
Pagi-pagi buta sebelum matahari menampakkan diri Luzi telah menyibukkan dirinya didapur. Tak seperti biasanya wanita itu begitu produktif di pagi hari. Bahkan biasanya ia enggan membuka mata sebelum cahaya mentari terarah padanya dan panggilan buatan memanggilnya untuk segera bangun.
"Huaaaa......" Luzi segera menutup mulutnya.
"Jika saja aku tak kalah kemarin, aku pasti masih bermimpi," celetuknya.
Flashback
"Apa kalian hanya melakukan ini setiap hari?" Tanya Luzi kepada kedua pria dihadapannya itu.
Gino dan Bima saling memandang, "Memangnya apa lagi?" Bima berkata sebelum akhirnya meminum minuman rasa avocado didepannya.
Bola mata Luzi berputar diikuti kepalanya yang menggeleng heran dengan kehidupan yang dijalani oleh kedua pria itu, "sungguh membosankan sekali kalian!" Cetusnya lalu mendaratkan wajahnya keatas meja.
Alis Gino terangkat lalu menatap Luzi, "ini pendinginan otak, bodoh!" Tegas Gino meskipun ia menggunakan suara halus.
"Hah? pendinginan otak? Mana ada hal begitu." Luzi terkejut mendengar perkataan Gino, "Jika ingin mendingingkan otak kau sebaiknya pergi kehutan dan tinggal lah disana supaya otakmu itu mendingin!" Celetuk Luzi kesal. Ia sebenarnya ingin pulang, namun kedua pria itu malah menetap di restoran itu setelah makan.
Bagaimana tidak, dia hanya memperhatikan kedua pria itu melamun sambil sesekali berkata dan itu pun hanya satu atau dua kalimat yang keluar dari mulut kedua pria itu. Lebih membosankannya lagi mereka seperti tidak mengganggap Luzi ada bersama mereka.
"Kau bilang apa?" Mata Gino yang biasanya indah itu mendadak menyeramkan.
"Pergi dan tinggal lah dihutan supaya otakmu dingin!" Luzi mengulang kembali ucapannya. Ia kini melawan tatapan Gino dengan melototkan kedua matanya.
"Sudah, sudah!" Bima melerai perdebatan yang terjadi antara Luzi dan Gino. " Lebih baik kita bermain game kecil saja." Ajak Bima yang sudah tak kuat mendengar kedua orang itu berdebat.
"Game kecil?" Gino kita menatap temannya.
"Hem, kita bermain batu gunting kertas. Jika diantara kita ada yang kalah, maka mereka harus memilih hukuman truth or dare. Bagaimana?" Jelas Bima.
Kedua orang itu terdiam sebelumnya akhirnya menyetujui permainan yang diajukan oleh Bima itu.
Batu... Gunting..... Kertas!
Ketiga orang itu sama-sama menunjukan tangannya yang dibentuk seperti yang diucapkan. Gino dan bima memasang batu, sedangkan Luzi memasang gunting sendiri hingga ia harus menerima kekalahan diawal permainan.
Bima tertawa cukup keras saat melihat Luzi kalah telak diawal permainan sedangkan Gino hanya tersenyum.
"Nah, sekarang kau pilih truth or dare?" Bima memberi pilihan.
Luzi terdiam memikirkan hukuman mana yang akan ia pilih, "Dare." Jawab Luzi hingga membuat Bima membulatkan mulutnya.
Alasan dirinya tidak memilih truth karena takut kedua pria itu bertanya hal aneh kapada dirinya dan sebagai tuntutan ia harus tetap menjawab pertanyaan itu dengan jujur. Ya meskipun itu hanya sebuah permainan, tapi dengan menghargai itu membuat semua yang ikut bermain percaya dengan ucapan kita dan saling mengetahui lebih banyak mengenai temannya.
"Dia memilih dare, kau mau aku yang memberinya tantangan atau kau?" Tanya Bima memberi kesempatan temannya yang sama-sama menang itu untuk memberi tantangan kepada Luzi.
"Aku ingin kau membawa bekal makan siang untukku dan Bima!" Titah Gino.
"Hah?" Luzi terkejut mendengar tantangan yang diajukan Gino untuknya.
