
"Anu... Ada yang perlu saya bantu?" Ucap seorang pelayan toko yang tadi Luzi datangi.
Setelah mengetahui bahwa baretnya tidak ada dikepalanya, Luzi segera berlari kembali masuk ke pasar malam itu untuk mengambilnya, karena yakin tertinggal di tempat itu. Tentu saja ia kembali membayar saat akan masuk ke dalam lapangan tempat pasar malam itu.
"Aku mencari baret, apakah ada disini?" Tanya Luzi.
"Anu..... maaf, kami hanya menjual pakaian hangat dan pakaian untuk tidur. Kami tidak menjual baret," Tutur seorang wanita yang sepertinya salah paham dengan maksud pertanyaan Luzi.
"Bukan, bukan begitu. Aku mencari baret polisi yang tertinggal disini, apa kau menemukannya?" Ralat Luzi.
"Oh begitu," ucap sang wanita dan membuat Luzi tersenyum karena akhirnya ia menemukan baretnya dan tak perlu kembali ke bengkel untuk mencari baretnya.
"Maaf, kami tidak menemukan baret yang kau maksud." lanjut wanita itu hingga senyuman yang semula berkembang kini perlahan turun.
"Begitu ya. Terimakasih atas bantuannya, Maaf mengganggu waktu kerjamu." Ucap Luzi lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Ternyata dugaannya benar jika ia harus kembali ke bengkel itu karena tebakan pertamanya salah mengenai tempat baret itu tertinggal.
Luzi bersandar pada pilar lampu jalan karena ia begitu enggan kembali berjalan sejauh dua kilometer untuk mengambil baret kebanggaannya. Lagipula hari sudah mulai menggelap dan ia harus segera pulang untuk mempersiapkan keperluannya untuk besok ke kampus.
"Semoga montir itu menemukannya dan menyimpannya." Harap Luzi.
Ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju stasiun kereta. Dipinggir jalan, beruntung banyak pedagang makanan dan beberapa minuman hingga wanita itu bisa mengisi ulang energinya untuk sampai di rumahnya.
Kini ditangannya sudah ada empat macam makanan. Ada roti bertabur gula halus yang masih hangat, kentang goreng dengan rasa keju, jagung bakar, dan minuman hangat.
Dengan segera ia berjalan mendekati sebuah kursi dibawah Lampu jalanan yang masih tersamarkan cahayanya oleh hari yang belum sepenuhnya gelap itu dan segera mendaratkan tubuhnya untuk menikmati makanan yang sudah ia beli.
Luzi meminum minuman hangat terlebih dahulu untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan namun keringat masih mengalir dibeberapa titik di tubuhnya.
"Huh...huhhh..." Luzi meniup kepulan asap pada jagung bakar miliknya sebelum menyantapnya.
"Enak," pujinya lalu memakannya kembali hingga habis. Kini ia beralih untuk memakan roti bertabur gula halus diatasnya.
"Gulanya kurang manis," ucapnya namun ia tetap memakanannya hingga habis.
Usai mengganjal perutnya dengan makanan dan minuman yang ia beli, Luzi kembali melanjutkan perjalanannya dengan kaki telanjang.
"Astaga," Luzi kembali menghampiri kursi yang tadi ia duduki. " Kau hampir tertinggal juga." Ucapnya dan mengambil sepatu yang ia letakan diatas jalanan itu.
"Kenapa aku tidak beli sendal di pasar malam?" Luzi baru menyadari bahwa dirinya bisa membeli sendal dan tak perlu repot-repot jalan tanpa alas kaki.
"Yasudah, ini sudah terjadi. Aku tidak mau kembali lagi, tenagaku sudah hampir habis untuk pulang." Ucapnya dan kembali berjalan sekitar satu kilometer hingga akhirnya ia sampai di stasiun kereta.
