
Diruang tamu dua orang yang memiliki perbedaan itu masih terduduk. Tak ada suara apapun yang keluar dari mereka berdua. Entah apa yang membuat mereka begitu nyaman membisu, padahal saya juga kesal terhadap mereka yang hanya saling bungkam tanpa berkata apa-apa.
"Aku harus pergi, terimakasih jamuannya." Ucap Gino yang sudah berdiri diikuti Luzi yang menengadahkan wajahnya.
Ia lalu berdiri, "Hem, terimakasih juga kirimannya." Luzi sedikit menundukan kepalanya.
"Hem." jawab Gino lalu berjalan keluar sambil membawa sweater miliknya yang terbungkus tas kecil diikuti Luzi yang juga mengantarnya sampai pintu depan.
Gino mengenakan helmnya setelah menaiki motor sport hitam kesayangannya. Wajahnya mungkin sudah terbungkus oleh helm, namun tidak dengan kedua matanya yang sedikit menoleh kaca spion untuk melihat wanita Kusut yang masih berdiri diambang pintu memperhatikan kepergiannya.
Segurat senyuman kemudian terukir dibibir merah pria itu seraya menghidupkan mesin motornya. Ia lalu melajukan kendaraannya itu menjauh dari lingkungan rumah Luzi untuk segera pulang kerumahnya.
Luzi segera menutup pintu rumahnya setelah punggung pria bermotor sport itu tidak lagi terlihat oleh matanya. Ia kini memilih untuk membersihkan dirinya menggunakan sabun dengan wangi lavender kesukaannya.
Dua puluh menit kemudian......
Suara motor sport terdengar berhenti didepan rumahnya hingga membuat mama Rena lantas keluar dari rumah menuju parkiran rumahnya.
"Bagaimana?" Tanyanya saat berpapasan dengan putranya didepan pintu.
"Apanya yang bagaimana?" Gino malah balik bertanya sambil terus berjalan masuk kedalam rumah.
"Ihh.....kau ini. Jelas saja tanggapannya tentang masakan mama." Jelas wanita itu.
"Entahlah, dia tidak bilang apa-apa." Jawab Gino spontan tanpa berpikir dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Apa masakanku tidak enak?" Cetus mama Rena seraya berhenti mengekori putranya. Gino yang mendengar ucapan mamanya itu lantas berhenti melangkah lalu kembali berjalan menghampiri mamanya yang berdiri mematung memikirkan masakannya.
Tangannya kini memegang bahu wanita yang telah melahirkannya itu, "Masakan mama selalu yang terbaik." Puji Gino.
"Benarkah?"
"Hem." Gino membenarkan ucapan mamanya hingga satu kecupan pun mendarat dipipinya yang mulus itu.
"Terimakasih, kapan-kapan ajak dia berkunjung." Ledek mama Rena lalu pergi meninggalkan Gino yang kini mematung.
"Ajak siapa? Kusut?" Gumam Gino yang bingung dengan ucapan mamanya itu. "Mana mungkin aku mengajaknya kemari." Gino segera mengeleng.
~~~~~~~~~~~~~~
Kini dunia telah berubah menjadi gelap. Hanya lampu-lampu yang bercahaya menerangi gelap gulitanya bumi bak sebuah kotak tak berlubang. Langit yang bertabur bintang menandakan bahwa hari ini hujan tidak akan turun. Namun itu hanya dugaan, terkadang suatu hal selalu berubah-ubah kapan atau dimanapun.
Begitupun dengan hati seseorang, kadang hari ini mereka menyukai ini namun tiba-tiba besok mereka malah membencinya. Banyak alasan yang terjadi saat hal itu berubah.
Itulah yang tengah dirasakan oleh wanita berambut panjang yang diikat membentuk sebuah sumur. Ia menatap jendela melihat bintang-bintang yang berlomba menerangi bumi dengan kondisi kamar yang cukup berantakan.
"Besok pagi sepertinya akan cerah." Celetuknya lalu kembali fokus pada apa yang dikerjakannya.
Kertas yang sudah tak karuan dan bergaris karena dilipat-lipat perlahan dibuka kembali oleh Luzi, ia menunjuk satu persatu tempat yang ada di universitas GAZ melalui kertas itu. Namun setelah beberapa lama mencarinya ia tak kunjung menemukan tempat yang ia cari yaitu ruangan monitor cctv.
Berpikir bahwa dirinya keliru dan melewatkan tempat itu lantas membuat Luzi kembali menelusuri kertas denah kampus itu.
