ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Tentang Manusia



Melangsungkan rapat selama dua jam membuat Luzi merasa begitu lapar. Belum lagi tadi dia tidak sarapan banyak karena makanannya terbuang percuma akibat kejadian yang tak terduga.


"Kita sudah lama tidak makan bersama, mau ke restoran di depan?" Ajak Nina, nama asli Nine.


"Hem." Luzi langsung menyetujui ajakan rekan satu timnya itu.


Tak perlu menggunakan kendaraan untuk tiba di restoran yang dimaksud oleh Nina. Hanya perlu menyebrang dan berbelok ke kiri untuk sampai di restoran yang menyajikan makanan ala rumahan. Tempat dimana para polisi dan pekerja menghabiskan uang mereka untuk makan siang disana.


Luzi membuka pintu dan disambut hangat oleh karyawan restoran itu, "Sudah lama kalian tidak mampir kemari. Biasanya bertiga, kemana satu orang lagi?" Sapa sorang karyawan senior yang sudah berkerja cukup lama disana.


Luzi terdiam karena mengingat saat-saat dulu dirinya bersama sang partner juga Nina datang ke tempat itu. Semburat senyum yang semula terlihat diwajahnya perlahan memudar hingga Nina yang mengerti keadaan langsung bertindak untuk mengalihkan pembicaraan.


"Ayo kita duduk disebelahnya." Ucap Nina yang menunjuk seorang pria yang tengah duduk memunggungi.


"Kami harus segera pesan." Ucap Nina sedikit berteriak saat ia menarik Luzi untuk segera duduk dan berhenti mengingat masa lalunya.


"Aku akan mengambil daftar menu." Pamit Nina dan lantas menghampiri wanita yang tadi menyapa mereka.


"Kenapa aku ditarik?" Heran karyawan yang tadi menyapa mereka.


"Teman kami yang satu sudah meninggal," tutur Nina hingga membuat Karyawan itu terkejut mendengar kabar itu hingga ia nenutup mulutnya dengan kedua tangan. "Benarkah?"


Nina mengangguk, "jadi jangan bicarakan tentang dirinya terutama pada wanita itu." Tegas Nina seraya menunjuk Luzi yang tengah menopang dagunya.


"Maaf, aku tidak tahu." Karyawan itu merasa bersalah saat melihat Luzi yang semula tersenyum kini hanya melamun duduk di sebuah meja.


"Lupakan yang tadi. Aku pesan dua makanan rumahan seperti biasanya," Ucap Nina memesan makanan untuk dirinya dan Luzi.


"Baik, minumnya?"


"Mmmm.... Aku air putih dua." Jawab Nina .


Usai memesan Nina kembali duduk bersama Luzi dan bertanya tentang universitas GAZ. Tempat kasus terjadi juga kampus dari rekan satu timnya dengan kode nama Zero itu.


"Aku menyukai tempat itu karena bagus dan memiliki banyak seni. namun bangunannya terlalu luas hingga terkadang aku suka kebingungan." Jawab Luzi.


"Bagaimana dengan kejadian itu?" Tanya Nina.


"Kejadian apa?"


"Kejadian atas hilangnya—"


"Suttt..." Luzi segera membekam mulut temannya itu, "jangan membicarakannya ditempat umum!" bisik Luzi penuh penekanan.


"Kenapa?"


"Itukan urusan kantor. Jadi bicarakan hal itu nanti!" Tegas Luzi karena takut jika ada seseorang yang terkait dengan kasus itu kebetulan ada disana.


"Maaf, aku terlalu semangat." Ucap Nina tersenyum seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lainkali bicarakan hal yang umum ditempat seperti ini." Pesan Luzi pada temannya hingga Nina termangu mendengar ucapan Luzi yang terkenal akan kecerobohannya kini menjadi bijak.


"Apa ini benar dia?" Gumam Nina dalam hatinya.


Ditempat yang sama sebuah sunggingan senyuman terukir diwajah seorang wanita yang duduk tak jauh dari kedua orang polisi yang tengah berbincang itu. Dengan anggun wanita itu mengambil cangkir berisi kopi miliknya lalu mengecapnya pelahan.


"Jadi ini alasan mengapa aku ingin ke sini?" Gumam wanita itu pelan disertai raut wajah meremehkan.


