
"Apa aku pantas hidup?" Tanya Gino. Kini pria itu menempelkan dagunya dibahu gadis bertubuh mungil itu.
"Tentu saja, kau layak. Maka dari itu gunakan waktumu untuk berbuat baik sebagai permintaan maafmu untuk gadis itu." Tutur Luzi.
Ia kini membalas pelukan pria itu sambil membaca file yang telah dikirimkan rekannya mengenai kejadian dua tahun lalu.
Flashback!
Dua tahun lalu....
Rasa senang terasa menggebu di jiwa seorang pria yang baru saja mendapat lisensi mengemudinya. Kesenangan itu semakin bertambah ketika ia mendapat mobil keluaran terbaru merk Toyota SUV berwarna hitam sebagai hadiah karena dirinya diterima di universitas terbaik menggunakan jalur prestasi.
Usai menghadiri party terakhir sekolahnya bersama kawannya, pria muda itu memasuki mobil baru setelah mengantar temannya pulang. Dengan bangga ia memamerkan suara bisik dari mesin mobilnya sebelum meninggalkan halaman rumah teman yang ia antarkan pulang.
Seakan jalanan adalah miliknya, dengan seenaknya ia menancap kecepatan cepat dan sesekali menyalip disaat yang tidak tepat. Ia juga tidak menggunakan kedua tangannya karena sibuk dengan ponselnya.
Layar ponsel menunjukkan waktu baru pukul empat sore. Dengan semangat karena ia akan menghadiri dinner family untuk merayakan kesuksesan dirinya yang sebenarnya masih cukup dini untuk dirayakan, ia seenaknya melajukan kecepatannya diangka 120km/jam serta mata yang sibuk dengan ponsel.
"Gin, berhenti memainkan ponsel. Kau sedang menyetir!" Teman yang sedang bertukar pesan bersama Gino mencoba memperingatinya.
Bukannya mengikuti apa yang dikatakan temannya melalui pesan singkat, pria itu semakin melajukan kendaraannya secepat mungkin bagaikan petir yang menyambar.
Dengan suara musik yang ia bunyikan cukup keras, ia menggoyangkan kepalanya kenikmatan keadaan yang begitu ia dambakan sejak ia berada di sekolah menegah.
Begitupun dengan orang-orang yang sama-sama menikmati apa yang mereka suka melalui beberapa hal. Baik itu melalui nyanyian ataupun yang lainnya.
Itu juga yang dilakukan oleh dua orang yang tengah menikmati hidup mereka ditempat yang berbeda. Satu dalam mobil dan satu lagi berjalan-jalan menikmati cuaca yang cukup sejuk kala itu.
"Ibu, aku tidak sabar menunggu ayah." Ucap gadis itu tersenyum menatap ibunya yang tengah memengangi tangannya bersiap untuk menyebrang.
"Ibu juga." Balas ibunya yang masih cukup muda.
"Apa ayah akan datang dan kewalahan seperti waktu itu?" Tanya gadis itu.
"Ibu tidak tahu, nak. Sepertinya ia tidak akan melakukannya lagi." Ucap sang ibu dengan senyuman di bibirnya.
"Ibu ayo cepat menyebrang sebelum lampu itu berubah menjadi merah!" Gadis itu menarik-narik tangan besar sang ibu yang tengah merogoh tasnya untuk mengambil sesuatu.
"Akhirnya ketemu." Seru sang ibu yang akhirnya menemukan benda yang ia cari-cari yaitu ponsel.
Ibu dan anak itu pun segera menyebrang seperti orang-orang karena sudah saatnya mereka melewati jalanan yang selalu ramai akan lalu lalang kendaraan.
"Ibu, cepat! Lampunya sudah berubah." Teriak gadis kecil itu menyuruh sang ibu supaya menyimpan ponselnya dan segera menyebrang.
Namun tiba-tiba sebuah mobil SUV berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi tanpa melihat kendaraan lain yang berhenti karena lampu masih merah.
"Ibu awas!"
Brak.......
Hantaman yang cukup kencang menimbulkan suara yang keras hingga orang-orang mulai datang dan mengerumuni sumber suara itu.
Orang-orang yang datang untuk melihat langsung terkejut mendapati kecelakaan tunggal tepat didepan mereka. Mobil SUV hitam yang tadi melaju kencang mengahantam tiang lampu lalu lintas dan bagian depannya rusak parah. Sedangkan wanita yang tadi berdiri ditengah jalan tengah berjongkok menundukkan kepalanya karena berpikir bahwa dirinya akan tertabrak oleh mobil itu.
Beberapa meter dari lokasi mobil SUV berada, seorang gadis kecil terkapar dengan darah disekujur tubuhnya hingga menyebar diatas apal yang berwarna hitam. Orang-orang yang melihat gadis itu segera memanggil ambulans serta polisi untuk segera datang ke lokasi.
"Permisi, apa kau memiliki seorang anak?" Ucap seseorang seraya menepuk pundak wanita yang tengah berjongkok ditengah jalan itu.
Ingat akan putrinya, wanita itu segera bangkit dan mengitari tempat itu untuk melihat wajah cantik anaknya. Namun setelah beberapa kali matanya berkeliling ia tak juga menjumpai wajah cantik yang beberapa detik yang lalu bersamanya.
"Apa putrimu menggunakan bando bunga matahari?" Celetuk seseorang.