"Ini sungguh aneh. Bagaimana mungkin begitu banyak cctv yang terpasang namun tidak ada tempat untuk memonitor?" Ucap Luzi setelah yakin bahwa tempat yang ia cari benar-benar tidak ada.
Wanita itu membenturkan kepalanya perlahan ke atas meja. Pusing, lagi-lagi ia bertemu ruangan tanpa jalan keluar hingga membuatnya terjebak dalam diam.
"Ternyata ini tidak semudah yang aku pikirkan." Lirih Luzi yang hampir putus asa dengan rencana awalnya itu.
Dengan wajah yang lemas ia mengambil ponselnya yang tersimpn diatas tempatnya tidur lalu mulai mencari nomor untuk mengadu apa yang terjadi padanya.
"Zero here!" Ucap Luzi duluan setelah lawan bicaranya mengangkat panggilannya.
"Katakan!" Ucap pria tua itu singkat.
Luzi menjauhkan benda pipih itu untuk menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya membuangnya dan mulai bercerita.
"Aku melihat beberapa cctv di sudut kampus, namun aku tidak dapat menemukan ruang monitornya. Dan lagi, bagaimana jika cctv itu hanya pajangan? aku mungkin tidak akan dapat menemukan bukti apapun," Jelas Luzi
"Apa kau akan menyerah secepat ini? Ini masih belum hari kesepuluh, masih ada hari esok dan hari-hari lainnya yang akan tiba!" Tutur pria tua yang tak lain adalah atasan Luzi.
Luzi terdiam. Benar, ini masih terlalu dini untuk menyerah. Lagipula ada hal lain yang ingin ia ketahui di kampus itu selain kasus yang tengah ia tangani.
"Sisanya aku akan kirimkan lewat email, terimakasih komandan." Luzi menutup teleponnya terlebih dahulu lalu kembali melihat denah kampus tadi.
Kedua matanya ia bulatkan supaya lebih jelas melihat setiap titik pada denah itu. Bahkan kali ini ia juga menggunakan cahaya tambahan dari sebuah senter dengan ukuran sedang.
"Sial. Hasilnya tetap sama seperti tadi." Luzi melemparkan senter yang telah membantunya itu ke sembarang arah karena kesal.
~~~~~~~~~~~~~
Kepulan asap kini menemani malam Gino yang sedang terduduk diluar sambil menatap langit yang begitu indah. Ia sesekali mengecap rasa pahit pada segelas kopi yang tersedia disampingnya beserta sebuah pemantik api.
Pria berusia dua puluh dua tahun itu berdiri lalu berjalan memperbaiki pembakaran yang malah menimbulkan banyak asap dan mengganggu pernapasannya. Beberapa lembar kertas perlahan kembali terbakar setelah Gino menambahkannya supaya asap berkurang jika api berkobar.
Panas mulai meraba tubuh Gino yang berdiri tak jauh dari tong tempatnya biasa gunakan untuk membakar sesuatu.
"Masih senang bermain api?" Celetuk mama Rena yang berdiri didepan pintu memperhatikan anaknya.
Gino berbalik sambil tersenyum, "Mama belum tidur?"
Rena menggeleng, "Bagaimana aku bisa tidur jika kau masih bermain api?"
"Memangnya kenapa?" Gino mengangkat sebelah alisnya karena heran dengan ucapan mamanya.
"Tentu saja aku takut terpanggang jika rumah ini terbakar!" Rena berkacak pinggang dengan mata yang melotot.
Gino tertawa mendengar ucapan mamanya itu, "mana mungkin begitu, sebelum masuk aku selalu memeriksa tong itu. Jadi mama tidak perlu khawatir dan pergilah tidur." Gino mendorong pelan mamanya supaya kembali masuk kedalam rumah untuk istirahat.
"Kau juga cepat tidur. Ini sudah malam, tidak baik terlalu lama berada diluar." Ucap Rena lalu masuk kedalam rumah setelah diusir secara halus oleh putranya.
Tak lama setelah kepergian mamanya api dalam tong itu perlahan padam. Gino pun masuk kedalam rumah setelah memeriksa isi tong itu supaya tidak menimbulkan masalah seperti pemikiran mamanya.
Dalam kamar, Gino mendaratkan tubuhnya diranjang setelah membersihkan beberapa bagian tubuhnya lalu mengambil ponsel untuk dimainkan sebelum ia tidur. Tidak adanya hal menarik membuat Gino kembali meletakan benda persegi panjang itu diatas nakas. Lalu memperbaiki posisi tubuhnya mencari tempat ternyaman untuk menutup matanya.
"Semoga wangi itu selalu bersamaku." Batin Gino lalu memejamkan matanya untuk bangun di hari berikutnya seperti biasa.