"Coba saja tangkap kami jika kalian para polisi sanggup melakukannya." Cibir wanita itu dalam hatinya.


Dengan penampilannya yang natural tanpa polesan makeup membuat wanita berusia tiga puluhan itu terlihat masih muda. Belum lagi bentuk tubuhnya, itu menambah kesan bahwa dirinya baru lulus kuliah. Padahal nyatanya ia sudah lama lulus dan beberapa kali melakukan praktek abal-abal.


"Ini pesanan kalian." Ucap karyawan kasir setelah menyimpan dua mangkuk bersama minuman mereka, air putih.


"Terimakasih." Jawab kedua polisi itu kompak.


"Sama-sama." Ucap karyawan itu lalu pergi meninggalkan mereka.


Kedua orang itu lantas menyantap hidangan makan siang mereka tanpa obrolan dan hanya sesekali tedengar suara pembicaraan dari mereka.




Dalam ruangan yang hening karena tidak diperbolehkan mengeluarkan suara, dua orang pria duduk berhadapan dengan masing-masing buku ditangan mereka. Satu dari mereka membaca buku tentang tugas kepolisian dan wewenangnya, sedangkan satunya lagi membaca buku tentang bahasa tubuh manusia.



"Gin!"



"Bim!"



Kedua pria itu kompak sama-sama saling memanggil.



"Apa?" Lagi-lagi mereka mengatakan hal yang sama dan bersamaan pula.




"Aku baru tahu jika polisi bisa dibentuk menjadi unit khusus." Ucap Gino tanpa basa-basi.



"Tergantung kantor mereka. Jika memang dibutuhkan, atasan mereka akan memilih anggota-anggota terbaik dari setiap divisi lalu menggabungkan mereka menjadi tim." Jelas Bima begitu rinci hingga Gino tercengang mendengar penjelasan dari temannya.



"Waw Bima, aku tidak tau kau begitu hapal mengenai polisi." Takjub Gino hingga Bima tersenyum bangga.



"Kau kan tahu jika kakak ku seorang polisi." Jawabnya.



"Lalu apalagi yang kau tahu tentang polisi?"



Alis Bima terangkat heran dengan temannya yang begitu ingin tahu tentang polisi, "Kau ingin jadi polisi?" tebaknya.



"Tidak."



"Lalu mengapa kau sangat ingin tahu tentang polisi?" Tanya Bima.



"Aku hanya ingin tahu karena dibuku ini tidak lengkap!" Ucap Gino seraya menunjuk judul buku dengan telunjuknya.



"*All about the police*, tumben kau membaca buku seperti itu? Biasanya kau akan membaca buku tentang sosial." Sahut Bima.



"Memangnya kenapa jika aku membaca ini?" Sahut Gino dengan suara cukup keras.



Bima tak menjawab dan memilih melirik sekitar karena takut mengganggu ketenangan orang-orang yang sedang membaca. "Pelankan suaramu. Kita sedang di perpustakaan bukan di lapangan!"



Mendengar itu Gino kini mengerakkan kepalanya ke kiri dan kanan untuk melihat situasi yang masih sama seperti sebelumnya, sepi dan tentram.



"Aku sudah selesai." Ucap Gino seraya berdiri.



"Aku juga." Timbal Bima dan membawa serta buku yang ia tengah baca.



Gino berhenti saat melihat tangan temannya itu membawa buku dari perpustakaan, "Tumben kau bawa buku pulang, seru sekali ya bukunya?"



Bima menoleh ke arah Gino lalu melirik buku ditangannya, "begitulah." Jawabnya. Buku yang berjudul *how to know body language* membuat Bima penasaran untuk segera menyelesaikan.



Bukan tanpa alasan ia membaca buku itu. Ia ingin mengetahui lebih banyak mengenai bahasa tubuh seseorang karena ia selalu berada didekat orang-orang yang sulit sekali mengeluarkan kata. Meskipun itu hanya sekedar permintaan. Sama halnya dengan sang teman, Gino.



"Buku apa itu?" Tanya Gino penasaran.



"Buku tentang manusia." Jawab Bima singkat.



"Oh." Jawab Gino singkat.



Kedua pria itu berjalan beriringan menuju tempat parkir untuk pulang karena kelas mereka sama-sama sudah selesai.