
Gino bangkit dari duduknya lalu pergi begitu saja tanpa pamit tak seperti yang dilakukan oleh Bima tadi, hingga membuat Luzi duduk seorang diri di meja itu karena ditinggalkan oleh kedua pria itu.
Didalam toilet pria, Bima berdiri menunggu kedatangan temannya itu untuk mendapat jawaban atas semua dugaannya. Ia berdiri bersandar didekat pintu supaya bisa langsung mengambil kerah temannya itu dan memukul wajahnya.
Pintu pun terbuka dan Bima langsung memegang kerah pria itu lalu menyandarkan tubuh pria itu di dinding toilet.
"kenapa kau merahasiakannya?" Bima menatap wajah mulus temannya yang tak jadi ia pukul itu.
"Merahasiakan apa?" Tanya pria yang kini tengah tersudut pada dinding itu. Ia tak mengerti maksud dan tujuan dari ucapan Bima hingga membuatnya memikirkan hal-hal yang ia rahasiakan dari pria itu. Namun sepertinya tidak ada.
"CK, kau masih menyangkalnya juga?" Bima melepaskan kerah baju Gino.
Gino kini berdiri tegak lalu memperbaiki penampilannya yang agak berantakan, terlabih lagi bagaian yang dicengkram oleh Bima.
"Sebenarnya kau kenapa?" Tanya Gino yang sedang memandang pantulan dirinya pada cermin.
"Aku? Kau yang kenapa! Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau punya kekasih!"
"Kekasih?"Jangan bilang kau berpikir aku dan wanita itu punya hubungan, Bim." Batin Gino yang langsung dapat menerka isi pikiran temannya itu.
Kedua alis Gino menyatu, "kekasih? Kau cemburu, Bim?" Goda Gino.
"Jangan bercanda! Aku butuh jawabanmu!" Suara Bima menggelegar didalam toilet pria. Untungnya kini hanya tinggal mereka berdua yang berdiam diri dalam toilet.
Gino menarik napasnya dalam-dalam, "kau terlalu cepat menyimpulkan," ucapnya seraya mendekati Bima.
"Benarkah? Kalau begitu jelaskan!"
Gino pun mulai story telling nya dari awal kenapa dirinya bisa bersama dengan Luzi sampai memutuskan untuk mengajak wanita itu bersamanya.
"Puas?" Sindir Gino setelah ia menyelesaikan seluruh ceritanya. Kecuali saat bibir Luzi menyentuh pipinya. Ia tidak mau Bima tahu akan hal yang tidak pernah dilakukannya lagi setelah kejadian itu.
Bima tersenyum hingga matanya menyipit, "habiskan kau tidak pernah mengajak teman wanita seperti tadi untuk ikut bersama kita, dan aku langsung menduganya." Jelas Bima setelah bibirnya kembali menutup deretan giginya.
"Makanya tanya baik-baik sebelum marah-marah!" Tegas Gino lalu pergi meninggalkan toilet.
"Tunggu dulu!" tahan Bima hingga Gino berhenti melangkah. "kenapa dia bertanya tentang pria itu?" tanya Bima.
"Entahlah, mungkin dia penasaran karena temannya banyak berbicara tentang pria itu." Ujar Gino kemudian kembali melangkah meninggalkan toilet.
Tiga piring makanan telah tersaji didepan Luzi namun kedua pria itu belum juga kembali hingga membuat Luzi berpikir bahwa dirinya telah dikerjai oleh kedua orang itu.
"Sial, mereka ternyata mengerjaiku." Luzi berkata cukup keras hingga beberapa orang disekitar bisa mendengarnya.
"Siapa yang mengerjaimu?" Celetuk seroang pria yang kini mendaratkan tubuhnya didepan Luzi.
"Kau kembali?"
"Tentu saja. Gino sudah memesankan makanan untukku, jadi harus ku makan." Bima mengambil piring yang ia yakini adalah miliknya dan siap mulai menyantap hidangan yang hampir dingin itu.
Namun tiba-tiba ia berhenti karena tersadar sesuatu, "kemana Gino?"
"Entahlah, tadi dia pergi tak lama setelah dirimu. Kupikir dia ke toilet, ternyata kalian tidak berpapasan," Papar Luzi.
"Dia tidak kembali kesini setelah dari toilet? Kemana dia?" Gumam Bima yang kini berdiri untuk mengitari seluruh ruangan mencari keberadaan temannya itu.
"Bukannya itu dia?" Celetuk Luzi yang mengarahkan telunjuknya ke luar restoran.
