
Setelah cukup lama tak menampakkan kakinya dilantai kantor polisi, Luzi berdiri didepan pintu masuk dengan mata yang berkeliling untuk melihat keadaan sekitar tempatnya bekerja.
"Beberapa hari yang lalu aku menginjakkan kaki disini sebagai saksi." Kata Luzi sebelum akhirnya melangkah masuk kedalam.
Hari yang mulai gelap, membuat suasana kantor agak sepi karena hanya ada sebagain polisi yang berada disana. Mungkin sebagian dari mereka sedang bertugas diluar. Beberapa orang yang berpapasan dengan Luzi menegurnya hanya untuk menanyakan kabar atau sekedar basa-basi.
Pintu dengan tulisan ruangan komandan itu ia ketuk sebelum akhinya membuka pintu.
"Duduklah!" Ucap seorang pria yang sudah berada diruangan itu.
"David...." Gumam Luzi.
"Kemana komandan?" Tanya Luzi yang sedikit gugup itu seraya mendudukkan tubuhnya di kursi yang telah tersedia.
"Dia sedang keluar, sebentar lagi juga kembali." Jawab David. mendengar jawaban David, Luzi hanya membulatkan mulutnya.
Tak lama pintu pun terbuka hingga Luzi dan David sontak berdiri untuk menyambut kedatangan seorang pria yang sudah sedikit tua yang tak lain adalah atasannya itu.
"Kalian sudah tiba ternyata," ujar Komandan dan segera duduk dikursi kerjanya.
"Siap, sudah." Ucap Luzi dan David kompak. Kedua orang itu kini berdiri menghadap atasan mereka.
Sebelum berbicara, komandan Jo terlebih dulu menarik napasnya dalam-dalam. "Apa kalian sudah tahu alasanku memanggil kalian berdua?"
"Siap, tidak." Ucap Luzi lantang.
"Siap, belum." Jawab David. Kali ini jawaban mereka berdua berbeda.
"Langsung saja ke intinya." Tegas Komandan Jo yang kini ikut berdiri. "Zero, apa yang kau ketahui tentang universitas itu?"
"Siap. Setelah aku bertanya pada mahasiswa disana mereka mengatakan jika ada satu dosen yang selalu terlibat dengan polisi namun tidak pernah masuk bui yaitu Rendi." Tutur Luzi. Ia mengatakan semua yang diberitahu oleh Gino kepadanya hari itu tanpa kecuali.
"Lalu bagaimana pergerakanmu selanjutnya?"
"Siap. Seperti yang telah aku laporkan, Aku akan melihat rekaman cctv dikampus itu supaya mendapat bukti terkuat dan dapat menjebloskannya dalang dibalik kasus itu ke penjara. Namun..."
"Namun apa?"
"Namun setelah aku coba untuk mencari tempat monitor cctv pada denah kampus, aku tidak dapat menemukannya."
"Kenapa bisa begitu?" Ucap David yang ikut heran setelah mendengar penjelasan Luzi.
"Entahlah, aku juga bingung. Tapi saat aku berjalan-jalan aku selalu melihat kamera di setiap sudutnya." Jelas Luzi.
Mendengar hal itu ketiga orang yang berada dalam ruangan itu sama-sama bingung dengan keadaan. Pasalnya agak aneh jika kamera dimana-mana namun tidak ada tempat untuk memonitoring.
"Sepertinya ini lebih rumit dari dugaanku," Gumam komandan Jo dalam hatinya.
"Apapun itu, aku harus mendapatkan promosiku." Luzi menyemangati diri sendiri dalam hatinya.
Terduduk tanpa melakukan apapun dan merasakan rasa sakit yang sering datang membuat wanita dengan kacamata hanya bisa menuruti apa yang diucapan wanita paruh baya yang selalu bersamanya.
"Waktunya makan dan minum obat." Ucap seorang wanita yang kini baru saja tiba diruangan itu dengan nampan ditangannya.
Bukannya menjawab, wanita dengan kacamata itu malah membuang wajahnya. Rasanya begitu malas kedua matanya untuk melihat wanita yang menurutnya begitu tidak punya hati itu.
"Lakukan apa yang aku katakan jika kau ingin segera pulih." Bisik Ann penuh penekanan.
