ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Tertidur dalam ruangan



Terduduk seorang diri di tempat yang ramai membuatnya tetap merasa kesepian hingga memilih untuk mengalihkannya pada ponsel berwarna merah miliknya.


Jarinya mengusap-usap layar ponsel itu untuk mengganti Vidio yang sudah ia tonton dengan Vidio baru. Namun tiba-tiba Vidio yang tengah ia tonton berhenti dan layar beralih menjadi sebuah panggilan dari seseorang.


"Halo.." ucap Bima setelah ia mengeser gambar telepon berwarna hijau.


"Baiklah, aku akan langsung pulang setelah selesai." Jawab Bima kepada mamanya yang menyuruhnya untuk langsung pulang ke rumah setelah kuliahnya selesai.


Bima menyimpan ponselnya dan kini mematap pintu masuk kedalam kantin. "CK, Kemana dia? Kenapa belum juga terlihat?" Ucap Bima.


Tak lama setelah Bima mengalihkan pandangan dari pintu masuk, seorang pria berdiri mematung ditempat itu dengan mata yang mengitari seluruh ruangan mencari teman yang sudah menunggunya di tempat itu.


Seorang pria berpakaian berwarna maroon yang tengah menghadap ke arah jendela menjadi tujuan pria itu. Ia kemudian berjalan menghampiri meja pria itu sebelum ia mendaratkan tubuhnya didepan pria berbaju maroon yang tak lain adalah Bima.


"Sudah pesan?" Sapa Gino.


"Akhirnya kau datang juga." Ucap Bima ketika ia melihat ke arah Gino. "Kau darimana saja?" Tanyanya.


"Aku bertemu Abel tadi. Itulah sebabnya aku lama karena harus mengusirnya dulu," Jujur Gino dengan wajah kesal.


"Hmm, tumben dia menemuimu lagi?" Heran Bima. Karena semenjak kejadian dimana Gino mengusirnya dihadapan semua mahasiswa membuatnya tak lagi berani menampakkan wajah dihadapan Gino.


"Entahlah, dia tiba-tiba datang begitu saja." Ucap Gino, "sudahlah aku ingin makan." Gino berdiri lalu mengambil makanan dengan cara prasmanan itu diikuti Bima yang juga belum mengambil apapun.


Setelah memilih-milih makanan yang mereka inginkan, Gino dan Bima kembali duduk ditempat mereka dan menikmati makan siang ala kantin Seperti biasanya.


~~~~~~~~~~


Duduk menunduk dengan wajah bersembunyi membuat Luzi lupa waktu hingga saat ini ia belum juga bangun. Keheningan dalam ruangan itu pun menambah kenyaman tidur Luzi serta mendukung matanya untuk istirahat sejenak.


Bug!......


Suara yang cukup nyaring membuat Luiz tersendat dan bangkit dari tidurnya. Dengan kesadaran yang belum pulih Luzi mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan kelas. Kosong, tak ada seorangpun diruangan itu selain dirinya.


Ia kini menundukan kepalanya untuk melihat benda apa yang menimbulkan suara keras itu. Ternyata sebuah tumpukan buku miliknya yang tadi ada diatas meja kini berserakan dilantai. Dengan malas, Luzi memunguti satu persatu buku itu lalu memasukkannya kedalam ransel.


"Huahh....." Luzi segara menutup mulutnya yang menguap itu.


Wanita itu kini meregangkan tubuhnya yang pegal disebabkan posisi tidurnya yang kurang baik. Bunyi krek dari setiap sendinya terdengar dan begitu melegakan tubuhnya.


"Jam berapa sekarang?" Luzi melihat jam dipergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 13.16 yang berarti dirinya tertidur selama kurang lebih satu jam.


Guyuran air kini menggenang diatas tangan Luzi yang sengaja ia satukan lalu ia basuhkan air itu ke wajahnya. Didepan cermin, pantulan wajahnya yang basah terlihat dengan jelas sebelum akhirnya Luzi mengambil tisu untuk mengeringkannya. Usai membasuh wajahnya Luzi segera keluar dari toilet.


Tak jauh dari toilet, seorang wanita melihat Luzi baru saja meninggalkan toilet dan segera mengikutinya. Ia lalu mengambil ponselnya dan segera mengirim pesan kepada temannya untuk menemuinya didekat tempat parkir.


Luzi menghentikan langkahnya saat mendengar suara sepatu yang tidak senada dengan langkahnya dan segera berbalik untuk melihatnya. Namun sebelum sempat Luzi melihatnya, wanita itu telah lebih dulu bersembunyi dibalik tempat sampah yang cukup besar yang dapat menutupi tubuhnya saat berjongkok meskipun dia orang dewasa.


"Tadi ada langkah kaki dibelakang, seharusnya ada seseorang." Ujar Luzi saat melihat kebelakang namun hanya beberapa mahasiswa yang berjalan berlawanan arah dengan dirinya yang ada disana. Belum lagi jaraknya dengan mahasiswa itu cukup jauh, jadi tidak mungkin jika suara langkah kaki merekalah yang ia dengar.


Luzi kembali melanjutkan perjalanan dengan was-was. Ia kini lebih teliti dengan seseorang yang tengah mengikutinya itu. Sejak tadi Luzi memang sudah merasa jika seseorang mengikutinya, Instingnya sebagai seorang polisi itu tidak dapat dibohongi.


Namun ia memilih untuk melanjutkan perjalanannya, toh dia juga tidak perlu cemas karena masih berada di kampus. Jika bukan mahasiswa yang menyerangnya sudah pasti dosen atau warga lain di kampus itu yang melakukannya.


Sedangkan ditempat parkir, dua orang wanita tengah bersandar di dinding menunggu aba-aba dari temannya. Salah satu dari mereka kini mengunyah permen karet dimulutnya sedangkan satu lagi memainkan gunting dijari telunjuknya.


Message....


Dering ponsel membuat wanita pengunyah permen karet lantas membukanya.


^^^"Sekitar 50 meter dia akan tiba!"^^^


^^^ Isi pesannya.^^^


"Lia, Abel menyuruh kita bersiap!" Ucap Rima seraya memasukkan kembali ponselnya kedalam saku.


"Oke." Lia mengangkat jarinya siap melakukan hal yang sudah mereka rencanakan.


Lia mencoba melihat seberapa jauh jarak Korban dan dirinya, namun tepat saat ia mengintip Luzi sedang berjalan kearahnya.


"1...2...3..." Lia dan Rima sama-sama berteriak dan menangkap Luzi yang terkejut.


"Apa yang kalian lakukan?" Teriak Luzi yang terkejut dengan tingkah Rima dan Lia yang tiba-tiba memeluk dirinya.


"Diam, jangan banyak bicara?" Seru seorang wanita yang muncul dari belakang Luzi.


"Kau? Kalian orang yang waktu itu kan?" Tebak Luzi.


Tubuhnya kini mencoba melepaskan diri dari tangkapan para wanita itu. Namun tak berhasil karena kedua orang itu memeluknya begitu erat hingga membuat tangan Luzi sulit digerakkan bahkan tubuhnya merasa sesak karena terjepit.