
Tok.....
Tok.....
Tok.....
Ketukan pintu membuat seorang pria yang tengah duduk dikursi sambil memeriksa sebuah buku lantas berdiri untuk membuka pintu.
"Siapa?" Tanya pria itu saat membuka pintu, "oh, ternyata kau. Masuklah!" Lanjut pria itu setelah melihat seorang wanita berdiri didepan ruangannya.
Wanita berkacamata itu tersenyum, lalu berjalan masuk kedalam ruangan milik pria bertubuh tinggi itu.
"Anu, kapan aku bisa datang ke hotel untuk bekerja?" Tanyanya setelah dipersilakan untuk duduk.
"Saudaraku bilang kau bisa datang setelah kuliahmu selesai,"
"Apa kau bisa memberitahuku alamatnya?" Pinta Lila.
"Apa aku belum memberitahu itu?" Tanya pria itu diikuti tangan yang menempel di dahi, "astaga, aku lupa. Ini alamatnya." Pria itu memberikan secarik kertas yang ia ambil dilaci.
"Terimakasih, pak. Kau telah membantuku," Ucap nya sebelum pamit
"Sama-sama Lila, aku hanya ingin membantu." Jawab Pak Rendi lalu mengantar wanita dengan kacamata bulat itu keluar dari ruangannya.
Setelah kepergian Lila, Dosen yang memegang bidang biologi itu kini berjalan menghampiri sebuah torso atau dikenal sebagai model peraga saat mempelajari bagian-bagian tubuh manusia.
"Saatnya praktek." pria itu berkata sambil memperlihatkan sebelah bibirnya yang melengkung.
Setelah absen Dimata pelajaran pertama, kali ini Luzi sudah terduduk dikursi biasa tempatnya. Ia sudah mengeluarkan harta Karun dari dalam tasnya yang tak lain adalah pulpen dan sebuah notebook berukuran sedang.
Tak ada seorang pun yang menyapa Luzi selama ia berada di kampus itu, kecuali orang-orang yang cukup mengganggu baginya. Siapa lagi jika bukan Gino, Eren, dan Bima. Ohiya satu lagi, Abel and the geng. Bahkan dari beribu orang yang berada di kampus itu ternyata masih dapat dihitung dengan jari berapa orang yang ia kenal.
Entah apa yang membuat dosen kedua itu begitu lama masuk ke kelas hingga membuat Luzi bosan dan beberapa kali mengukur meja menggunakan tangannya. "Tadi dia datang begitu pagi, sekarang malah sangat siang." Gumam Luzi.
Padahal jelas-jelas kedua orang itu berbeda tentunya tidak akan memiliki sifat yang sama, apalagi masalah dengan waktu. Ada dua orang di dunia ini jenisnya, tepat waktu dan telat waktu. Kalian yang mana? Sudah pasti Luzi adalah keduanya, kadang ia tepat namun lebih sering telat.
Sekitar lima belas menit lamanya hingga dosen itu datang ke kelas Luzi dan langsung menjelaskan materi.
~~~~~~~~~~~~~~
Diruangan yang sama dengan Eren, seorang pria tengah duduk memperhatikan pria dengan gelar ketua itu dengan tatapan tajam bak pedang yang siap menghunus kapan pun saat ia ingin.
"Bahkan saat aku diam-diam mendekati wanita, dia selalu tiba-tiba menyalip seperti kuda." Gumam Gino yang menahan wajahnya dengan kedua tangan yang saling bertautan.
Tadi saat ia hendak mengambil buku yang tertinggal di dalam mobil Bima, matanya tak sengaja menangkap momen Dimana Eren dan Luzi berangkat bersama ke kampus. Bahkan wanita kusut itu sempat melambaikan tangannya sebelum pergi meninggalkan Eren yang masih terduduk di motor.
Melihat hal itu membuat Gino terasa terbakar seperti saat ia sedang didepan perapian bahkan mungkin lebih. Namun tiba-tiba ia tersadar akan sesuatu yang janggal pada dirinya.
Mengapa dia begitu marah melihat itu semua? Bukankah tipe wanita idamannya adalah wanita yang rapi, wangi, dan pekerja keras, lantas mengapa dia peduli pada kusut? Ya meskipun ia akui bahwa wangi Luzi begitu ia sukai. Tapi itu hanya salah satu dari kriteria wanitanya.
