ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Menonton



Waktu begitu cepat berlalu hingga tak terasa hari sudah hampir berubah menjadi gelap. Ketiga wanita itu kini beralih untuk pindah dari Caffe Aara ke bioskop untuk menonton sebuah film yang baru saja rilis dan sedang digemari para remaja.


Terdapat beberapa film yang tersedia di bioskop itu untuk mereka tonton, ada film horor, action, dan romantic.


"Kita nonton horor saja." Luzi memberi satu usulan.


"Tidak mau, aku mau film romantis." Tolak Sona lalu menggandeng tangan Aara, "kau ikut aku kan?"


Aara menggangguk menyetujui saran Sona. Ia tidak mau menonton film action dan harus melihat orang-orang saling memberi rasa sakit dan membuat tubuhnya terluka. Begitupun dengan horor, ia tidak mau terbayang-bayangi wajah hantu yang menyeramkan saat akan menutup matanya untuk tidur.


"Dua lawan satu," Ejek Sona disertai lidahnya yang menjulur.


"Baiklah, ayo nonton film romantis." Luzi berjalan menuju loker tiket film romantis membeli tiga tiket untuk dirinya dan kedua temannya.


"Sudah, ayo masuk." Luzi memimpin kedua temannya itu untuk masuk kedalam ruangan bioskop.


"Tunggu, ada yang kurang." Sona tiba-tiba berlari meninggalkan kedua temannya yang hendak masuk kedalam ruangan tempat menonton.


"Mau kemana dia?" Tanya Luzi pada Aara yang malah menggeleng karena sama-sama tidak tahu alasan anak itu tiba-tiba berlari.


Tujuh menit kemudian Sona kembali dengan kedua tangan yang penuh akan popcorn dan minuman.


"Tidak lengkap nonton tanpa popcorn." Cetusnya menyodorkan makanan itu pada mereka.


"Kupikir kau pergi ke toilet." Ucap Aara setelah menerima popcorn itu.


"Aku juga berpikir begitu. karena kau lama sekali kembali,"


"Tapi antriannya cukup panjang, jadinya lama." Jawab Sona.


Ketiga orang itu kini telah memasuki ruangan bioskop dan duduk saling bersebelahan. Aara dibagian paling ujung, Sona ditengah dan Luzi disamping Sona. Cahaya yang semula menerangi ruangan itu kini perlahan menghilang bersamaan dengan Film yang akan diputar. Musik romantis pun mengiringi adegan demi adegan hingga membuat para penonton hanyut terbawa oleh suasana.


Hal itu juga yang dirasakan oleh Sona dan Aara, mereka kini tengah serius meresapi setiap detik adegan yang diperagakan oleh para actor hingga beberapa kali mereka meneteskan air mata karena kisah sedih yang terselip di film romantis itu.


Luzi yang tidak terlalu menyukai film bergenre romantis pun ikut berkaca-kaca karena ia terus menguap, "Astaga aku malah ingin tidur disini." Ujarnya seraya menikmati popcron yang ada ditangannya.


Mendengar suara terisak-isak membuat mata Luzi berkeliling mencari sumber suara itu. "Astaga, mereka nangis?" Luzi tak habis pikir jika kedua temannya itu tengah sama-sama terisak dengan air mata yang sudah mengalir di pipi.


"Hei," Luzi iseng menyentuh Sona supaya menghadap padanya.


Dengan raut wajah yang sedih serta hidung dan mata yang agak memerah Sona pun menghadap ke arah Luzi hingga membuat wanita bertubuh lebih kecil dari temannya itu tak sanggup untuk menahan tawanya lagi. Ia lalu menutup mulutnya karena takut jika ia kelepasan dan tertawa terbahak-bahak hingga membuat orang-orang yang sedang menonton terganggu.


Berhasil melihat wajah Sona yang sedih, kini Luzi beralih untuk melihat wajah Aara dan ternyata hasil nya tidak jauh berbeda dari Sona. Sama-sama berlinang air mata.


Kedua orang yang diledeki Luzi hanya bisa pasrah dan diam karena mereka mengakui jika mereka berdua tadi terhanyut suasana hingga menangis.


"Hei," Luzi tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Kau kenapa?" Tanya Sona yang ikut menghentikan langkahnya.


"Aku laper,"


"Hem, aku juga." Timbal Sona


"Yasudah, kita cari makan disini saja." Aara kembali berjalan dengan mata yang berkeliling mencari sebuah restoran untuk mengisi ruang didalam perut mereka malam itu.


"Makan disini bagaimana?" Aara menunjukan sebuah restoran makanan khas Indonesia.


"Aku akan makan apapun untuk mengisi ini," ucap Sona sambil menunjuk perutnya.


"Hem, ayo." Timbal Luzi dan kini mereka pun masuk kedalam restoran itu.


Aara dan Sona duduk duluan sedangkan Luzi pergi ke toilet terlebih dahulu untuk memenuhi panggilan alam yang sudah ia tahan sejak menonton film.


"Silahkan, ingin pesan apa?" Ucap seorang karyawan yang kini berdiri disamping meja mereka.


"Saya ingin paket komplit yang ini," ucap Sona dan menunjuk gambar yang ada didaftar menu.


"Saya paket kenyang, dua. " Ucap Aara sekalian ia memesan untuk Luzi.


"Minumnya?"


"Es teh." Ucap Kedua wanita itu kompak.


Lima menit berlalu Luzi kini telah bergabung bersama kedua temannya dan menunggu pesanan mereka tiba. Tak lama setelah Luzi terduduk pesanan mereka pun akhirnya datang.


"Selamat menikmati," Ucap pelayan itu setelah menyimpan makanan di meja ketiga gadis itu.


"Terimakasih." Jawab Aara.


Mereka bertiga kini menikmati hidangan makan malam ala Indonesia yang mereka pesan itu disertai obrolan ringan.


Setelah mereka menghabiskan waktu untuk makan malam, mereka pun kini berpisah menuju rumah masing-masing. Luzi pulang bersama Sona sedangkan Aara pulang sendiri karena jalan menuju rumah mereka berlawanan arah.