Flashback off
"Sialan pria itu, gara-gara tantangannya aku jadi tidak tahu jawaban yang aku berikan saat David menyatakan perasaan padaku di mimpi." Kesal Luzi seraya mengaduk-aduk masakan yang tengah ia siapkan untuk dibawa ke kampus.
Setelah memakan waktu sekitar satu jam untuknya menyelesaikan hidangan makan siang, kini Luzi berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap untuk berangkat karena kebetulan dirinya hari ini akan dijemput oleh Bima seperti perjanjian.
"Kenapa? Kau mau tantangan yang lain?" Tawar Gino dengan alis yang terangkat sebelah.
Melihat raut wajah Gino yang agak aneh membuat Luzi terpaksa mengikuti tantangan itu, "Baiklah, tapi kau harus menjemputku ke rumah pukul 7 pagi!" Luzi mencoba mengerjai kedua pria itu supaya datang lebih pagi.
"Tidak masalah." Jawab Gino.
Beepp........
Bunyi klakson yang terus berbunyi hingga mengganggu pendengaran itu membuat Luzi yang baru keluar dari kamar mandi lantas berjalan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk dan membuka jendela rumahnya untuk melihat ke luar.
"Cepatlah! Kenapa kau lama sekali." Teriak seorang pria yang tengah bersandar pada mobil berwarna putih itu saat melihat sosok Luzi di jendela rumahnya.
Luzi yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk terkejut akan kedatangan kedua pria itu dan lantas bersembunyi di samping jendela, "Astaga, kenapa mereka cepat sekali?"
Luzi segera mengganti pakaiannya dan menyusun rambutnya seperti biasa lalu mengambil ransel yang sudah ia siapkan dari semalam. Tak lupa ia juga mampir ke dapur untuk mengambil bekal makan siang untuk kedua pria itu.
"Katanya jam 7 pagi, padahal ini sudah lebih sepuluh menit." Sindir Gino saat Luzi tiba di samping dirinya.
"Maaf," ucap Luzi lalu menyerahkan dua kotak makanan kepada Gino, "ini, makan siang kalian."
Gino mengambil kotak itu, "Masuklah!" Ucapnya lalu berjalan memutari mobil itu dan masuk kedalam. Begitupun dengan Luzi ia membuka pintu mobil lalu masuk kedalam dan duduk dibelakang Bima seperti biasa.
"Ini untukmu. " Gino memberikan satu kotak makanan kepada Bima yang sudah duduk di balik kemudi.
"Terimakasih, Luzi." Ucapnya seraya membalik badannya untuk melihat wanita itu.
"Sama-sama."
Bima mengendus-endus bau yang menyebar dalam mobilnya saat ini, "wangi apa ini?" Tanyanya.
Gino yang juga dapat mencium wangi itu langsung tahu jika itu adalah parfum Luzi yang mulai menyebar dalam mobil, " mungkin wangi dari kotak makanan." Celetuknya.
Bima membuka kotak makanan itu dan terlihat nasi goreng dengan telur mata satu diatasnya serta wangi yang menggugah membuat perutnya dilanda kelaparan.
"Kau benar, wanginya enak." Puji Bima."Bolehkah aku memakannya sekarang?" Tanyanya
"Tentu," jawab Luzi mengangguk disertai senyuman diwajahnya.
Kedua orang itu pun kini menyantap nasi goreng yang Luzi buat, "wah, kau jago masak ternyata." Lagi-lagi Bima memuji Luzi dan hanya dibalas senyuman oleh wanita itu.
"Kau pasti belum sarapan, makanlah punyaku!" Gino tiba-tiba menghadap belakang dan memberikan kotak makanan itu pada Luzi.
Luzi yang tengah minum air lantas berhenti, "masakan ku tidak enak, ya?" Pikir Luzi karena Gino baru saja memakan makanannya itu beberapa suap. Mungkin sekitar lima belas suap.
Bima menatap heran Gino yang masih menghadap kebelakang, "Enak, makanya kau juga harus mencobanya." Ucap Gino
Luzi mengambil kotak makanan itu, "Lalu kau?"
"Aku sudah kenyang, terimakasih." Jawab Gino lalu mengambil sebotol air.
"Terimakasih." Luzi menyantap makanan yang diberikan oleh Gino. Meskipun itu masakannya, tapi karena tadi tidak sempat mencoba membuatnya menikmati nasi goreng itu.
"Tunggu dulu...." Luzi berhenti makan dan teringat sesuatu.