"Benar, dimana dia?"
Dengan ragu jika tebakannya ternyata salah, orang itu lalu membawanya menuju tempat dimana anak itu berada. Dan betapa terkejutnya wanita itu saat mendapati bando yang digunakan anaknya telah berubah warna menjadi merah seperti darah yang menyelimuti jalanan.
"Tidak!....." Teriak sang ibu dan langsung bersimpuh didepan gadis kecilnya yang terkapar di aspal itu.
"Cepat selamatkan putriku! Cepat panggil ambulans!" Teriak wanita itu meminta tolong kepada siapapun yang bersedia memanggil ambulans untuk membawa anaknya ke rumah sakit.
"Tidak! Putriku hanya terjatuh! Dia tertidur sekarang." Bentak wanita itu.
Ia tak dapat menerima kenyataan bahwa putri kecilnya yang baru masuk sekolah dasar itu telah meninggalkan dirinya dari dunia ini.
Begitu pula yang dirasakan oleh pria dibalik kemudi SUV berwarna hitam. Wajahnya dipenuhi oleh darah karena pecahan kaca depan mobil berhamburan menerpa wajahnya.
Keributan-keributan yang terjadi ditempat itu masih dapat terdengar samar-samar oleh pria yang bersandar lemah itu. Begitupun dengan suara sirine ambulans dan mobil polisi yang datang ke tempat itu.
"Apa ada korban dalam kecelakaan ini?" Tanya seorang wanita berseragam polisi lengkap itu.
"Ada. Seorang gadis tewas tertabrak," jawab salah satu warga.
"Pasang garis polisi!" Perintahnya kepada bawahan yang berada di belakangnya.
"Siap."
Wanita itu berjalan menghampiri seorang wanita yang tengah menangis seraya memeluk anaknya yang menjadi korban tabrak itu. Ia lalu berjongkok seraya memegang pundak wanita itu.
"Putrimu harus segera dibawa ke rumah sakit." Ucap polisi wanita itu mencoba menghentikan tangis seorang ibu yang kehilangan anaknya.
"Dia hanya tertidur, kan?" Ujar wanita itu.
Polisi wanita itu hanya menggangguk membenarkan ucapan ibu itu. Meskipun ia tahu bahwa gadis kecil itu telah kehilangan nyawanya karena luka dibagian kepalanya cukup parah dan telatnya pertolongan.
"Segera panggil petugas ambulans kemari!" Perintah polisi wanita itu.
Setelah perintah itu keluar, para tenaga medis langsung mengangkat gadis itu lalu memasukkannya kedalam ambulans beserta sang ibu ikut mendampingi.
"Bagaimana kronologinya?" Tanya polisi wanita itu.
Begini....
Salah seorang yang berada diarea tempat itu mencoba menjelaskan apa yang ia lihat mulai dari saat mobil SUV melaju kencang hingga kelalaian sang ibu yang terlalu sibuk dengan ponselnya.
"Lalu dimana pengemudi SUV itu?" Tanya polisi wanita itu setelah mendengarkan cerita kejadian tragis dijalanan itu.
"Entahlah, aku belum melihatnya." Ucap seorang wanita yang berdiri diarea sekitar sang polisi wanita.
"Sepertinya dia masih didalam mobil." Celetuk beberapa warga.
Mendengar hal itu polisi wanita dengan rambut pendek sebahu lantas berlari menghampiri mobil SUV hitam yang bagian depannya sudah ringsek parah.
Ia lalu mengetuk-ngetuk kaca mobil berharap orang dibalik kemudi itu masih hidup, "Tuan, buka!" Teriaknya beberapa kali namun tak ada jawaban.
Polisi itu lantas mendekatkan wajahnya pada kaca mobil untuk melihat kondisi pria dibalik kemudi itu. "Astaga...." Polisi itu terkejut dan lantas mengambil benda keras untuk menghancurkan kaca pintu itu dan mengeluarkan pria yang sudah berlumuran darah keluar.
Brak.....
Setelah beberapa kali hantaman akhirnya ia berhasil memecahkan kaca mobil dan segera membukanya. "Cepat panggilkan ambulans!" Teriaknya seraya melepas seatbelt yang melekat ditubuh pria itu.
"Dia masih hidup." Ucap polisi wanita itu setelah mengecek udara yang keluar dari hidungnya.
"Apa sudah ada yang memberi tahu keluarganya?" Teriak wanita itu namun semua orang menggeleng.
"Kau! Tolong cari ponsel orang ini, aku akan ikut ke rumah sakit!" Perintah Polisi itu dan segera dilaksanakan.
"Kenapa medis belum juga tiba?" Herannya seraya mencoba menghentikan pendarahan pada pria itu dan mencoba memberi pertolongan semampunya.
Setelah beberapa menit kemudian akhirnya medis datang dan segera mengevakuasi pengemudi itu ke rumah sakit.
"Cepat! Dia mengeluarkan banyak darah!" Teriak polisi wanita itu setelah ia ikut masuk kedalam mobil ambulans untuk mengantarkan korban.
Pria yang terbaring berlumuran darah diwajahnya itu masih setengah sadar dan mendengar apa yang dikatakan oleh wanita yang duduk menemaninya. Bahkan ia juga dapat mencium aroma parfumnya.
Flashback end
Gino mencengkram kedua tangan Luzi, "Apa kau mengingatnya?"