
Kring.....
Kring.....
Kring.....
Bunyi alarm menggema di seluruh ruangan kamar luzi hingga ia terbangun dan bangkit dari tidurnya. Kemudian mematikan alarm itu sambil mengumpulkan nyawanya yang masih berpencar entah dimana.
Tujuh menit berlalu akhirnya seluruh nyawa luzi telah terkumpul. Ia lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mulai bersiap untuk pergi ke kampus.
"Sebaiknya aku tidak menyisir rambutku saat ke kampus." Luzi mengambil ranselnya lalu pergi ke dapur untuk sarapan.
Beberapa jenis makanan terlihat banyak didalam lemari pendingin namun luzi hanya mengambil dua lembar roti tawar dan segelas susu.
Drtttt.......
Luzi merogoh saku celananya lalu memasangkan ponsel itu ke daun telinganya. "Halo,"
"Hei Luzi, bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik. bagaimana denganmu, Sona?" Jawabnya sambil menyantap sarapan.
"Aku sangat baik, dan sekarang aku telah tiba di negaramu tercinta." Ucapnya sambil tertawa.
Luzi pun ikut tertawa."Benarkah? Kapan kau tiba?"
"Kemarin."
"Oh, kemarin. Baiklah,sudah dulu ya Sona, aku harus berangkat sekarang soalnya. Bye." Luzi langsung menutup panggilan itu lalu pergi meninggalkan rumah.
Tidak seperti kemarin, hari ini Luzi berangkat cukup santai. Ia menyapa beberapa orang yang ia lalui dengan ramah dan sesekali ia lah yang disapa oleh orang lain.
"Bunganya sangat cantik seperti diriku." ucap Luzi sambil menyentuh bunga berwarna merah muda itu.
"Percaya diri sekali." Celetuk seorang anak perempuan yang berdiri di samping Luzi.
Luzi pun melirik ke arah anak perempuan itu lalu tersenyum.
"Percaya diri bagi perempuan itu penting, adik kecil." Jawab Luzi halus sambil menyentuh bahu anak perempuan itu.
"Jangan sentuh aku, aku tidak mau tertular oleh rasa tidak tahu diri sepertimu!" Anak perempuan itu menjauhkan tubuhnya dari tangan Luzi lalu pergi berlari meninggalkan wanita dewasa itu.
"Tidak tahu diri?" Luzi mengangkat sebelah alisnya sambil memperhatikan anak perempuan itu.
Tak memperdulikan apa yang dikatakan anak perempuan itu Luzi kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat pemberhentian bus.
Ditempat lain seorang pria terkejut melihat seorang anak perempuan berlari tanpa ada apapun yang mengejar dia dibelakangnya. Penasaran, pria itu pun menghentikan anak itu.
"Apa yang sedang mengejarmu?"tanya pria itu seraya memegang pundak anak perempuan itu.
Dengan napas yang ngos-ngosan anak perempuan itu menjawab, "Aku dikejar seorang wanita tidak tahu diri."
"Wanita tidak tahu diri?"
"Hem, dia berbicara dengan bunga dan mengatakan bahwa dirinya cantik seperti bunga itu. Padahal dia tidak seperti bunga bahkan lebih mirip singa." Ucapnya sambil tersenyum. Pria itupun ikut tersenyum mendengar penjelasan dari anak kecil itu lalu mengelus puncak kepalanya.
"Tidak baik mengatai orang lain seperti itu." pria itu menasehati anak perempuan itu dengan baik.
"Maaf," anak perempuan itu menundukkan kepalanya.
"Gino, Kenapa kau malah bermain bersama Hana?" Tanya seorang wanita yang baru selesai berolahraga.
"Hehe, aku pikir Hana sedang dikejar sesuatu tadi makanya aku menghampirinya." Ucap Gino sambil tersenyum.
"Oh begitu." Ucap wanita itu lalu pergi meninggalkan mereka.
Gino melihat jam ditangannya yang menunjukan pukul delapan lebih dan saatnya untuk ia pergi.
"Hana kakak pergi dulu ya, kau hati-hati!" Ucap Gino kembali berdiri lalu pergi meninggalkan Hana.
"Bye kak Gino." Hana melambaikan tangannya begitupun dengan Gino yang membalas lambaian anak itu.
Setibanya di kampus Zero berkeliling sebentar melihat setiap penjuru ruangan yang ada di kampusnya. Ia berjalan-jalan sambil melihat keatas mencari cctv yang terpampang disetiap sudut.
"Rekaman apa?"
Seseorang yang berkata itu lalu berjalan mendekati Zero yang kini menghadap ke arahnya.
"Anu.... Itu..... Emmmm.." Luzi mendadak gagap karena bingung harus menjawab apa.
"Itu apa?" Pria itu kini berhenti didepan Luzi sambil menatapnya dari atas sampai bawah.
Luzi belum menjawab pertanyaan orang itu. Pandangannya kini beralih pada penampilan pria sekitar 35 tahun itu yang rapih dan tidak seperti mahasiswa, sepertinya pria itu salah satu dosen di kampus ini yang artinya juga tersangka untuk Luzi.
"Anu... Itu pak, sa-ya mencari ka-kaos kaki saya yang hilang kemarin." Jawab Luzi tersenyum.
"Yakin hanya kaos kaki?" Dosen itu memajukan wajahnya sedikit mendekat ke arah Luzi.
"Ya-yakin, pak." Luzi mengangguk cepat.
"Pagi pak." Suara seseorang membuat dua orang itu menoleh.
"Pa-pagi." Jawab pria itu lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Sebelum pergi Zero melihat sekilas papan di atas saku yang bertuliskan RENDI. Yap benar, pria tadi yang bertanya pada Luzi adalah Rendi, salah satu dosen di universitas GAZ.
"Apa yang kau lakukan dengan pria itu?" Tanya pria yang tadi menyapa dosen Rendi setelah mendekatkan dirinya pada Luzi.
"Tidak ada." Jawab Luzi sambil menggelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan pria yang tidak dikenali nya itu.
"Jangan terlalu dekat dengannya!" Ucap pria itu tiba-tiba hingga membuat Luzi menghentikan langkahnya.
Tak mau berlama-lama ditempat itu, Luzi lantas pergi tanpa menghiraukan ucapan pria itu.
"Wanita itu yang semalam tidak memakai sepatu kan?" Ujar pria itu.
.
.
.
.
.