
Gino menatap layar ponselnya. Sudah hampir sepuluh menit sejak ia menelpon Luzi namun wanita itu belum juga menampakkan wajahnya.
Entah kemana perginya wanita berambut kusut itu hingga ia begitu lama untuk tiba di parkiran. Gino kembali menekan nomor Luzi untuk memastikan wanita itu sudah dalam perjalanan menuju tempat parkir.
Namun sebelum ia sempat menekan gambar telepon untuk memanggil, sebuah botol kaleng minuman soda tiba-tiba berada didepan wajahnya hingga menghalangi pandangannya.
Gino menatap kaleng minuman itu lalu kemudian melirik pemilik tangan yang tengah menggenggam kaleng itu.
"Untukmu," ucap seseorang yang tengah meminum minuman kaleng dengan tangannya yang satu lagi yang tak lain adalah Luzi.
Bukannya mengambil minuman itu, Gino malah menarik Luzi hingga jarak mereka begitu dekat bahkan Luzi dapat merasakan detak jantung Gino karena kepalanya saat itu tepat berada didada pria tinggi itu.
Luzi mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Gino, namun bukannya wajah yang matanya itu lihat. Melainkan dagu dan lubang hidung milik pria itu.
"Untung kau tidak ditabrak olehnya." Ucap Gino setelah mundur dan memberi jarak pada Luzi.
"Jadi tadi ada motor lewat?" Tanya Luzi yang kini mengantar kepergian motor yang hendak menabraknya.
"Kenapa aku tidak dengar suaranya?" Gumam Luzi yang menghadap ke arah Gino kembali.
"Hem, entah kenapa pria itu membawa motornya begitu pinggir hingga hampir menabrakmu. Untuk aku segera menarikmu," tutur Gino.
"Oh begitu ya, Kupikir kau menarikku karena ingin—"
Gino tiba-tiba kembali mendekat dan memeluk Luzi yang kini terpaku dengan kedua tangan masih memegang botol minuman kaleng. Matanya terbuka dan wajahnya tiba-tiba memerah karena terkejut oleh Gino yang kini tengah mendekapnya.
"Memelukmu seperti ini?" Gino melanjutkan ucapan Luzi yang terpotong tadi.
Pria itu memejamkan matanya untuk merasakan setiap hembusan napasnya yang bercampur dengan wangi yang dihasilkan dari parfum wanita pendek yang berada di dekapannya.
"Kenapa kau memelukku?" Tanya Luzi yang masih mematung dalam dekapan Gino dengan wajah yang terangkat.
Gino segera membuka matanya, namun tangannya masih berada dipunggung Luzi. "kenapa ya?" Gumamnya dalam hati.
Sadar akan tindakannya membuat Gino lantas melepaskan pelukannya. "Aku hanya...."
"Hanya apa?" Luzi menyela Gino karena tak sabar mendengar alasan pria itu memeluk dirinya.
"Hanya ingin minum." Elak Gino dan segera mengambil satu kaleng minuman dari tangan Luzi kemudian membukanya untuk ia minum.
"Alasanmu tidak masuk akal, Ingin minum tapi kau malah memeluk orang." Ledek Luzi dan ikut meneguk minumannya.
Matanya kini bergantian melihat kiri dan kanannya Gino mencari seseorang yang selalu berada disebelah pria itu, "kemana dia?" Tanya Luzi setelah tak berhasil menemukan hal yang dicarinya.
"Dia pulang duluan." Jawab Gino yang paham akan pertanyaan Luzi yang mencari Bima.
"Tumben, bukannya kalian selalu berdua karena kalian ini couple?" Ucap Luzi yang kini melihat kearah Gino yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu dengan couple?"
"Maksudku kalian itu tak terpisahkan alias selalu bersama." Luzi meralat ucapannya karena tatapan mata Gino seperti jarum yang perlahan menusuk matanya yang tengah melihat ke arahnya.
"Kita tidak pernah bersama, dia selalu mengikutiku!" Tegas Gino.
"CK, itu sama saja." Celetuk Luzi.
"Kau bilang apa?" Tanya Gino yang mendengar bahwa wanita itu baru saja bicara.
"Tidak ada," Ucap Luzi dengan kepala yang ikut menggeleng. "Anu, sebenarnya kenapa kau menyuruhku kemari?" Tanya Luzi gugup karena takut Gino akan memarahinya sebab ia berkelahi dengan kekasihnya.
"Katakan, kenapa menyuruhku kembali ke tempat ini?" Tanya Luzi setelah Gino duduk disampingnya. Wanita itu penasaran dengan raut wajah Gino yang datar tidak seperti sedang menahan amarah karena dirinya telah melawan pujaan hati pria itu.
"Apa saja yang Abel lakukan padamu tadi?" Tanya Gino karena ia menyaksikan semua kejadian itu saat Luzi sudah dipegangi oleh Rima dan Lia.
Luzi terkejut mendengar pertanyaan Gino yang malah menanyakan keadaan dirinya secara tidak langsung, ia kini malah melihat bola mata Gino yang tengah menatap dirinya menunggu jawaban.
"Hei, Jawab!" Gino menjentikkan jarinya untuk membuat Luzi kembali pokus pada pertanyaannya.
"Mmm, Hanya memperingatkan supaya tidak dekat-dekat denganmu," Luzi berkata Jujur karena memang itu tujuan utama ketiga orang itu menemuinya.
"Yang lain?"
Luzi menggeleng, "tidak ada."
"Lalu rambutmu? Rontok?" Ucap Gino yang sedikit kesal karena Luzi begitu naif dan begitu mudah melupakan kejadian tadi.
"Oh, iya Rambutku." Luzi segera memegang rambutnya yang telah dipotong itu dan melihatnya dengan kasihan.
"Astaga, wanita ini sungguh aneh.," Gumam Gino.
"Hanya itu?" Gino mencoba memastikan kembali hal yang terjadi pada wanita yang begitu sayang pada rambut kusutnya yang bahkan menurutnya jelek.
"Mmmm, apalagi ya?...." Luzi menatap ke sembarang arah mencoba mengingat-ingat apa saja yang dikatakan oleh ketiga orang itu padanya.
"Sepertinya hanya itu," ucap Luzi seraya kembali meminum soda dari kaleng miliknya.
"Oh iya, dia juga mengaku jika kau adalah mantan kekasihnya." Lanjut Luzi setelah mengingat ucapan salah seorang teman Abel.
"Dia bukan mantan kekasihku." Tegas Gino.
"Lalu? Kekasihmu?" Tebak Luzi.
Gino menghela napasnya, "Bukan!" Sergah Pria itu. Ia kini meneguk soda dari kaleng minumannya.
"Kau..."
"Diamlah." Ucap Gino kesal.
Ucapan Gino yang cukup kencang membuat Luzi seketika menutup mulutnya.
Ia kini memilih menatap ke tempat lain daripada harus menatap Gino. meskipun pria itu lebih enak dipandang dari pada sekitarnya, namun Luzi memilih melihat kendaraan-kendaraan yang terparkir dengan rapi.
Drrtttt..
Gino dan Luzi sama-sama mengambil ponsel untuk mengecek darimana asal bunyi suara itu.
"Milikku yang bunyi," ucap Luzi tersenyum.
"Astaga..." Panik Luzi dalam hatinya namun ia masih dapat mengendalikan ekspresinya.
"Halo..."
"Siap. Saya langsung kesana!" Ucap Luzi dan segera mengakhiri panggilan itu.
"Aku harus pergi, Sampai jumpa lain hari." Luzi segera berlari meninggalkan area kampus.