ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Sumbernya Salah



Cuaca yang lumayan mendung ditambah kecepatan laju motor Gino yang kencang menambah rasa dingin pada tubuh Luzi. Wanita itu awalnya berpegangan pada bahu Gino, namun kini berpindah karena saat Gino melajukan motornya agak cepat Luzi langsung mengeratkan pegangan tangannya pada bahu pria itu.


Karena kuku tangannya agak panjang, Luzi yakin jika pegangannya itu menimbulkan sedikit luka pada kulit Gino. Sadar diri, Luzi akhirnya beralih untuk memeluk ransel Gino hingga tangannya kini berada diantara ransel dan punggung pria itu.


Gino sedikit menggeliat saat tangan Luzi bersentuhan dengan punggungnya dan bergerak-gerak.


"Apa yang ia lakukan?" Batin Gino. Dan semakin mempercepat laju kendaraanya.


"Astaga, dia memang orang pembawa maut." Gumam Luzi yang resah.


"Tuhan nyawaku hanya satu bukan? Aku mohon jangan hari ini.." doa Luzi dalama hatinya.


Entah mengapa rasanya agak berbeda saat Eren dan Gino memboncengnya. Saat bersama Eren, ia bahkan masih sempat membaca beberapa spanduk disekitar jalan. Sedangkan bersama Gino, ia Bahkan enggan melihat ke samping karena akan menyebabkan kepalanya pusing.


Lampu merah kini menyala menyebabkan semua kendaraan perlahan menghentikan lajunya. Begitu juga dengan Gino, ia menghentikan motornya tepat didepan area penyebrangan orang.


Tak jauh dari motor Gino, sebuah mobil berwarna putih perlahan menghentikan kendaraanya juga. Seorang pria yang duduk dibalik kemudi kini melihat ke arah samping dan menangkap sebuah momen.


"Aku sepertinya kenal motor itu," Ucapnya.


Ia lalu memicingkan matanya untuk memastikan dugaannya. Belum juga pasti tiba-tiba ia dikejutkan dengan bunyi klakson yang menyuruhnya supaya segera melajukan kendaraanya karena lampu merah telah berganti dengan lampu hijau.


"CK, sabar sedikit bisa kan?" Kesal pria itu. Kemudian melajukan kendaraanya.


Disebuah ruangan seorang wanita baru saja keluar dari kamar mandi, "Kau berangkat sekarang?" Tanya Ann yang kini menempel di punggung seorang pria yang tengah merapikan pakaiannya.


"Hem," Jawabnya singkat.


Ann mengerutkan bibirnya, "Padahal saat cuaca begini lebih enak tidak melakukan apa-apa," ucapnya.


Pria itu berbalik dan menatap wajah wanita yang lebih tua darinya itu, "Jika tidak ada perlu aku juga akan menetap dan melanjutkannya lagi." Ucapnya seraya mengecup bibir Ann cukup lama hingga mereka saling berbalas.


"Kenapa kau begitu turut padanya?" Tanya Ann setelah Mulutnya tak lagi dikunci oleh pria itu.


"Dia orang yang memberi kita uang banyak, jadi aku harus turut padanya." Jelas pria itu sambil memegang hidung mancung wanita itu dan melepasnya lalu bergegas mengambil tas dan siap untuk pergi.


"Kau lebih tua darinya Ren, jadi kau bisa sedikit membantah padanya." Ujar Ann yang kini berbalik. Rasanya ia tidak ingin ditinggalkan oleh pria itu hari ini.


Padahal sudah semalaman mereka menghabiskan waktu bersama di ruangan yang hanya ada tempat tidur dan sebuah mini sopa.


Pria itu terhenti, "Ini sudah pagi, Waktunya Lila sarapan." Titah pria itu dan kembali berjalan meninggalkan wanita yang sering bersama dengannya itu.




Setelah beberapa menit menempuh perjalanan dengan cuaca dingin, akhirnya Gino dan Luzi tiba diarea kampus.



"Kau mau turun atau terus menempel pada punggungku?" Tegas Gino.



"Maaf, aku kedinginan." Ucap Luzi kemudian turun dari motor Gino dan berjalan menjauh dari pria itu.



"Hei!" Teriak Gino hingga Luzi berhenti dan berbalik, "Apa lagi?" Tanya Luzi.



Gino menjentikkan jarinya Supaya wanita itu kembali mendekat padanya.


