ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Colleague



Kebisingan yang terdengar dari dapur membuat Gino bangkit dan berjalan menghampiri dapur yang letaknya memang tak jauh dari ruang tamu, bahkan tak terhalang apapun.


Pria itu berdiri didekat meja makan, sambil memperhatikan Luzi yang cukup cekatan dengan hal dapur. Bahkan kini ia menikmati pemandangan itu dan mulai bersandar pada dinding.


"Kau perlu apa?" Tanya Luzi yang masih tetap sibuk dengan sup dan hendak mencicipi.


Gino tiba-tiba meraih sendok ditangan Luzi, "eh...kau mau apa?" Luzi terkejut dengan Gino yang mengambil sedikit sup seperti yang dilakukannya tadi.


"Aku juga ingin coba." Ucap Gino setelah mencicipi sup itu.


"Wortelnya masih keras," Gino memberitahu Luzi.


"Aku juga tahu itu." Ketus Luzi dan beralih pada rice cooker untuk memeriksa apakah beras sudah menjadi nasi atau belum.


Gino yang belum pernah ke dapur cukup penasaran dan mengikuti Luzi untuk melihat rice cooker.


"Sebentar lagi," gumam Luzi dan kembali menutup rice cooker itu.


"Belum matang?"


"Astaga," Luzi memejamkan matanya karena terkejut, "bisakah kau tidak mengagetkanku?" Kesal Luzi dan mulai menyiapkan alat untuk dirinya dan Gino makan.


Setelah beberapa menit akhinya menu sarapan mereka matang dan telah tersaji dimeja seperti biasanya. Hanya saja ada tambahan orang yang ikut makan dengannya. Kedua orang itu begitu tenang menikmati sarapan mereka. Tak ada obrolan ataupun suara yang dihasilkan selain pertikaian sendok dan garpu pada piring.


"Wanita itu tidak ikut sarapan?" Celetuk Gino hingga Luzi berhenti melakukan aktivitasnya.


"Siapa?" Tanya Luzi.


"Itu yang kemarin keluar dari rumah ini, bukannya dia tinggal juga disini?"


Luzi sedikit kelabakan mendengar pertanyaan Gino dan segera meminum air, "itu temanku, dia menginap kemarin. Dan sekarang sudah pulang," tutur Luzi. Sungguh sial dirinya harus lupa tentang itu.


Setelah selesai sarapan dan merapikan kembali meja makan, Luzi pergi ke kamar untuk mengambil ranselnya karena tadi saat makan Gino mengajaknya untuk berangkat bersama.


Sebenarnya Luzi menolak ajakan itu karena tidak enak jika dirinya akan mengalami kejadian yang sama seperti kemarin. Seperti diperhatikan oleh setiap mata yang ia lewati saat berjalan.


Namun, Gino memaksanya dan bilang ini merupakan balas budi karena telah mengajaknya untuk sarapan. Juga pria itu beralasan jika lebih enak berbicara saat dijalan.


"Ayo, berangkat!" Luzi telah siap dengan penampilannya seperti biasa.


"Gunakan jaket! Diluar dingin." Saran Gino yang menunggu wanita itu di ruang tamu.


Luzi pun menuruti perintah Gino dan kembali ke kamarnya untuk mengambil jaket. Namun saat ia kembali ke ruang tamu, pria itu ternyata telah tiada disana.


"CK, kupikir dia akan menungguku," Gerutu Luzi dengan bibirnya yang berkerut. kini wanita itu berjalan keluar dan mengunci pintu rumahnya sebelum berangkat menyusul Gino menuju pemberhentian bus.


Luzi memasukan kunci rumahnya kedalam ransel dan siap untuk berangkat namun tiba-tiba sesuatu masuk kedalam kepalanya. Helm, sebuah helm berwarna merah telah terpasang di kepalanya.


"Haruskah pakai helm saat naik bus?" Tanya Luzi pada Gino yang berdiri disampingnya saat ini.


Gino menepuk puncak kepala Luzi yang sudah terhalang oleh helm hingga menimbulkan bunyi.


