ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Diam-diam mengantar



Tiga jam sudah Luzi berada dikelasnya bersama mahasiswa lainnya dan setelah mata kuliah selesai mereka semua perlahan-lahan keluar meninggalkan ruangan. Begitu juga dengan Luzi, Kini wanita itu berjalan keluar dari kelasnya untuk menjalankan rencana pertamanya yaitu mencari ruang monitor cctv yang tidak ia ketahui dimana letaknya.


Mengitari setiap lorong yang begitu banyak di kampus itu membuat Luzi sedikit bingung dan dibuat pusing ketika harus mengingatnya. Ia bahkan sering kembali ke tempat yang sama atau bahkan menemukan kebuntuan.


"Sial. Aku malah berputar-putar disini." Dengus Luzi dengan kedua tangan yang berada di pinggang.


Tak putus asa dengan kegagalannya yang terus berulang, Luzi kini berjalan bertolak belakang dari tempatnya tadi berdiri. Ia berjalan perlahan dengan kedua mata yang terus berkeliling mencari apapun yang dapat ia jadikan sebagai petunjuk.


Kini Luzi berhenti didepan sebuah pintu sebuah ruangan dan memegang gagangnya siap untuk membukanya namun sebelum sempat ia menarik pintu itu seseorang tiba-tiba mendorong pintu itu dari dalam.


"Kau.. sedang apa disini?" Ucap dua pria didepan Luzi yang berdiri saling bersebelahan itu kompak.


Kedua pria yang sebelumnya sama-sama melihat ke arah Luzi kini saling menatap, "kau mengenalnya?" Lagi-lagi mereka kompak mengatakan hal yang sama.


"Astaga, kenapa aku harus bertemu dengan ketua dan manusia maut di waktu yang bersamaan?" Gumam Luzi yang mematung didepan dua pria berpostur tinggi itu.


"Hem," jawab Gino disertai anggukan.


"Kau ada janji dengannya?"


"Tidak." Jawab Gino singkat


"Ya ampun, aku harus memberi mereka alasan apa?" Luzi bertanya dalam hatinya seraya mencari sebuah rangkaian kata untuk menghindar dari kedua pria itu.


"Kau ingin bertemu siapa?" Tanya Eren seraya mengalihkan pandangannya pada Luzi.


"Tidak siapapun." jawab Luzi sambil tersenyum, "sebenarnya aku terserat, dan kupikir ini kelasku, ternyata bukan."


"Benarkah?" Selidik Gino dengan tatapan cukup tajam pada Luzi.


"Be-benar, aku masih baru disini dan sulit bagiku untuk mengingat semua tempat." Jelas Luzi sambil menundukkan kepalanya.


"Hei, menyingkirlah dari pintu itu. Kalian berdua menghalangi jalan!" Tegur seorang wanita hingga kedua orang itu pun berjalan keluar.


Luzi mundur beberapa langkah saat kedua pria itu berjalan kedepannya,"Maaf mengganggu waktu kalian, permisi." Pamit Luzi dan langsung menjauh dari dua orang itu.


Tanpa menjawab kedua pria itu memperhatikan Luzi yang pergi hingga bayangannya tak lagi terlihat saat wanita itu berbelok ke kanan.


"Ren, Aku duluan." Pamit Gino lalu berjalan searah dengan jalan yang dilalui Luzi tadi.