Mengenakan kaus berwarna hitam dengan lengan pendek, serta celana panjang berwarna putih Gino berjalan sambil menggosok rambutnya supaya lebih cepat kering.
Ia mengambil sebuah sisir lalu menghidupkan hairdryer supaya tidak memakan waktu lama untuk ia dapat menyisir rambutnya.
Dengan parfum yang biasa ia gunakan sehari-hari ia menyemprotkannya ke nadi tangannya dan belakang telinga, tak lupa ia juga menyemprotkan cairan berbau harum itu pada pakaiannya.
Siap untuk pergi, Gino mengambil jaket berwarna hitam yang cukup hangat untuk ia gunakan saat berkendara.
"Mau kemana?" Sapa mamanya yang tengah duduk di sofa ruang tamu sambil membaca tablet ditangannya.
"CK, padahal matanya pokus pada layar." Gerutu Gino dalam hatinya.
"Keluar sebentar." Jawab Gino lalu pergi ke garasi untuk mengambil helm dan motornya.
"Jangan pulang jika hujan turun!" Teriak Rena. Entah didengar atau tidak oleh Gino, namun ia merasa bahwa teriakannya cukup keras hingga pasti akan didengar oleh anaknya itu.
Gino memasang helmnya lalu melajukan motornya pelan karena ia ingin menikmati hari yang perlahan mulai menggelap itu.
Lambaian seorang gadis kecil membuat Gino menghentikan motornya lalu membuka kaca helmnya. "Kau darimana sore-sore begini sendirian?" Tanya Gino.
Gadis itu menatap Gino yang masih duduk di motornya, " Kak Gino juga mau kemana sore-sore begini sendirian?" Gadis kecil itu malah balik bertanya.
Gino tersenyum mendengar gadis kecil yang ia kenal itu lalu mematikan mesin motornya. " Aku ada perlu, dan kau darimana, Hana?"
"Aku dari rumah Bella." Jawabnya
"Kau bermain sampai hari mau berakhir? Kemana mamamu?"
"Tidak, aku tidak bermain. Ibuku menyuruh mengantarkan pesanan ibunya Bella kerumahnya." Papar Gadis bernama Hana itu.
"Oh, kau mau ku antar?"
"Boleh." Jawab Hana lalu menaiki motor sport hitam milik Gino.
Gino memutar balik motornya untuk mengantarkan gadis kecil yang berjalan seorang diri itu pulang kerumahnya. Tak butuh waktu lama bagi dirinya untuk sampai dihalaman rumah Hana.
"Terimakasih, Kak Gino." Ucap Hana setelah ia turun dari motor. Gadis kecil berusia sembilan tahun itu lantas masuk kedalam rumahnya.
"Kau akhirnya pulang," sambut Mama Hana setelah ia membuka pintu rumahnya yang diketuk.
"Hem, aku diantar oleh pangeranku." Hana tersenyum usai mengatakan itu.
"Siapa?" Mama Hana mengedarkan pandangannya dan mendapati motor sport hitam berhenti didepan rumahnya.
Tak salah lagi, pangeran yang dimaksud putrinya itu adalah Gino. "Terimakasih, Gin." Teriak Mama Hana.
Gino pun mengangguk lalu kembali melajukan motornya menuju tujuan awalnya.
Tak secepat seperti sebelumnya, kali ini Gino harus menempuh waktu sekitar empat puluh lima menit untuk sampai ke tempat tujuannya dikarenakan jalanan yang mulai macet akibat banyaknya orang-orang yang hendak pulang ke rumahnya masing-masing setelah seharian bekerja.
Gino menghentikan motornya saat tiba didepan sebuah rumah satu lantai berukuran sedang. Ia lalu membuka helmnya dan berjalan untuk mengetuk pintu rumah itu.
Tok....
Tok.....
Tok....
"Sepertinya tidak ada orang dirumah," Gumam Gino. Ia lalu merogoh saku jaketnya mengambil benda pipih yang tak pernah ia tinggalkan itu.
