
Setelah keluar dari area kampus, Luzi memilih untuk kembali kerumah sebelum pergi ke kantor untuk meluruskan penampilannya dari Luzi seorang mahasiswa menjadi Zero sang polisi wanita.
Waktu yang ditempuh Luzi dari kampus ke rumahnya hanya sekitar dua belas menit karena ia menggunakan kereta api cepat untuk mempersingkat waktunya.
Setibanya dirumah ia langsung melepas sepatu dan menyimpan ranselnya disembarang tempat lalu bergegas berganti pakaian dan menuju meja rias untuk memperbaiki model rambutnya.
"Sialan wanita itu, gara-gara dia rambutku jadi begini." Kesal Luzi saat melihat pantulan rambutnya yang pendek sebelah akibat dipotong cukup banyak oleh Abel.
Ia lalu mengambil ikat rambut untuk mengikat rambutnya juga menyembunyikan kecacatan yang terjadi di sebagian kepalanya itu. Tak lupa ia juga mengambil kacamata hitam miliknya yang ia simpan didalam laci meja riasnya.
Penampilannya kini telah berubah, dan Luzi siap untuk pergi menuju kantor. Namun ketika ia membuka pintu seseorang telah berdiri disana siap untuk mengetuk.
"Astaga..." Luzi terkejut saat mendapati Gino berdiri didepan rumahnya dengan tangan yang hendak mengetuk pintu.
"Kau siapa?" Tanya Gino setelah menatap Luzi dari atas sampai bawah.
"Aku?" Luzi menunjuk dirinya sendiri, "Yang seharusnya bertanya itu aku, Kenapa kau ada didepan rumahku?" Luzi berbicara layaknya orang lain yang tidak mengenali Gino.
Namun matanya nampak panik dan tak dapat berbohong. Beruntung wanita itu mengenakan kacamata hitamnya dari dalam rumah sehingga Gino tidak dapat melihat gerakan matanya.
"Rumahmu?" Alis Gino terangkat saat mendengar ucapan Zero alias Luzi.
Mata Luzi membesar saat menyadari bahwa dirinya telah keceplosan. "Ma-maksudku kau mencari siapa?" ucap Luzi yang sedikit gugup karena takut pria itu curiga.
"Aku mencari perempuan jelek yang baru saja masuk rumah ini, kemana dia?" Gino mengintip kedalam rumah untuk mencari wanita jelek itu.
"CK, sialan. berani dia mengataiku jelek," Gumam hatinya yang keberatan dengan ucapan Gino.
"Disini tidak ada wanita jelek." Tegas Zero.
"Jelas ada! Dia mempunyai rambut kusut seperti benang bekas pakai." kekeh Gino.
"Oh.. mungkin kau mencari Luzi, anak itu belum kembali." Ucap Luzi segera menyela Gino. Ia lalu bergegas keluar dan menutup pintu serta menguncinya.
"Benarkah? Aku lihat dia baru saja masuk kedalam," Ucap Gino hingga membuat Luzi menghentikan aktivitasnya.
"Dia mengikutiku?" Gumam Luzi dalam hatinya. Ia kini menatap Gino, "lantas kau mau apa?"
Lama tak menjawab pertanyaan dari Luzi, membuat wanita itu memilih untuk pergi meninggalkan Gino didepan rumahnya.
"Aku ingin bertemu dengannya." Teriak Gino.
"Dia tertidur, jika itu penting kembalilah besok." Ucap Luzi dan segera melangkahkan kembali kakinya untuk menghindari Gino yang terus bertanya.
Gino hanya bisa mematung memperhatikan punggung wanita dengan gaya rambut ponytail yang baru saja keluar dari rumah Luzi. Penampilannya yang berubah, tampilan rambutnya yang berbeda dari Luzi, serta gaya bicaranya yang lembut namun penuh penekanan disetiap katanya.
Tapi satu hal yang menurut Gino tak berubah, wangi yang selalu ia cium dari Luzi tercium juga dari wanita yang baru saja meninggalkannya.
"Penampilanmu berubah, tapi tidak dengan wangimu." Ucap Gino yang masih menatap Kepergian Luzi.
Dengan langkah yang tergesa-gesa Luzi berjalan menuju pemberhentian bus untuk segera pergi menuju kantor polisi memenuhi panggilan atasannya.
"Gara-gara Gino berada di depan rumah, aku jadi tidak bisa menggunakan kendaraanku untuk pergi ke kentor." Kesal Luzi.
Bekerja di kepolisian selama kurang lebih tiga tahun membuat Luzi dapat membeli kendaraan pribadi. Bukan sebuah mobil ataupun motor sport seperti kebanyakan polisi dalam drama, Luzi hanya membeli sebuah sepeda motor yang dapat dengan mudah dia gunakan saat dalam kondisi genting.