"Bodoh. Kita akan naik itu," Gino menunjuk kearah motornya yang terparkir disamping jalan.


Luzi mengikuti petunjuk Gino, "Astaga, apa aku akan dibawanya seperti saat itu?" Gumam Luzi yang kini membayangkan bagaimana saat itu dirinya di bongceng oleh Gino.


"Ayo, nanti keburu hujan turun." Ajak Gino yang berjalan duluan dan menunggangi motor hitam miliknya.


Luzi masih berdiri mematung menatap Gino yang sudah duduk diatas motor itu. "Haruskah aku menantang maut kedua kalinya?" Ucap Luzi seraya menelan ludahnya.


"Hei, cepatlah! Atau aku tingal," teriak Gino.


Luzi segera berlari menghampiri Gino kemudian membuka helm yang telah terpasang dikepalanya. "Aku naik bus saja," Luzi berkata sambil menyerahkan helm.


Tak langsung mengambilnya, Gino menatap Luzi dengan heran. "Kenapa? Apa karena aku bukan Eren?"


"Eh?" Luzi tertegun. Bagaimana dia tahu jika dirinya pernah berangkat ke kampus bersama dengan Eren?


"Apa maksudmu?" Tanya Luzi


Gino berbalik untuk melihat ke belakang dan terkejut saat tahu penyebab kendaraan tidak jalan adalah Luzi. Ia lalu mematikan kendaraannya.


"Apa yang kau lakukan?" Teriaknya.


Bukannya menjawab, Luzi malah menyodorkan tangannya seperti meminta. Gino pun merogoh saku celananya dan memberi beberapa lembar uang pada Luzi.


"Cukup?" Tanyanya.


Luzi mengambil uang itu namun kembali menyodorkan tangannya meminta kepada Gino.


"Apa lagi?" Gino semakin heran dengan Luzi.


"Helmnya," ucapnya setelah diam beberapa saat.


"Katanya naik bus tidak perlu helm, lalu kenapa kau meminta helm?"


"CK, berikan saja helm itu!" ucap Luzi.


Gino mengambil helm yang sudah ia simpan di bagian samping motornya lalu kembali memberikan helm itu pada Luzi untuk dipakainya.


"Jangan secepat waktu itu." Luzi memperingatkan Pengemudi motor itu sebelum ikut naik sebagai penumpang.


Gino mengacungkan jempolnya. Lalu kemudian tersenyum, "cepat sedikit tidak masalah, bukan?" Gumamnya. Ia lalu melihat ke belakang dan depan sebelum akhirnya melajukan kendaraan roda dua miliknya.




Seorang pria yang masih cukup muda duduk disebuah kursi dekat kolam renang menikmati cuaca pagi yang tidak begitu cerah. Dinginnya udara pagi membuatnya perlu penghangat tambahan berupa secangkir kopi dan sepuntung rokok yang berada disela-sela jarinya. Ia kini menyesap rokok itu dan meniupkan asapnya hingga menyebar luas bercampur dengan udara pagi.



Dering ponsel miliknya membuat pria itu mengakhiri masa santainya dan segera mematikan api pada rokoknya. Ia lalu mengambil ponsel yang tergeletak diatas meja bersama dengan secangkir kopi.



"Selamat pagi, *Colleague*.." sapanya dengan garis bibir yang melengkung sebelah.



"Aku ingin bertemu denganmu untuk membahas mengenai pendonor ginjal itu," Pinta seorang pria di balik telepon itu.



"Bertemu ya?... " Pria dengan jam berwarna hitam bergaris merah dan putih ditangannya itu mengusap dagunya. "Kapan?" Lanjutnya.



"Aku ingin malam ini, di dekat rumah sakit." Ucapnya.



"Setuju." Ucap pria muda itu kemudian mengakhiri panggilan bersama Colleague nya. Kini ia beralih mencari nomor seseorang yang bekerja di bawah tangannya.



Tut.... Tut...



"Kita bertemu diruanganmu hari ini." Ajak Pria muda itu saat panggilan terhubung.



"Baik, Tuan." Jawab pria itu.