Mencari kontak telepon sang pemilik rumah, Gino memanggilnya beberapa kali namun hasilnya sama. Yaitu ponselnya tidak aktif.
"Ini sudah hampir malam, dia pasti akan pulang sebentar lagi." Ucap Gino. Kini ia memilih kembali ke tempat sepeda motornya berada untuk duduk menanti kedatangan sang pemilik rumah.
Empat puluh lima menit berlalu dan Gino masih setia berdiam diri di depan rumah itu menunggu. Ia melihat layar ponselnya dan sudah menunjukan pukul tujuh malam.
Punggung seorang wanita dengan rambut rapi lurus diatas bahu berdiri di depan pintu rumah itu untuk membuka kunci. Melihat orang itu, Gino lantas menghampirinya.
"Apa kau teman pemilik rumah ini?" Tanya Gino.
Wanita itu berbalik untuk melihat orang yang berbicara padanya, "Gino?" Ucapnya terkejut.
Gino menatap wanita itu dari atas hingga bawah, "*Luzi?" Batinnya*.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Luzi kemudian.
"Tentu saja menepati janjiku kemarin." Jelas Gino.
"Janji apa?" Luzi menautkan kedua alisnya untuk berpikir.
"Kau lupa?" Gino merogoh sakunya untuk mengambil benda persegi panjang miliknya.
"*Astaga, aku lupa..." Batin Luzi*.
"Masuklah, aku akan memasak makanannya setelah membersihkan diri." Ucap Luzi. Meskipun ia merasa tubuhnya begitu lelah, tapi ia tidak mungkin menyuruh pria itu untuk pulang ke rumah dan kembali lagi besok.
Gino duduk di sofa ruang tamu sementara Luzi masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri. Dikamar Luzi melepaskan mantel yang ia beli dari pasar malam dan baru tersadar saat menatap cermin jika dirinya masih mengenakan seragam polisi saat bersama Gino tadi. Beruntung mantel itu menutupinya dan hanya menyisakan roknya saja yang terlihat.
Sepuluh menit berlalu akhirnya Luzi keluar dari kamarnya dengan handuk yang membelit kepalanya.
"Maaf membuatmu menunggu lama, aku akan masak sekarang." Ujar Luzi yang berjalan menuju dapur.
"Tidak usah, semuanya sudah ada disini." Jawab Gino.
Luzi kembali berjalan mundur untuk mencerna maksud Gino. Apakah dapat disebut makan malam tanpa satupun makanan?
Ternyata sudah banyak jenis makanan tersedia di meja ruang tamu. Ada sup, nasi, ayam, aneka olahan seafood juga tak lupa beberapa kaleng soda.
"Kau memasak semuanya?" Tanya Luzi ketika ia mendaratkan tubuhnya untuk duduk di ruang tamu.
"Tidak." Jawab Gino singkat.
"Lalu semua ini?" Heran Luzi.
"Aku memesannya karena berpikir kau tidak akan pulang dan aku akan kelaparan di luar sana." Jelas Gino.
Padahal sebenarnya pria itu memesan saat ia melihat Luzi didepan pintu rumahnya.
"Jadi kau sudah lama disini?"
"Tidak."
Luzi menghembuskan nafasnya kasar. "Makanlah duluan, aku akan segera kembali." Ucap Luzi lalu bangkit dan pergi ke kamarnya.
Pria itu menuruti apa yang dikatakan Luzi, ia mulai menyantap hidangan yang tersedia disana.
Sementara dikamar seorang gadis tengah berdiri didepan cermin untuk melihat penampilan barunya dengan rambut sebahu. Setelah ia keluar dari stasiun, Luzi melewati tempat potong rambut dan setelah lama berpikir akhirnya ia mampir untuk memperbaiki rambutnya yang panjang sebelah karena ulah Abel.