Luzi hanya menghembuskan napasnya kasar dan kembali melangkah kearah Gino.



Plak...



"Lepaskan helmnya, bodoh." Ucap Gino setelah memukul puncak kepala Luzi yang terhalang oleh kerasnya helm.



Luzi melirik atas kepalanya, "Hehehe...Aku lupa melepasnya," ia lalu melepaskan helm itu lalu memberikannya pada Gino.



"Terimakasih." ucap Luzi sambil tersenyum. "*Karena telah membawaku menuju maut untuk yang kedua kalinya." Lanjut Luzi dalam hatinya*.



"Sama-sama. " Ucap Gino yang kini menyimpan helm itu.



"Aku duluan." Pamit Luzi dan segera berjalan menuju kelasnya.



Tak lama setelah kepergian Luzi, sebuah mobil berwarna putih memasuki area parkir dan berhenti tepat disamping motor Gino.



"Pantas saja tadi aku seperti mengenal motor ini, ternyata temanku sedang membonceng kekasihnya." Sindir Bima yang baru saja keluar dari dalam mobil.



"CK, dia bukan kekasihku." Kilah Gino yang masih terduduk di atas motornya.



"Kekasihmu juga tidak apa-apa, toh kau juga pria dan dia wanita. Jadi tidak ada salahnya, kan?" Goda Bima.



"Kau salahnya." Bentak Gino dan turun dari motornya.




"Karena kau sumbernya salah!"



"CK, Dasar." Kesal Bima, "Bukannya kau bilang hari ini tidak ada kelas? " Lanjutnya.



"Memang," jawab Gino singkat.



"Kenapa tadi kau tidak bilang akan naik motor padaku? Tahu begini, aku juga akan naik motor ke kampus." Kesal Bima.



"Harusnya kau tahu jika aku pergi tanpamu, aku pasti naik motor. " Jelas Gino.



"Lalu apa urusan itu bersama si kusut?" Tebak Bima.



"Hem."



"Urusan apa?"



"Tentang... Astaga, aku bahkan lupa bertanya padanya." Ucap Gino seraya menempelkan tangannya pada kening.



"Tuhkan, harusnya kau bersamaku supaya tidak lupa."



"Berisik kau."



Gino berjalan meninggalkan temannya itu untuk menyusul Luzi untuk membicarakan hal yang awalnya ia rencanakan.



"Gino, tunggu!" Teriak Bima dan segera menyusul temannya.



Dilorong kampus, Luzi berjalan seorang diri dan berpapasan dengan beberapa Mahasiswa lain. Tak seperti sebelumnya, wajah para mahasiswa kini lebih ramah saat melihatnya daripada saat awal ia berada disana.



"Aduh.." Luzi tak sengaja menabrak seorang wanita yang sudah sedikit berumur.



"Maaf, Bibi. Saya yang salah karena tidak pokus saat melangkah." Luzi membungkuk pada wanita yang dipegangi oleh seorang pria yang mungkin adalah suaminya.



"Tidak apa, aku yang salah karena meninggalkannya." Bantah pria disamping wanita yang bertabrakan dengan Luzi.



"Kalau boleh saya tahu, ada gerangan apa Bibi dan Paman datang ke sini?" Tanya Luzi. Ia cukup penasaran alasan kenapa kedua orang tua ini datang, karena sangat tidak mungkin jika kedatangan mereka untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswa.



"Akhirnya aku bisa menyusul mu," Ucap Gino dan menarik tangan Luzi untuk ikut dengannya.



"Eh, tunggu dulu." Luzi melepaskan tangan Gino dari tangannya. "Kenapa kau tiba-tiba menarikku?"



"Kita belum sempat bicara." Ucap Gino.



"Nanti aku bicara denganmu, sekarang aku akan berbicara dengan mereka dulu." Tutur Luzi.



Gino melirik pria dan wanita tua itu, "siapa mereka?"



"Justru aku sedang bertanya pada mereka, Makanya kau diam!" Ketus Luzi dan beralih pada dua orang tadi.



"Wah, Gino langsung terdiam olehnya." Ledek Bima yang kini memegang bahu temannya itu.



"Turunkan tanganmu sendiri, atau aku bantu turunkan?" Seru Gino.



Bima pun seketika langsung menurunkan tangannya dari bahu Gino, "Aku bisa sendiri." Ucap Bima sambil tersenyum.