Bima mengikuti telunjuk Luzi, "Hem, sedang apa dia disana?"
"Entahlah, kau tanya saja nanti saat dia kembali." Ucap Luzi hingga pandangan Bima yang semula terarah pada Gino berganti padanya.
"Jika kau sudah lapar makanlah duluan, Gino biar aku tunggu!" Titah Bima.
"Aku akan makan bersama kalian." Tolak Luzi.
Gino akhirnya kembali masuk kedalam restoran setelah berada diluar cukup lama dan ikut bergabung bersama dua orang yang tengah menatapi makanan didepan mereka.
"Maaf, membuat kalian menunggu." Ucapnya lalu mengambil piring berisi makanan pesanannya.
"Selamat makan!" Ketiga orang itu kompak berkata dan kini matanya saling memandang satu sama lain.
Bima menatap Luzi dan Gino bergantian namun kedua orang itu asik menikmati hidangan masing-masing yang sedari tadi hanya dijadikan pajangan, apalagi oleh Luzi. Sudah terlalu lama baginya menunggu giliran untuk menyantap hidangan, dan kini saatnya telah tiba dan dia ingin menikmatinya tanpa menghiraukan apapun.
Hari mulai sore, dengan semangat baru yang membara dalam jiwanya seorang wanita berkacamata berdiri didepan sebuah hotel. Ia melihat kembali secuil kertas yang tadi ia terima untuk mencocokkan nama yang tertera pada hotel itu dan kertas yang dipegangnya.
Karena cocok, wanita itu lantas berjalan masuk ke area hotel dan langsung menemui resepsionis untuk menanyakan sebuah nama tanpa ada keraguan.
"Maaf mengganggu, bolehkan saya bertanya dimana keberadaan tuan Gu?" Tanya Wanita berkacamata itu setelah berdiri didepan tempat resepsionis.
"Sebentar, saya harus bertanya dulu padanya. " Resepsionis itu pun mengambil telepon kabel lalu menghubungi kamar yang tengah ditempati oleh pemilik hotel itu.
"Lila," jawabnya lalu matanya kembali berkeliling melihat setiap sudut hotel yang berdesain modern itu.
"*wah, tak ku sangka aku akan bekerja di hotel yang mewah ini." puji Lila dalam hatinya*.
"Namanya Lila tuan," wanita itu lantas menutup sambungan telepon itu.
"Katanya kau harus menemui kepala staf hotel ini dulu, baru bisa menemui tuan Gu." Jelas wanita itu.
"Dimana saya harus menemui dua orang itu?"
"Kau lurus dan carilah staf kami lalu tanyakan padanya," pesan resepsionis itu.
"Baiklah, terimakasih." Lila meninggalkan loby lalu berjalan seperti yang diperintahkan oleh resepsionis tadi.
Dengan langkah yang cukup baik bagi seorang perempuan membuatnya dapat dikatakan lumayan, bahkan wajahnya nya pun tidak terlalu buruk jika saja ia melepas kacamata dengan ukuran kaca yang cukup tebal itu. Entah berapa ukuran yang diderita oleh mata wanita itu.
"Permisi, maaf mengganggu. Saya mencari seorang kepala staf hotel," tutur Lila setelah ia menghentikan salah seorang staf hotel itu.
"Oh, kau beruntung karena aku sudah di depanmu." Ucap wanita itu sambil tersenyum, "Ada perlu apa mencariku?"
"Aku disuruh tuan Gu untuk menemuimu sebelum bertemu dengannya," jelas Lila.
"Oh begitu, kalau begitu sekarang kau ikut aku." Kepala staf hotel itu menuntun Lila dan membawanya masuk ke sebuah ruangan.
"Duduklah, kau mungkin lelah. Minumlah dulu." Kepala staf itu menunjuk beberapa botol minuman diatas meja dan berjalan menjauh dari Lila untuk mengambil sesuatu.
"Terimakasih." Lila mengambil satu botol minuman yang terdapat diatas meja dalam ruangan itu.
"Siapa namamu?" Tanya kepala staf itu.
"Lila,"
"Oh, nama yang bagus. Namaku Ann," ucap wanita yang sedang sibuk sendiri dibelakang Lila itu.
"Senang bertemu denganmu, nona Ann." Sapa Lila.
"Hem, senang bertemu denganmu juga." Ucap Ann dan langsung menyuntikkan cairan bius kepada Lila hingga wanita itu meringis dan jatuh pingsan.
"Sorry, anak baik."
.
.
.
\***Jangan lupa di like ya kalo kalian menyukai karya ku**...