ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Blue Cake spesial



Setelah meninggalkan Gino dikampus, kini Bima berjalan bukan menuju rumahnya melainkan ke sebuah Caffe karena itu merupakan perintah ibunya.


"Masuklah," ucap Bima saat membuka kaca jendela mobilnya.


Seorang wanita yang berdiri menunggu kehadiran mobil itu pun segera masuk setelah pemiliknya mempersilahkan. Ia kini duduk disamping Bima dan bersiap menarik seatbelt.


"Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Bima.


"Tidak apa, aku juga baru selesai menutup Caffe." Ucap wanita itu tersenyum ramah pada Bima.


Bima pun membalas senyuman wanita itu dan mulai melajukan kendarannya menuju rumahnya.


Tak ada yang memulai obrolan diantara kedua orang itu hingga membuat keduanya menjadi canggung satu sama lain. Bima fokus mengemudi sedangkan wanita disampingnya asik menikmati pemandangan yang terlewat begitu cepat.


Bima merasa bosan didalam mobil dan mulai menghidupkan musik untuk menemani perjalanannya.


Well you done done me and you bet I felt it


I tried to be chill but you're so hot that I melted


I fell right through the cracks, now I'm trying to get back


Before the cool done run out I'll be giving it my bestest


And nothing's going to stop me but divine intervention


I reckon it's again my turn to win some or learn some


But I won't hesitate no more, no more


It cannot wait, I'm yours


Semakin lama musik diputar semakin membuat kedua orang itu menghayati dan tanpa sadar keduanya kini menyanyi mengikuti alunan musik.


"Kau menyukai lagu ini?" Tanya Bima.


"Hem, aku selalu memutarnya saat bersama temanku." Ucapnya dan kembali bersenandung.


Cukup banyak lagu yang terputar dalam mobil, hingga tak terasa mereka telah tiba didepan rumah besar milik Bima. Menjadi putra seorang pengusaha hotel di kota itu membuat Bima mendapat banyak pasilitas seperti mobil dan juga barang-barang mewah lainnya.


"Akhirnya kalian tiba," sambut Mama Bima yang sudah berdiri diambang pintu menunggu kedatangan putranya dan juga calon menantunya.


Wanita yang berusia sekitar lima puluh tahun itu kini membawa kedua orang itu masuk kedalam rumah dan segera menuntunnya ke meja makan untuk menikmati sebuah cake buatannya bersama ayah Bima yang sudah terduduk dikursi.


"Siang, tuan." Sapa wanita itu sopan.


"Siang, Aara. Duduklah!" Ucap ayah Gino mempersilahkan Aara dan juga anaknya untuk ikut duduk.


Aara dan Gino duduk bersebelahan, kedua orang itu tampak masih sama-sama canggung karena sebenarnya Aara bukanlah kekasih Bima.


Yap, bisa dibilang bahwa Bima memungut Aara saat ia tengah berada dicaffe milik wanita itu. Saat itu ia sedang bingung karena mamanya terus mendesak dirinya untuk membawa seorang wanita kerumah. Entah kenapa mamanya sangat bersikeras dan malah mengancam Bima jika dirinya tidak membawa wanita, maka dengan terpaksa dirinya akan dipindahkan ke luar kota dan harus menetap disana.


Lalu mengapa Aara setuju diajak kerumah Bima? Berbeda dengan Bima yang mencari seorang wanita, Aara justru tengah menghindari mantan kekasihnya yang terus meminta untuk kembali menjalin hubungan. Namun selalu Aara tolak karena mantan kekasihnya itu sangat materialis dan tidak pernah bekerja.


Flashback


Suatu ketika saat dirinya tengah membereskan Caffe, mantan kekasih Aara tiba-tiba datang dan memaksa dirinya untuk ikut dengannya. Karena takut disakiti oleh mantannya, Aara mencoba meminta tolong kepada pelanggannya yang salah satunya adalah Bima.


Bima yang tak tega melihat seorang wanita ditarik seperti binatang oleh pria langsung menghampiri mereka. Ia menepis tangan pria itu dari tangan Aara dan menyuruh wanita itu untuk berdiri dibelakangnya.


"Siapa kau? Jangan ikut campur urusanku dan kekasihku!" Tegas pria itu dengan jari telunjuk yang tertuju pada Bima.


Bima berbalik menatap Aara yang bersembunyi di punggungnya, "Benarkah begitu?" Tanyanya.


Aara segera menggeleng, "dia mantan kekasihku satu tahun lalu."


Bima menatap kembali pria itu dengan tatapan tak suka, "kau dengar? Kau hanya mantan kekasihnya. Jadi jangan mengganggunya lagi!" Bima menekan tubuh pria itu dengan telunjuknya .


"Kau siapanya sampai berani-beraninya mengusirku?" Teriak pria itu hingga membuat para pelanggan yang ada dicaffe itu merasa terganggu.