"Ok." Jawab Eren disertai anggukan lalu berbalik dan berjalan berlawanan arah dengan Gino.


~~~~~~~~~~~~~


Ditempat berbeda dari sebuah ruangan keluar seorang pria. Ia melirik ke kiri dan kanan setelah menutup pintu lalu berjalan kearah kanan.


"Hei, kau!" Tegur pria itu kepada seorang wanita berambut pirang.


Wanita itu berbalik, "saya, pak?" Tanyanya


Pria itu kini berjalan menghampiri wanita berambut pirang itu, "siapa namamu?" Tanyanya.


"Agnes Delia." Jawabnya. "memangnya kenapa, pak?" Agnes bertanya pada pria itu.


"Tidak apa, lanjutkan perjalananmu." Ucap pria itu lalu pergi meninggalkan Agnes yang mematung karena heran.


"Dia memanggil ku hanya untuk menanyakan namaku saja?" Agnes menggeleng. Ia tak habis pikir dengan pikiran pria yang merupakan dosen di universitas itu. Ya, pria yang memanggil Agnes tadi adalah Rendi, Dosen biologi di universitas GAZ.


"Jika dia bukan dosen, aku akan mengacuhkannya tadi." Cetus Agnes dan kini melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kantin mengisi ruang diperutnya yang sudah kosong itu.


"Kenapa kau seperti pencuri?" Ucap seseorang dibelakang Luzi hingga wanita itu terperanjat.


Luzi memperbaiki postur tubuhnya lalu berbalik, "bukan urusanmu." Ucapnya lalu berjalan meninggalkan pria yang mengagetkannya itu yang tak lain adalah Gino.


"Astaga, dia hampir membuatku mati untuk yang kedua kalinya." Ujar Luzi yang kini memegangi jantungnya karena masih terkejut.


Terus berjalan tanpa arah membuat Luzi terhenti saat didepannya terdapat empat arah. Satu naik keatas, satu turun ke bawah, dan satu lagi lurus kedepan yang semua nya Luzi tak tahu arah untuk kemana.


"Astaga, ini lebih sulit dari labirin." Celetuknya.


Suara langkah kaki membuat mata Luzi berkeliling mencari sumber suara, namun tidak ada seorangpun disana hingga beberapa detik kemudian seseorang turun dari tangga atas.


"Selamat siang, Bu." Sapa Luzi pada seorang dosen wanita yang tadi masuk ke kelasnya.


"Siang, sedang apa berdiri disini?" Tanya dosen wanita itu yang bingung saat melihat Luzi mematung disana.


"Anu... Saya sedang mencari kantin, tapi malah nyasar entah kemana." Jawab luzi sambil tersenyum malu.


"Oh, kantin. Kau lurus saja dari sini nanti saat melihat tangga, turunlah." Ucap dosen itu.


"Terimakasih, Bu ." Jawab Luzi sambil tersenyum. Dosen itu pun membalas senyuman Luzi lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Gino yang berdiri dibelakang Luzi menggeleng, "dia bahkan kebingungan mencari kantin." Gumam Gino seraya menyunggingkan sebelah bibir nya.


Pria bertubuh tinggi dengan rambut comma hair hitamnya itu berjalan melewati Luzi yang melangkah perlahan hingga supaya ia dapat memimpin wanita kusut itu. Tanpa menegur ataupun menoleh, ia berjalan dengan keren tanpa memperdulikan Luzi.


Melihat Gino berjalan didepannya membuat Luzi memilih untuk mengikuti pria itu tanpa sepengetahuannya. Ia berjalan agak berjarak dari Gino karena takut ketahuan jika dia sedang mengikutinya.


Namun Gino yang sudah menyadari bahwa Luzi mengikutinya terus berjalan dan berpura-pura tida menyadari bahwa ia sedang diikuti. Seperti yang dikatakan oleh dosen wanita tadi, kini Gino menuruni anak tangga begitu pun dengan Luzi.


Setelah anak tangga itu habis, mereka berdua sama-sama belok ke arah kanan dan masuk ke sebuah ruangan yang penuh akan aneka ragam makanan juga orang-orang yang sedang mengisi perutnya.


"Kau ingin ke sini kan?" Ucap Gino saat berhenti diambang pintu.


"Eh?" Luzi yang tak jauh dari Gino dapat mendengar dengan jelas suara pria itu. "Jadi dia mengantarku?"


Setelah mengitari seluruh ruangan kantin, Gino akhirnya melanjutkan langkahnya dan masuk kedalam lalu mengambil makanan sebelum akhirnya duduk di sebuah bangku yang kosong.


Luzi yang belum masuk kedalam kantin karena masih memikirkan ucapan Gino segera menggeleng cepat, "dia bukan bicara padamu, bodoh." Gumamnya.


Ia lalu masuk kedalam Kantin lalu mengambil makanan dan kini kembali mematung untuk mencari bangku yang kosong. Hanya ada satu bangku yang cukup kosong dengan seorang pria yang sedang melahap makan siangnya dengan tenang.


"Bolehkah aku duduk disini?" Tanya Luzi setelah menghampiri bangku itu.


Gino menoleh, "Tidak boleh. Kau makan saja sambil berdiri." Tegas Gino seraya kembali memasukan sendok ke dalam mulutnya.


Luzi melipat bibirnya, "bisa-bisanya dia bersifat ganda." Gumamnya dalam hati.


Daripada menuruti ucapan Gino, Ia kini berjongkok sambil memegangi piring dan mulai memakan makan siangnya didepan bangku Gino. Ia tak peduli dengan pikiran orang-orang yang melihatnya makan sambil berjongkok karena ia sudah tidak kebagian bangku lagi.


Gino yang tak melihat Luzi didepannya mengedarkan Pandangannya keseluruh ruangan kantin namun tak menemukan punggung dengan rambut kusut yang panjang atau wajahnya.


"Mungkin dia sudah pergi." Pikir Gino tanpa berkata. Pria itu kini kembali memakan makan siangnya dan tak sengaja menyenggol tempat tisu hingga jatuh. Gino pun mengambil tempat tisu yang jatuh kebawah bangku itu dan tak sengaja melihat hal yang janggal.


Memastikan kembali apa yang dilihatnya, Gino bergeser ke samping tempat duduknya dan menengok ke bawah bangku dan mendapati Luzi tengah menenteng piring sambil berjongkok. "Astaga, dia..."


"Kau sedang apa disitu?"