingga membuat keduanya mencari sumber suara.


"Suara apa itu?" Ucap Gino saat dirinya mendengar teriakan wanita.


"Entahlah, mungkin suara para mahasiswi yang meneriaki Eren. " Jawab Bima mengabaikan suara itu dan kembali berjalan.


"Bukan, itu suara lain." Ucap Gino. Ia kini berjalan mengikuti sumber suara yang cukup menggema ditempat itu.


Bima menghembuskan napasnya saat Gino tak ada dibelakangnya, ia kini mengikuti langkah pria itu untuk mencari sumber suara.


"Lepaskan aku!" Teriak Luzi yang kini terpojok di dinding. Rima dan Lia pun ikut membantu Abel dengan memegangi tangan Luzi Supaya tidak melawan.


"Astaga, itu..."


Bima menunjuk kearah para wanita itu, "Ini perundungan! Kita harus melerai mereka." Bima segera melangkah namun segera Gino cegah.


"Apalagi, Gin? Itu sudah keterlaluan!" Bima heran dengan pikiran Gino yang malah melarangnya untuk melerai.


"Lihatlah wanita yang dipegangi itu!" Suruh Gino dan Bima pun langsung memicingkan matanya untuk melihat orang yang ditunjuk oleh Gino.


Rambut hitam kusut dan berantakan, "Astaga, Luzi?" Bima kembali dikejutkan oleh keadaan wanita kusut yang ia kenal.


"Apa kau tidak ingin menyelamatkan kekasihmu?" Celetuk Bima sambil menepuk bahu Gino.


Gino menatap tajam kearah Bima dan menyikut perut pria itu, "Jaga bicaramu!"


"Ih, kau ini. Aku kan hanya bercanda,"


"Bercandamu tidak tepat bodoh!" Tegas Gino yang kesal kepada temannya yang tak tahu waktu untuk bercanda.


"Tiga lawan satu? Apa mungkin dia menang?" Gumam Gino dalam hatinya.


"Bukankah kau begitu menyayangi rambutmu?" Abel memainkan gunting dijarinya seperti hendak menggunting sesuatu.


Mata Luzi terbuka lebar saat Abel semakin mendekatkan gunting itu ke rambutnya, "tidak, tidak!" Teriaknya.


Krek...


Abel memotong rambut bagian depan Luzi yang semula sampai dadanya kini mendekat pada bahunya hingga membuat rambutnya tidak sama rata.


"Kau!" Luzi menggertakan giginya, matanya menatap tajam Abel dan siap menerkamnya. "Sudah kubilang jangan sentuh rambutku!" Teriaknya.


Kaki Luzi menginjak kaki Lia yang memegangi tangannya hingga wanita itu meringis kesakitan dan melepaskan tangan Luzi. Kini saat sebelah tangannya sudah bebas Luzi pun melayangkan tamparan pada Rima supaya wanita itu juga melepaskan tangan Luzi yang satu lagi dan beralih pada wajahnya yang memanas karena tamparan Luzi cukup keras.


"Aw..." Ringis Bima yang menyaksikan kejadian itu bersama Gino.


"Sutt! diamlah." Bentak Gino pada temanya itu karena suara Bima cukup keras dan takut terdengar oleh orang-orang itu.


Begitupun pria bertopi, dia cukup terkejut dengan tindakan Luzi yang cukup berani sebagai mahasiswa baru untuk melawan seniornya.


"Kenapa dia begitu marah? Padahal itu hanya rambut dan bisa kembali panjang bukan?" Gumam Gino dalam hatinya.


Kini Luzi bebas dan mendekat perlahan ke arah Abel yang perlahan mundur. "Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menyentuh rambutku!" Tegas Luzi dengan telunjuk yang berada didepan wajah Abel.


Marah, tentu saja Luzi marah karena rambut kesayangannya telah di potong oleh Abel cukup banyak. Sudahlah dia jarang menyisir rambut kesayangannya itu sekarang tiba-tiba rambutnya dipotong tanpa alasan. Sungguh malang nasib rambutnya itu.


Luzi semakin emosi saat melihat wajah Abel, ia kini memilih pergi meninggalkan ketiga orang itu sebelum lepas kendali.


Namun tiba-tiba Abel menarik ransel Luzi dan menghempaskannya ke dinding hingga Luzi jatuh terduduk membentur sebuah traffic cone yang terdapat disudut dinding.


Abel menghampiri Luzi yang terduduk. "Kau pikir aku akan kalah darimu?" Abel memberikan sebelah senyuman meledek karena berpikir bahwa dirinyalah pemenang dari pertarungan itu.


Luzi menyunggingkan sebelah senyuman, "kau pikir aku tidak pura-pura kalah?" Ucap Luzi dengan alis yang terangkat.


"Lihatlah dibelakangmu ada beberapa mata yang menyaksikan kejadian ini." Ucap Luzi hingga membuat Abel langsung berbalik. ternyata benar, ada Gino dan Bima yang tengah berjalan kearah mereka untuk menghentikan semuanya.


"Ternyata yang tersungkurlah yang menang." Ucap Luzi yang kini mencoba bangkit dan membersihkan debu-debu yang menempel dibajunya.