Disebuah taman kecil di rumah Bima, Aara terduduk seorang diri. Matahari yang cukup terik membuat Aara mengibas-ngibas tangannya untuk menghasilkan angin buatan. Tak lama tiupan angin alami yang cukup besar mulai terasa dan membuat rambut wanita itu mengikuti kemana arah angin itu membawanya.
"Cuacanya cukup bagus, kan?" Tanya Bima yang kini berdiri disamping kursi tempat Aara duduk.
"Hem," Aara menganggukan kepalanya.
"Anu... Sampai kapan kita akan terus begini?" Aara memberanikan diri untuk bertanya mengenai perjanjian mereka mengenai hubungan sebagai kekasih pura-pura itu.
"Entahlah, aku tidak tahu." Bima berkata pelan dengan tatapan ke sembarangan arah.
"Begitu, ya.."
"Maaf telah melibatkan mu dalam masalahku," Ucap Bima kemudian.
"*Kau memang bersalah karena telah menyeretku kedalam kerumitan ini!" gumam Aara dalam hatinya*. Ia tak berani mengatakan itu kepada Bima karena baru mengenal pria itu beberapa hari yang lalu.
"Aku berhutang budi padamu karena telah menolongku waktu itu, jadi mungkin dengan ini kita impas." Tutur Aara.
"Ya, kau benar. Mungkin setelah ini aku akan jujur pada orang tuaku tentang dirimu,"
"Sebaiknya begitu." Aara menyetujui ucapan Bima.
Namun ada satu hal yang mengganjal dalam hatinya. Rasa berat dan sedih yang tak dapat digambarkan melalui apapun mulai terasa saat dirinya mendengar ucapan pria yang baru ia kenal beberapa hari ini.
Begitu pun dengan Bima, pria itu menatap Aara dengan tatapan kecewa atas apa yang baru saja ia dengar dari wanita itu yang setuju dengan perkataanya. Padahal ia sangat berharap wanita itu mau melanjutkan kepura-puraan itu hingga perlahan menjadi nyata.
"Hari hampir malam, aku harus pulang." Ucap Aara saat melihat langit yang mulai berwarna jingga itu.
"Biar aku antar."
Pria itu berjalan beriringan dengan Aara dan sesekali berteriak memanggil kedua orang tuanya untuk menemui Aara sebelum wanita itu meninggalkan rumah mereka.
"Aara akan pulang, dimana mama?" Bima mengitari ruangan itu namun tak menemukan mamanya.
"Mamamu sedang dikamar. "Ucap pria tua itu.
"Tunggu sebentar," ucap Bima lalu segera berlari menuju kamar mamanya.
"Mama..."
"Ma...?"
"Iya, Bima. Ada apa?" Ucap wanita paruh baya itu seraya keluar dari kamar.
"Aara akan pulang, dan ingin pamitan." Ucap Bima.
"Benarkah?" Mama Bima segera menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu tempat Aara menunggu.
Diruang tamu, Aara berdiri dengan mulut yang membisu karena canggung untuk memulai obrolan dengan ayah Gino yang sepertinya sedang sibuk.
"Aara.." panggil ayah Gino.
"Iya, tuan."
"Kenapa kau mau menjadi kekasih putraku?" Tanyanya tanpa berpaling dari layar laptop didepannya.
Aara terkejut mendengar pertanyaan itu. Apa yang harus ia katakan? Bahkan nama Bima saja ia tahu ketika sudah berada dirumah ini, saat mamanya memanggil pria itu.
"Untuk saat ini penilain saya mengenainya, dia adalah pria yang mampu menjadi partner terbaik bagi saya. Meski belum tahu banyak tentang dirinya, karena kami belum cukup lama menjalin hubungan." Tutur Aara.
"Jadi kalian baru menjalin hubungan?"
"Benar, tuan."
"Berapa lama?"
Aara terdiam. Haruskah ia kembali berbohong Ataukah ia kali ini harus jujur?
"Tiga.."
"Tiga apa?" Ucap Bima yang datang bersama dengan ibunya.
Kedatangan pria itu membuat Aara bernapas lega, "itu, ayahmu menanyakan berapa lama hubungan kita."
"Ohh, itu belum lama. Kita baru menjalin hubungan selama tiga bulan." Tutur Bima yang seperti tidak sedang berbohong. Wajahnya tenang dan ekspresi nya pun begitu meyakinkan.
"Ternyata belum lama," ucap Ayah Bima.
Setelah berpamitan kepada orang tua Bima, Aara kini berjalan keluar untuk pulang dengan diantar oleh *kekasihnya*, Bima.
"Sering-seringlah datang, Aara. " Teriak mama Bima saat dirinya hendak masuk kedalam mobil.
"Hem." Aara menganggukan kepalanya dan masuk kedalam mobil.
"Huhhh... Akhinya," ucap Aara setelah duduk disamping Bima.
"Kau kenapa?"
"Aku Lega, akhirnya hari ini berakhir."