ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Memenuhi undangan



Hari kini berganti dengan diawali sinar mentari yang telah muncul menyerap embun serta sisa-sisa air hujan semalam. Luzi keluar dari rumahnya dengan pakaian rapi serta rambut yang tak lagi seperti singa. Kali ini ia menata rambutnya sangat rapi seperti biasanya saat ia berangkat untuk bertugas, karena ia akan pergi ke kantor polisi sekalian bertemu David.


Seperti biasa, kamana pun tujuannya Luzi selalu menggunakan alat transportasi umum, baik itu kereta ataupun bus. Tapi ia lebih sering menggunakan bus karena tidak terlalu jauh dari tempatnya tinggal.


Sesampainya di kantor polisi Luzi masuk kedalam untuk memberikan keterangannya kepada divisi kriminal tiga.


"Hai, Bam. Apa kabar?" Sapa Luzi setelah ia berdiri didepan meja khusus divisi tiga.


"Oh Hai Luzi, kabar baik. Silahkan duduk," Pria bernama Bam itu mempersilahkan saksi sekaligus rekannya itu untuk duduk.


Luzipun terduduk dikursi depan Bam, Dan pria itu mulai mengintrogasinya mengenai kejadian waktu itu.


"Waktu itu malam pukul berapa?"


"Saat pencurian itu terjadi aku baru pulang.. mungkin sekitar pukul tujuh malam." Jawab Luzi


"Dimana kejadian itu?"


" Di gang Z, sebelum toko makanan hewan, dan tidak ada saksi lain selain aku." Jelas Luzi mempersingkat waktu karena ingin segera mengakhiri introgasi itu.


"Baiklah, aku akan menyuruh anak buahku untuk mengecek cctv supaya bisa mulai mengintrogasi pencuri itu,"


Luzi mengangguk, lalu pamit undur diri. Kini wanita itu berjalan menuju ruangan David, kepala divisi bagian narkotika satu. Saat menuju kesana orang yang berpapasan dengannya sesekali membungkuk sambil tersenyum atau menyapanya dengan sopan. Tak ada yang memperlakukan dirinya seperti para mahasiswa yang tidak punya sopan santun itu.


Tok...


Tok.....


Luzi mengetuk pintu ruangan David sebelum akhirnya ia mendengar suara dari dalam yang mempersilahkannya untuk masuk.


"Kau sudah selesai?" Tanya David saat Luzi baru saja menutup pintu itu kembali.


"Hem,"


"Duduk dulu." Ujar pria itu sambil merapikan mejanya, "kau mau kopi? Jika mau sekalian aku ambilkan." Tawar David.


"Boleh."


~~~~~~~~~~~~


Huhh.....


Huhhhh.....


Huhhh .......


Suara napas yang keluar melalui mulut Gino terdengar saat pria itu mengangkat beban diseberat lima puluh kilo ditangannya. Keringat yang membasahi tubuhnya itu menambah kesan maskulin pria berusia dua puluh tiga tahun itu.


"28, 29, 30 ." Gino melepaskan beban berat ditangannya itu lalu mengambil handuk yang tak jauh dari tempatnya untuk mengelap keringat ditubuhnya.


"Ah..." Ucap Gino setelah menenguk habis satu botol air dingin. Pria itu lalu meninggalkan ruangan tempatnya berolahrga itu.


"Gino, mamah boleh minta tolong?" Ujar mama Gino yang tengah duduk disofa ruang tamu sambil membaca majalah.


"Tolong apa, mah?"


"Tolong ambilkan baju mama ke butik melati, ya."


Setelah selesai bersiap-siap Gino pun berangkat ke butik melati untuk mengambil baju milik mamanya itu menggunakan motor sport hitam miliknya.


Setengah jam waktu yang perlu Gino tempuh hingga sampai dibutik melati. Ia lalu memarkirkan motornya disamping butik itu lalu membuka kaca helm untuk melihat tulisan yang tertera di depan butik memastikan bahwa ia tidak salah parkir.


"Pantes mama jauh-jauh pergi kesini, ternyata ada restoran makanan khas Korea." Ujar Gino setelah membuka helmnya dan melihat sebuah restoran Korea tak jauh dari butik itu.


"Permisi.." Ucap Gino saat ia masuk kedalam butik.


"Iya, ada yang bisa saya bantu tuan?" Sahut seorang pegawai.


"Saya ingin mengambil baju milik mama saya," kata Gino


"Maaf, atas nama siapa ya?"


"Rena, ibu Rena."


"Oh, baju Bu Rena baru selesai tiga, tuan. masih ada dua lagi yang belum selesai," jelas pegawai butik itu.


"Apa? Memangnya mama saya beli berapa? "Gino terkejut mendengar ucapan pegawai itu.


"Dua tuan, sisanya hanya diperbaiki." Mendengar penjelasan pegawai itu, Gino memutuskan untuk menghubungi mamanya terlebih dahulu.


Gino pun mengambil ponselnya lalu memanggil mamanya. "Halo mah, katanya baju mama masih belum selesai,"


"Memangnya berapa lagi yang belum selesai, Gin?" Tanya Mama Rena dari balik telepon.


"Dua,"


"Coba kau tanyakan pada pegawai butik kapan baju itu selesai," titah mama Rena.


Gino pun menanyakan apa yang disuruh mamanya itu pada pegawai butik.


"Katanya mungkin sore sudah beres." Gino mengatakan apa yang dikatakan oleh pegawai butik.


"Yasudah kau tunggu saja sampai semua selesai."


"Ta-tapi mah..."Belum selesai bicara panggilan dengan mamanya itu sudah terputus.


Ck, Gino merasa kesal pada mamanya. Bagaimana tidak, ini masih pagi dan masih ada sekitar tujuh jam sampai tiba waktu sore untuk mengambil baju milik mamanya.


"Saya nanti kembali lagi." Ucap Gino lalu pergi keluar dari butik itu.


Tak tahu apa yang harus ia lakukan membuatnya mematung didepan butik itu. Gino mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang menarik untuk dia datangi sambil menunggu waktu sore tiba. Karena ia begitu enggan jika harus pulang kerumah lalu kembali lagi untuk mengambil baju mamanya.


"Tujuh jam itu sekitar 25200 detik, jadi apa yang harus aku lakukan?" Gino menggaruk kepalanya kebingungan.


"Haruskah aku main kerumah Bima?" Pikir Gino, "tapi itu sama saja dengan aku pulang ke rumah." Ujarnya setelah sadar jika jalan kerumah Bima melewati rumahnya terlebih dahulu.


Gino melihat jam diponselnya, "Sudah hampir siang, aku belum makan apapun." Gino kini melangkahkan kakinya menuju restoran Korea yang merupakan makanan yang sedang digemari oleh mamanya itu.


.


.


.