Itulah sebabnya kenapa ia lama tiba dirumahnya. Usai mengeringkan rambutnya, Luzi kembali keruang tamu untuk menemani Gino makan malam.
"Kau belum makan?" Tanya Luzi saat ia mendapati bahwa pria itu tengah memainkan ponselnya dan membiarkan makanannya.
"Sudah. Tapi ada sesuatu yang kurang, jadi aku pesan lagi." Ucap Gino.
Luzi terkejut mendengar ucapan Gino, "makanan segini banyaknya kau bilang kurang?" Luzi menggeleng pelan.
"Bukan makanan, tapi minuman." Ucap Gino dan kembali meletakan ponselnya diatas meja.
"Oh.."
Kedua orang itu kini menyantap makanan yang terhidang didepan mereka. Sesekali Luzi bertanya kepada Gino namun pria itu selalu menjawab singkat.
"Apa Eren memiliki kekasih?" Celetuk Luzi hingga Gino yang akan menyuapi dirinya berhenti dan menatap Luzi.
"Kau menyukainya?" Gino malah balik bertanya lalu melanjutkan niatnya untuk menyuapi dirinya sendiri.
"Eh?"
"Ternyata kau memang menyukainya." Ucap Gino dengan senyuman sebelah bibirnya. "Berhati-hatilah! dia memang baik, tapi kekasihnya tidak diketahui." Lanjutnya.
"Tidak diketahui? Maksudmu?" Luzi semakin penasaran.
Tok.....
Tok......
Suara ketukan pintu membuat kedua orang itu sama-sama menoleh ke arah pintu.
"Itu pasti pesananmu." Ujar Luzi pada Gino.
Gino pun bangkit dari duduknya untuk melihat siapa sosok dibalik pintu. Seorang pria berdiri sambil membawa sebuah kotak berukuran sedang ditangannya.
"Dengan tuan Gino? "Tanya pria itu dan dijawab anggukan oleh Gino. "Ini pesanan anda tuan." Lanjut pria pengirim itu.
"Terimakasih." Ucap Gino lalu membawa kotak itu ke ruang tamu.
Satu botol wine tersedia didalam kotak itu saat Gino membukanya. "Kau mau minum dirumahku?" Tanya Luzi setelah ia mengintip isi kotak yang dibawa pria itu.
"Kenapa memangnya? Kau kan bukan anak sekolahan." Gino berkata seraya mengeluarkan wine itu dari dalam kotak.
"CK," gerutu Luzi. Ia lalu bangkit untuk mengambil gelas kosong dari dapur.
"Kenapa kau bawa dua gelas?"
"Memangnya kenapa? Tidak boleh?" Sembur Luzi.
"Tidak masalah." Gino lantas menuangkan minuman berwarna ungu itu kedalam dua gelas yang Luzi bawa bergantian.
"Cheers!" Ucap Gino mengangkat gelasnya. Namun kenyataannya tak semanis harapan, ternyata Luzi langsung meneguk minuman itu setelah Gino selesai menuangnya.
"Ah..." Luzi menyimpan gelas yang kembali kosong itu ke atas meja.
"*Dia langsung meneguknya*?" Batin Gino yang masih memegang gelas berisi wine itu.
"Ternyata menyenangkan minum sedikit saat seluruh badan merasa tidak enak." Celetuk Luzi.
"Habiskan semua makanannya. Aku membelinya untukmu!" Ucap Gino kemudian meneguk perlahan minumannya.
"Aku sudah kenyang. Simpan saja sisanya, aku mau minum lagi!" Luzi menyodorkan gelasnya kepada Gino meminta pria itu agar mengisinya kembali.
Gino sedikit ragu untuk kembali mengisi gelas Luzi. Namun karena wanita itu terus-menerus memintanya, akhinya Gino menuangkan sedikit lagi minuman itu kedalam gelas Luzi.
"Tidak ada lagi minuman, ini yang terakhir!" Tegas Gino.