ZERO AND GINO

ZERO AND GINO
Salah Tangkap



Hembusan angin malam yang dingin menerpa rambut singa Zero yang tengah berjalan seorang diri. Ia berjalan sambil memainkan kakinya hingga sesekali melompat dan menendang angin.


Kedua tangannya sengaja ia masukan kedalam saku jaketnya karena dinginnya malam itu seakan menusuk hingga kedalam tulangnya.


"Huhhh malam ini sungguh dingin." Ucapnya seraya melihat searah langit yang menggelap dan dipenuhi oleh beribu bintang yang bersinar. its beautiful night, Zero mematung mengagumi ciptaan tuhan yang begitu indahnya untuk dinikmati.


Ddrrttttt....


Zero mengambil ponsel di sakunya lalu melihat layar yang menampilkan sebuah panggilan.


"Halo, Zero here!" Ucap Zero. Jika wanita itu berbicara menggunakan kode nama berarti ia tengah berbicara dengan atasan atau rekan sesama profesinya.


"Bagaimana?"


"Semua sudut ditempat itu dipenuhi oleh cctv, sudah pasti semuanya akan terekam." Jelas Zero melaporkan semua yang ia liat di kampus itu.


"Hanya saja aku.."


"Tolong.... Tolong... Siapapun tolong tangkap orang itu. Dia pencuri!" Teriak seorang wanita yang entah berapa dimana.


"Aku harus pergi, nanti sisanya aku kirimkan." ucap Zero mengakhiri panggilan itu.


Zero langsung berlari menuju sumber suara. ia memutar tubuhnya saat di perempatan jalan lalu kembali berlari kearah kanan dirinya. Saat ditengah perjalanan dan melihat seorang wanita tengah berdiri Zero melewati Seseorang yang mengenakan pakaian tertutup hingga wajahnya tak terlihat. Hal itu pun membuat Zero curiga dan langsung kembali berbalik memegang pundak orang itu lalu terjadi perkelahian antara mereka.


Meski memiliki pengalaman dalam seni bela diri Zero tak selalu beruntung. Terkadang ia juga harus merasakan sakitnya terkena pukulan yang cukup keras hingga meninggalkan bebas ditubuhnya atau bahkan terbanting hingga tulangnya seakan remuk.


Pencuri itu kembali berlari setelah berhasil lepas dari cengkraman Zero, namun wanita itu tak menyerah dan kembali mengejar pencuri itu hingga menjauh dari tempat mereka bertemu tadi.


"Aww...."Zero memegang tangannya yang membentur tiang lampu akibat dihempas oleh orang itu.


Untungnya tas milik wanita yang tadi berteriak berhasil ia rebut dari pencuri itu. Pencuri itu kemudian berlari meninggalkan Zero yang tersungkur dengan tangan kosong.


Zero merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. "Halo, seorang pencuri baru saja berlari kearah Utara dari gang Z. Ia sepertinya seorang pria dan memakai Hoodie berwarna biru. Tolong segera tangkap karena dia sangat meresahkan." Ucapnya melapor pada petugas.


Setelah melaporkan tindak kriminal yang baru terjadi Zero kembali memasukkan ponselnya kedalam saku lalu mencoba bangkit. Ia berjalan ketempat tadi wanita itu berdiri sambil merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Ini tasnya, lain kali hati-hati!" Ucap Zero menyerahkan tas yang telah berhasil ia rebut dari pencuri.


Wanita itu terdiam dengan kedua alisnya yang saling bertautan, "Tas siapa ini?"


"Bukankah ini tas yang dicuri?" Zero terkejut mendengar ucapan wanita itu dan malah menyerahkan kembali tas itu.


Wanita itu menggeleng, "Bukan. Yang dicuri dariku bukan tas, tapi makanan kucing."


"Apa!" Kedua mata Zero melebar tak percaya setelah mendengar pernyataan wanita itu. Lebih sayangnya lagi adalah keringatnya yang keluar akibat berkelahi dengan pencuri itu sia-sia. Belum lagi ia tidak tahu siapa pemilik sebenarnya tas itu.


"Jadi hanya karena makanan kucing kau sampai teriak-teriak?"


"Hei! meskipun hanya makanan kucing jika dijual itu akan menghasilkan uang. Lagian siapa juga yang menyuruhmu menangkap pencuri tas!" Omel wanita yang ternyata penjual makanan hewan itu lalu pergi masuk kedalam meninggalkan Zero.


"Hah? Aku yang ingin membantunya tapi malah kena marah. Astaga kegilaan apalagi ini." Umpat Zero.


Zero pun meninggalkan toko makanan kucing itu dengan rasa malu sambil membawa tas yang ia rebut tadi karena salah menangkap orang dan jadi bahan omongan orang-orang yang berkumpul.


"kasihan dia, niatnya ingin membantu malah kena omel."


Tak peduli apa yang tengah dibicarakan orang-orang, Luzi berlalu begitu saja melewati mereka untuk pulang dan berencana akan mengembalikan tas itu besok pagi. Karena malam itu seluruh badannya merasakan sakit dan juga perasaannya masih kacau akibat kejadian tadi di atap gedung.


Ditempat berbeda di sebuah ruangan


seorang laki-laki dengan setelan casual sedang melihat-lihat beberapa gambar seorang wanita dibawah sorot lampu. Ia memperhatikan setiap gambar cukup lama hingga akhirnya ia memisahkan satu gambar wanita berambut panjang blonde yang rapi.


"Kau mungkin baru, tapi giliranmu akan segera tiba." Pria itu berbicara dengan nada dingin diikuti sebelah bibir yang menyungging.


Ia lalu menyimpan kembali gambar-gambar wanita yang tidak ia pilih kedalam sebuah map berwarna kuning.


"Berapa banyak yang akan aku dapatkan darimu?" Ucap pria itu lalu menyimpan gambar wanita berambut blonde itu ke tempat yang berbeda dari sebelumnya.




Hari kini telah berganti, kicauan burung yang saling bersautan menambah suasana alami di pagi hari. cahaya matahari yang masuk melalui celah jendela menyoroti wajah Zero yang tertidur dilantai dan masih memakai pakaian yang sama seperti semalam serta sepatu yang belum terlepas.



Menit berikutnya wanita itu menggerakkan tubuhnya lalu perlahan membuka matanya. Seraya mengumpulkan seluruh nyawanya wanita itu melihat sekeliling ruangan yang nampak seperti bukan kamarnya.



"Astaga, apa aku tidur berjalan?kenapa bisa tiba-tiba bangun ada diruang tamu?" ia bangkit dari tidurnya.



"Aw ... " Zero melirik benda yang ia senggol yang ternyata adalah tas wanita berbahan kulit yang semalam ia bawa. Anehnya, mengapa tangannya begitu sakit hanya karena menyenggol sebuah tas?



Dengan perlahan Zero membuka jaket yang menutupi lengannya itu untuk melihat seberapa parah lukanya. Ternyata terdapat luka memar di lengannya itu.



"CK, jika semalam aku kompres dengan es pasti tidak akan sewarna dengan ubi begini." Desisnya seraya mengambil ponsel untuk melihat jam berapa sekarang.



Waktu baru menunjukan pukul enam pagi Zero pun melepas tali sepatunya lalu bangkit untuk membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke kampus sekalian mencari pemilik tas itu.



.


.


.


.


.