Gino membuka matanya saat tadi ia dengan sengaja menutupnya untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau memikirkan perasaanya saat semua orang menjawab sapaan dari dosen yang masuk ke kelasnya.
Pria dengan mata yang indah itu membuka ranselnya untuk mengambil beberapa barang yang ia butuhkan untuk membantunya mengingat semua yang disampaikan oleh dosen.
1 jam kemudian.....
Didepan kelasnya ia melihat seorang wanita tengah mengintip di jendela. Postur tubuhnya yang kecil dan pakaian nya yang agak besar membuatnya seperti anak kecil yang memakai pakaian orang tuanya. Lucu, sungguh lucu.
Gino pun berjalan menghampiri wanita itu dan berdiri dibelakangnya layaknya seseorang yang berhasil menangkap buruan. "Apa yang kau lihat?" Tanyanya seraya membungkuk mendekati telinga wanita itu.
Kaget karena seseorang tiba-tiba bicara didekat telinganya lantas membuat wanita itu menengok dan bibirnya tidak sengaja menyentuh pipi mulus Gino hingga membuat pria itu kini ikut terkejut dan melirik wanita yang tengah menutup bibir dengan kedua tangannya itu.
"Ya ampun," kaget Luzi dalam hatinya.
"Ih.... Kau ini mengagetkanku!" Teriak Luzi beberapa detik kemudian lalu mendorong Gino hingga hampir jatuh. Beruntung pria itu dapat menyeimbangkan tubuhnya dan kini berdiri tegap.
"Aku hanya mengagetkanmu, tapi kau malah menciumku." Sindir Gino sehingga beberapa mahasiswa yang sedang berlalu lalang itu kini menatap mereka berdua.
"Sttttt..." Luzi segera mendekat ke arah Gino, "Bisakah kau pelankan suaramu itu? Kau membuat mereka salah paham."
"Mereka tidak salah paham, karena itu fakta bahwa kau menci—"
"Diamlah." Luzi segera menutup mulut pria itu sebelum menyelesaikan ucapannya. Meskipun cukup sulit mencapai mulut Gino karena ia memiliki tinggi hampir 180 cm sedangkan Luzi hanya 158 cm membuatnya harus berjinjit.
Gino meraih tanga Luzi Supaya melepaskan tangannya yang menutupi bibirnya itu, "Jauhkan tanganmu dari bibirku! Tangamu itu bau."
Kedua Mata Luzi terbuka, "Kau bilang apa?" lalu membalikkan badannya untuk mencium tangannya yang katanya bau itu.
Gino menggeleng sambil tersenyum, "bodoh, aku bahkan bisa melihat yang kau lakukan itu tanpa merubah posisi." Katanya dalam hati.
"Astaga, apa dia dapat mencium kulitku yang tidak menyentuh sabun pagi ini?" Luzi bertanya dalam hatinya seraya mencium beberapa kali telapak tangannya.
"Dasar pembohong. Tanganku ini sangat wangi tau." Luzi berbalik seraya menyodorkan tangannya supaya Gino mencium baunya.
"Benarkah?" Ragu Gino hingga alis tebal pria itu naik satu.
"Coba saja kau cium." Luzi dengan percaya diri memberikan tangannya supaya pria itu mencium parfum yang baru saja ia semprotkan ke tangannya saat berbalik badan tadi.
Gino mendekatkan wajahnya pada tangan Luzi untuk mencium aroma yang katanya wangi itu. Benar saja, baru saja sebentar mencium aroma itu membuat Gino enggan menjauhkan tangan Luzi dari hidungnya.
"Bagaimana? Wangikan?"
"Tidak ada yang berubah, sama seperti sebelumnya." Ujar Gino hingga membuat Luzi segera menarik tanganya dan kembali mendekatkannya pada hidungnya.
"Hidungmu itu jelek. Masa wangi begini kau tidak menciumnya." Kesal Luzi yang yakin bahwa dirinya itu wangi.
"Tapi memang begitu kenyataanya, tidak ada yang berubah." Ucap Gino lalu berjalan meninggalkan Luzi.
"Hei, tunggu. Aku ada perlu dengan—"
Brugh.......
Little explanation ✍️
• Patung torso adalah karya seni patung yang penampil-annya hanya menampilkan bagian badan, dari dada, pinggang, dan panggul atau patung manusia yang tidak mempunyai kepala, tangan, dan kaki.
ini biasanya digunakan untuk menjelaskan bagian tubuh manusia secara detail.
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen, Karena itu membuat saya semakin semangat🤗