Lila langsung mengambil piring itu dan mulai menyantapnya dengan posisi memunggungi Ann. Semenjak ia mengetahui bahwa saat itu ginjalnya telah diambil, Lila memilih bungkam saat Ann masuk kedalam ruangan tempatnya itu. Bahkan terkadang wanita tua itu selalu marah saat perilaku Lila yang buruk padanya itu sudah sangat berlebihan. Namun itu tak sebanding dengan hal buruk yang dilakukan Ann kepada Lila.
"Sejak operasi kau menjadi bisu." Sindir Ann yang memperhatikan Lila yang sedang menyantap makanan.
Brakk...
Segelas air tumpah saat Ann bergerak dan tak sengaja menyenggolnya untuk menghampiri Lila yang sedang asik makan.
"Dengarkan aku wanita tak tahu diri! Jika bukan karena diriku yang mengurusmu, kau pasti sudah mati seperti mereka!" Bentak Ann dengan tangan yang mencengkram dagu Lila.
Lila hanya menatap Ann tanpa berkata apapun. Mulutnya mulai bergerak untuk mengunyah makanan yang sempat ia masukan kedalam sebelum wanita itu mencengkram dagunya.
"Cih." Ann menghempaskan dagu Lila setelah mendapat jawaban yang sama, *Kebisuan*.
"*Apa semua mahasiswa yang hilang dikampus secara misterius itu karenamu dan rekanmu itu, Ann? Cih dasar wanita iblis." Gerutu Lila dalam hatinya*.
Rasanya tangan yang masih terhubung dengan selang infus itu ingin sekali mendarat dengan keras diwajah wanita jahanam itu untuk meluapkan semua kekesalannya dan juga mewakili orang-orang yang gagal bertahan hidup karena ulahnya.
"Jika besok sikapmu masih begitu kepadaku—"
Belum menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ponsel wanita itu berdering hingga membuatnya beralih untuk menjawab panggilan.
"Halo.."
"Bagaimana keadaan produsen kita?"
"Dia masih hidup. Dan kau tahu, aku harus ekstra bersabar saat menghadapinya." Keluh Ann kepada orang yang sedang dalam panggilan itu.
"Bersabarlah, kita tunggu aba-aba dari tuan bos kedepannya tentang Lila." Balas pria yang tengah duduk dirumahnya itu. Ia lalu memutuskan sambungan panggilan itu kemudian mengambil sebuah gelas berisi cairan berwarna merah dan meneguknya sampai habis tak tersisa.
Diruangan yang tertutup bahkan dapat dikatakan kedap akan suara, ketiga orang yang berprofesi sebagai polisi itu terduduk memikirkan rencana kedepannya jika seandainya rekaman cctv itu tak pernah ada.
"Pokoknya, kita harus menemukan bukti kuat selain rekaman cctv itu." Ucap David.
"Itu benar, tapi sangat sulit. Seperti yang dilaporkan Zero pada kita bahwa para mahasiswa begitu acuh terhadap apa yang terjadi. Bahkan tak sedikit dari mereka yang malah membela pria itu." Tutur komandan Jo.
"Semenjak aku menemukan Poto Agnes dilacinya aku mulai curiga padanya, dan aku belum menemukan orang lain yang mencurigakan sepertinya selain dosen ini." Jelas Zero.
"Kenapa? Bukannya bisa saja mereka seorang kekasih?" Tebak David.
"Hemm..." Zero menggelengkan kepalanya, " itu tidak mungkin karena dia dan aku baru saja masuk ke universitas itu. Jadi tidak mungkin mereka berhubungan kecuali...."
Kedua pria itu menatap Zero menunggu lanjutan ucapan wanita itu, "Dia adalah target selanjutnya." Lanjut Zero.
"Kau benar. Lalu kenapa hanya kepada orang itu kau curiga?" Tanya Komandan Jo.
"Awalnya aku tidak curiga padanya. Seperti dugaan kalian tadi, aku juga berpikir mereka sepasang kekasih. namun setelah mendengar cerita tentang pria itu aku mulai yakin dengan kecurigaanku." Papar Zero menjelaskan alasannya mencurigai Rendi, dosen di universitas GAZ.