"CK, pembohong! Jelas-jelas aku melihat kau duduk dikursi pembeli," ucap pria itu tak percaya dengan ucapan Bima.


"Memang kenapa jika aku duduk disana untuk menunggu kekasihku menyelesaikan pekerjaanya?"


"Buktikan jika kalian memang benar sepasang kekasih, aku akan menunggu disini Sampai Caffe ini tutup dan seperti ucapanmu—" Pria itu mendekati Bima, "menunggunya sampai selesai bekerja."


"Terserah." Bima berjalan meninggalkan mantan kekasih Aara dan menarik tangan wanita itu untuk ikut duduk bersamanya.


Setelah kepergian Bima, mantan kekasih Aara kemudian duduk disalah satu meja, "aku ragu jika kalian ini benar-benar sepasang kekasih." Gumam pria itu yang kini memperhatikan Gino dan Aara yang tengah berbicara.


"Bagaiama ini tuan? Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Aara yang panik dengan keadaan yang menjadi semakin rumit itu.


"Tenanglah nona, aku sudah tahu yang harus kita lakukan." Bima mencoba menenangkan Aara.


Bima pun menjelaskan bahwa dirinya sedang memerlukan bantuan Aara untuk menjadi kekasih pura-puranya dan bersedia ikut kerumahnya, Sedangkan Bima akan menjadi kekasih pura-pura Aara supaya pria itu berhenti mengganggu Aara.


"Bagaimana? Kau setuju?" Tanya Bima.


Aara terdiam beberapa saat untuk memikirkan rencana yang baru saja dijelaskan oleh Bima padanya.


"Hem, aku setuju." Jawab Aara disertai anggukan kepala.


Berhubung waktu sudah malam, Aara pun mulai menutup caffenya dibantu ketiga karyawannya beserta Bima. Setelah menghabiskan waktu sekitar lima belas menit akhirnya Caffe tutup dan semua orang kini telah berada diluar.


"Ka Aara, kami pamit pulang." Ucap seorang karyawan mewakili semua karyawan.


"Hem, hati-hati dijalan." pesan Aara yang melambaikan tangannya.


Kini tinggal tiga orang yang berada diarea Caffe, yaitu Bima, Aara dan juga mantan kekasihnya.


"Kenapa kau masih disini? Bukannya Caffe sudah tutup?" Aara bertanya pada mantan kekasihnya.


"Aku akan pulang setelah kalian." Jawabnya.


"Yasudah, kita tinggalkan saja dia disini. Ayo Sa—" Bima tak melanjutkan ucapannya karena ia tidak tahu nama dari wanita itu.


"Sa.. apa?" Ledek Mantan kekasih Aara. Pria itu tahu jika Bima hanyalah pelanggan dan bahkan tidak tahu nama Aara.


"Sa—, sayang kita pulang." Bima menggandeng tangan Aara dan mengantarnya sampai masuk kedalam mobil putih Milik Bima.


Sebelum masuk Aara sempat ragu dan malah mematung didepan pintu yang telah dibukakan oleh Bima. "Masuklah atau dia akan curiga." Titah Bima Dan Akhirnya Aara pun masuk kedalam mobil.


Flashback End


"Cobalah cake buatanku," Mama Bima menyodorkan sepotong cake itu kepada setiap orang.


"Terimakasih," ucap Aara Kemudian mengambil sendok untuk menyicipi cake buatan calon mertua pura-pura itu.


"Mmmm,, enak." Ucapnya lalu kembali memasukan sendok berisi cake berwarna biru itu kedalam mulutnya.


Kedua orang tua Bima tersenyum melihat tingkah Aara, namun tidak untuk Bima. Pria itu malah memperhatikan cara makan Aara yang membuatnya jadi ingin ikut juga mencicipi cake buatan mamanya. Meskipun sebenarnya ia tidak terlalu suka makanan berkrim seperti cake.


Mama Bima sedikit terkejut saat mendengar permintaan anaknya itu karena ia tahu jika Bima tidak menyukai cake seperti dirinya dan sang suami.


"Ini, kau pasti akan sangat menyukainya." Ucap Mama Bima seraya memberikan piring berisi cake.


"Hem, kau pasti akan menyukainya." Ucap Aara yang tidak mengetahui jika Bima tidak menyukai cake.


Bima memotong sedikit cake itu lalu memakannya. Kunyahan demi kunyahan ia lakukan seraya mencocokkan rasa cake itu dengan indera prasanya. Setelah menelan sedikit potongan cake itu, Bima langsung menjauhkan piring itu dari dirinya.


"Rasanya sama saja." Ujar Bima.


"Memang rasanya begini, sayang." Jelas mamanya. "Iya kan, Aara?" lanjutnya melirik Aara yang asik memakan cake.


"Hem, enak."


"Sayangnya dia tidak bisa berkata begitu, karena dia tidak suka cake." Tutur mama Bima.